21/12/2006

Daripada Impor; Venezuela Meluncurkan 12 Perusahaan Baru Milik Negara

Ditulis Oleh Gregory Wilpert
Jumat, 10 Pebruari 2006

Caracas, Venezuela, 2 Februari 2006—Presiden Venezuela Hugo Chavez, Senin lalu, memperkenalkan jajaran direktur sebuah BUMN, yang akan mengontrol 12 perusahaan-perusahaan industri baru yang akan menggantikan sebagian besar produk yang diimpor Venezuela saat ini. Industri-industri tersebut akan meliputi hampir semua kebutuhan dasar, mulai dari kertas; plat alumunium; tekstil, pipa-pipa baja; serta komponen-komponen produksi. BUMN tersebut akan diberi nama Coniba—dalam bahasa Spanyol, yang merupakan kepanjangan dari Perusahaan Nasional Industri-industri Dasar.

Coniba akan didanai oleh investasi senilai $3,5 Milyar, yang berasal dari Dana Pembangunan Nasional (FUNDEN) milik negara. Sumber dana Funden adalah sebagian cadangan mata uang asing milik Bank Sentral. Menurut Victor Alvarez, Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan Venezuela, BUMN tersebut akan menciptakan 20.000 lapangan kerja langsung maupun tak langsung.

Pendirian Coniba oleh Pemerintah Chavez, "merupakan bagian dari bentuk pemerataan minyak dan kebijakan endogenous development,", ujar Alvarez ketika peresmian BUMN tersebut.

Endogeneous development (pembangunan Endogeneous) adalah istilah yang selama ini digunakan Pemerintahan Chavez untuk menggambarkan kewajiban membangun ekonomi negeri "dari dalam", yakni, tanpa mengandalkan/mengutamakan, para investor dari luar. Rencana "penyebarluasan minyak,"—sebuah pernyataan yang dipinjam dari tahun-tahun bom minyak Venezuela di era 1970an—merupakan suatu rencana pemanfaatan kekayaan minyak negeri untuk investasi serta diversifikasi ekonomi di (dalam) negeri.

Ke-12 perusahaan yang akan dimiliki oleh Coniba tersebut,akan diproyeksikan sebagai Perusahaan Produksi Sosial—Social Production Enterprises (EPS), oleh karenanya, ditujukan untuk tidak eksploitatif dan berorientasi untuk perolehan keuntungan (semata). Menurut Alvarez, sebaliknya, "bekerja (dalam perusahaan-perusahaan ini) akan menghilangkan karakter alienasi (kaum pekerja dengan barang yang dihasilkannya--pent) serta akan menjadi sebuah unsur (pembentuk) kesadaran." Juga, "produk-produknya akan dijual dengan harga solidaritas. Barang-barang tersebut akan betul-betul diorientasikan menuju pembangunan endogeneous (dari dalam)."

Presiden Chavez, yang juga berbicara ketika pelantikan, menyatakan, Perusahaan Produksi Sosial, seperti (perusahaan-perusahaan) di dalam Coniba, akan bekerja menuju penghapusan hirarki dan ketidaksetaraan di tempat kerja, yang bertolak belakang dengan kapitalisme, dimana seseorang mendiskriminasi berbasiskan jenis pekerjaan yang seseorang (lain) lakukan. "Kita semua setara… tak seharusnya terdapat tingkatan hak-hak istimewa di tempat kerja," ujar Chavez.

Alvarez menjelaskan, memang, tujuan utama masing-masing perusahaan baru tersebut adalah menghasilkan produk-produk industri yang saat ini masih diimpor, yang bahan mentahnya dimiliki Venezuela. Oleh karena itulah, mereka akan menyokong energi, konstruksi, infrastruktur, rel kereta, dan industri-industri tekstil milik negara.

Venezuela saat ini mengimpor hampir 70% produk-produk konsumsi, sebagian besar karena besarnya pendapatan minyak Venezuela membuatnya relatif lebih mudah untuk membeli lewat impor, juga karena lebih mahal bila memproduksinya di dalam negeri. Pemerintah Chavez sudah berulang kali menyatakan bahwa memang sudah menjadi komitmen pemerintah untuk mendiversifikasi ekonomi dalam negeri. Sementara ekspor non-tradisional, seperti produk pertanian, sudah meningkat dalam dua tahun terakhir. Meningkatnya pendapatan minyak membuat perbandingan antara ekspor non-tradisional dan minyak sedikit banyaknya bisa dikatakan sama.

Kemarin, dalam salah satu langkah kongritnya untuk mengurangi ketergantunganVenezuela terhadap impor, Menteri Alvarez, mengumumkan bahwa negeri itu akan mengurangi ekspor alumunium hingga nol di tahun 2012, sehingga alumunium yang diproduksi di dalam negeri dapat digunakan untuk produk yang (juga) diolah di dalam negeri

Menurut Associated Press Alvarez menegaskan, "tujuan-nya adalah kami tidak akan mengekspor se-gram aluminium atau sekilogram kayu pun,"ditambahkannya "di tahun 2012, 2013, kami harus memroses 100% bahan mentah kami, produk dasar yang kami miliki di negeri ini." "Target kami untuk Venezuela adalah, dalam enam tahun kedepan, mendeklarasikan nya sebagai sebuah negeri industri." (zely)

Diterjemahkan dari Venezuelanalysis.com

1 comment:

Anonymous said...

kalau baca berita soal Venezuela di luar Venezuela sendiri, berkesan sekali kalau Chavez itu patut dicontoh. tetapi, sayangnya semua perkataan Chavez (buat saya pribadi Chavez adalah seorang populista) sampai saat ini berbeda dengan faktanya.

ingin membuat Venezuela menjadi negara industri? hhm.. terlalu muluk kedengarannya di kuping saya. karena untuk mendapatkan produk pangan yang masyarakat butuhkan; seperti susu, telur, gula, dan kacang merah - saja susah sekali. sangat aneh, karena banyak sapi di Venezuela, tebu juga tumbuh, perternakan ayam juga ada dan kacang merah juga tidak susah untuk ditanam.

makanya agak heran, kenapa bercermin dari Venezuela, Kuba? kehidupan di Venezuela kadang seperti di negara komunis.