28/07/2015

Chávez dan Negara Komunal Tentang Transisi ke Sosialisme di Venezuela (2)




Monthly Review, Minggu, 7 Juni 2015

silahkan baca juga Chávez dan Negara Komunal Tentang Transisi ke Sosialisme di Venezuela (1) di http://www.amerikalatin.blogspot.com/2015/07/chavez-dan-negara-komunal-tentang.html

Diterjemahkan oleh Nemo Nobo

Teori Politik tentang Negara Komunal

11.    Meskipun luar biasa peranannya dalam perjuangan kemerdekaan di Amerika Selatan terhadap Spanyol,  sehingga di Venezuela dia diberi julukan unik El Libertador  (Sang Pembebas),  Simón Bolívar terkenal menggambarkan dirinya sendiri sebagai  "selembar jerami lemah yang terjebak dalam badai revolusi",  dan karenanya mendramatisir keterseretannya oleh kekuatan revolusi rakyat.  Tak ada keraguan bahwa Chávez pun memandang peranan yang telah dijalankannya dalam badai revolusioner Revolusi Bolivarian dengan cara yang sama,  bahkan dengan mengutip Bolívar dalam hal ini.  10     Chávez secara konstan menekankan peranan rakyat sebagai pelaku-utama revolusi,  dan mempertautkan perjuangan Bolivarian kepada tradisi-lebih-luas perlawanan di Venezuela,  sebagaimana diwakili oleh trio pejuang yaitu : Bolivar, Sang Pembebas itu sendiri; Simón Rodríguez, guru dan mentor Bolívar;  dan Ezequiel Zamora,  pemimpin revolusi petani  di era 1850 dan 1860-an.  Dengan cara ini Chávez menggambarkan bahwa para pelopor historis Revolusi Bolivarian adalah : (1) perjuangan akbar untuk memerdekakan diri dari Spanyol, kesamaan hak secara hukum, dan pembebasan para budak, melalui Bolivar;   (2) Jean-Jacques Rousseau, Revolusi Perancis, dan sosialisme utopia, via Rodríguez;  dan (3) perjuangan terus-menerus untuk meraih kemerdekaan kaum petani Venezuela,  melalui Zamora.

12.    Chávez menggambarkan Revolusi Bolivarian sebagai hasil sebuah proses historis dengan akar yang berabad-abad dalamnya,  yang timbul dari perjuangan-perjuangan kemerdekaan yang saling berkaitan di Eropa dan dataran Amerika : menandai sebuah perjuangan panjang untuk kemerdekaan.  Konsepsi ini belakangan diperluas melalui penggabungan kritis dengan teori Marx dan pengujian-ulang terperinci persoalan "negara",  sebagaimana dia menghadirkan dirinya sendiri di dalam revolusi-revolusi abad ke 20.

13.    Semua ini bersumbangsih bagi sebuah pandangan bahwa pelembagaan kedaulatan rakyatlah yang merupakan tujuan revolusioner utama dalam sebuah transisi sosialis,  dan  bagi sebuah kritik di bidang ini mengenai model Soviet.  Sintesis baru yang muncul  adalah  yang disebut Chávez  sebagai model baru  "sosialisme abad 21",  dan yang oleh Marta Harnecker disebut sebuah "sui generis revolution"  (revolusi yang unik, sangat berbeda dari biasanya, tak ada duanya – pent.).  11   Elemen strategis utama dalam keseluruhan konsepsi Chávez adalah pendapat Mészáros tentang kapital sebagai sebuah sistem-teralienasi reproduksi metabolistis sosial dan tentang perlunya menggantikannya dengan sebuah sistem-organik reproduksi metabolistis sosial yang memancar dari bawah.

25/07/2015

Chávez dan Negara Komunal Tentang Transisi ke Sosialisme di Venezuela (1)




Monthly Review, Minggu, 7 Juni 2015

Diterjemahkan oleh Nemo Nobo.

 

01.   Pada tanggal 20 Oktober 2012, kurang dari dua minggu setelah terpilih kembali untuk masa jabatan keempatnya sebagai presiden Venezuela dan hanya beberapa bulan sebelum kematiannya, Hugo Chávez menyampaikan pidato pentingnya "Banting Kemudi" ("El Golpe de Timón" (“Strike at the Helm”)) pada sidang pertama dengan para menterinya dari siklus revolusioner yang baru. 1   Bahkan beberapa pendukung terkuatnya dikejutkan Chávez dengan desakannya tentang perlunya mengadakan perubahan-perubahan di tingkat atas untuk mendorong sebuah lompatan ke depan secara seketika dalam penciptaan sebuah "negara komunal".  Lompatan itu dimaksudkan mengakselerasikan pergeseran kekuasaan kepada rakyat banyak yang telah dimulai dengan pembentukan dewan-dewan komunal (communal councils)  (pengelompokan keluarga-keluarga yang terlibat dalam proyek-proyek penyelenggaraan pemerintahan-sendiri (self-governance) –– di wilayah-wilayah padat-penduduk anggotanya 200-400 keluarga;  di daerah pedesaan, 50-100 keluarga). Sasaran utama dalam siklus revolusioner yang baru, tegasnya, adalah untuk mempercepat pendaftaran komune-komune, yang merupakan struktur-kunci negara komunal.  Di komune-komune, para penduduk di wilayah-wilayah geografis yang lebih kecil dari sebuah kota bergabung dalam sejumlah dewan komunitas dengan tujuan mengadakan pemerintahan-sendiri melalui sebuah parlemen komunal (communal parliament), yang dibentuk menurut prinsip-prinsip partisipatoris. Komune-komune tersebut adalah struktur-struktur politis-ekonomis-kebudayaan yang bergerak di bidang-bidang produksi makanan, pengamanan pangan, perumahan, komunikasi, kebudayaan, pertukaran komunal, perbankan komunal, dan sistem-sistem peradilan.  Semua ini telah disahkan secara konstitusional melalui penetapan beberapa Undang-Undang Organik tentang Kekuasaan Rakyat (the Organic Laws of Popular Power) di tahun 2010,  termasuk, terutama, Undang-Undang Organik tentang Komune-Komune (the Organic Law of the Communes) dan Undang-Undang Organik tentang Sistem Ekonomi Komunal (the Organic Law of the Communal Economic System)   (Catatan penterjemah (pent.) : Hukum Organik adalah hukum, tertulis maupun tidak tertulis, yang menetapkan prinsip-prinsip fundamental / paling mendasar suatu negara dan tata-penyelenggaraannya, termasuk prinsip-prinsip politik yang fundamental bagi pemerintahannya.  Konstitusi adalah salah satu bentuk,  dan bagian,  hukum organik).

02.   Pidato "Banting Kemudi" Chávez, yang mendesakkan pembentukan-cepat komune-komune,  adalah sebuah pidato terpenting dan paling diingat sepanjang karirnya. Pidato itu menawarkan kunci masa lalu, masa kini dan masa depan revolusi Venezuela.  Lebih dari itu,  dia juga menyajikan kepada kita pencerahan-pencerahan baru mengenai seluruh persoalan transisi ke sosialisme di abad ke 21.  2

03.   Pada bulan Maret 2011, ketika aku menjadi satu-satunya peserta dari Amerika Serikat dalam sebuah kelompok kecil cendekiawan sosialis dari benua Amerika dan Eropa yang diundang ke Caracas untuk berdiskusi dengan para menteri-utama negeri itu mengenai masa depan Revolusi Bolivarian, telah tampak bahwa implementasi-penuh Undang-Undang Organik Venezuela tahun 2010 tentang Rakyat Biasa (“the Organic Law of the Commons”), ketetapan terpenting dan menentukan dari revolusi, menghadapi hambatan-hambatan besar. 3   Meskipun ada ribuan dewan komunal,  saat itu belum ada satu pun komune yang terdaftar – sedangkan komune-komune itulah, yaitu organisasi-organisasi teritorial yang lebih besar dan yang di dalamnya dewan-dewan komunal akan menjadi bagiannya,  yang akan menjadi basis nyata kekuasaan rakyat.  Saat itu, sepanjang sebuah siklus pemilihan presiden yang akan menentukan masa depan Revolusi Bolivarian,  tak pula mudah untuk bergerak maju dalam hal ini. Tampak jelas bahwa di tingkatan kementerian ada kebingungan besar seputar cara melaksanakan pembentukan komune-komune, elemen paling penting dalam proses revolusi ini. 4

18/04/2015

Wawancara Dengan José Mujica dari Uruguay : Dari Perjuangan Bersenjata Hingga ke Kursi Kepresidenan (2)


Jose Mujica, Presiden Termiskin di Dunia


CG    :   Marilah kembali keUruguay.  Di antara hal-hal yang masih perlu diperbaiki,  Broad Fronttelah menyatakan bahwa pendidikanlah yang paling pokok...

JM    :   Aku bukan spesialis pendidikan.  Aku pengamat.Kita, orang Uruguay,  masih punya sebuah dilema lama : mana yang seharusnya menjadi prioritas,  sebuah pendidikan kemanusiaan yang terintegrasi (integrated humanistic education),  ataukah   pendidikan yang lebih bersifat teknis dan ilmiah ?  Itulah perdebatan yang masih berkelanjutan sampai hari ini,  dan ini umum terjadi di seluruh Amerika Latin;  yah, bagaimana pun kita turunan Spanyol, bukan Inggris...  Faktanya adalah bahwa kita memprioritaskan pendidikan yang berorientasi kemanusiaan dan itu menghasilkan sebuah kultur yang khas.  Jika sebuah keluarga memutuskan untuk mengirimkan anak-anaknya ke sekolah industrial,  kita menafsirkannya sebagai sesuatu yang kurang bermartabat.  Kita punya sebuah tradisi pendidikan yang tidak memberikan penekanan kepada matematik, fisika, kimia, berbagai lapanganengineering yang terkait kepada produksi barang di masyarakat.  Kita mengagung-agungkan para penyair, pengarang dan wartawan, yang memang merupakan kualitas intelektual yang sangat penting,  tapi kita menelantarkan spesialisasi-spesialisasi yang terkait pekerjaan (fisik)...

CG    :   Juga yang terkait dengan pendidikan ilmiah dan riset

JM    :   Ya...  kita jatuh ke dalam semacam khayalan;  percaya bahwa jalur matematika atau fisika takkan memimpin ke filsafat,  dan membuat tampak tak berharga hal-hal yang semestinya tidak dianggap begitu.

CG    :   Padahal pada kenyataannya kebalikannyalah yang benar...

JM    :   Tepat!  Para ahli matematika klasik semuanya sekaligus filsuf, bukan  ?

CG    :   Mulai dariPythagoras.

JM    :   Ya... tapi rakyat Uruguaytelah memberikan kepada kita sebuah sinyal : banyak yang menunggu berhari-hari dalam antrian untuk dapat mendaftarkan anaknya mengikuti pendidikan industrial.  Tingkat pendaftaran meningkat hampir 40%,  tapi kita tidak menempatkan cukup sumberdaya untuk memuaskan permintaan;  jadi kita ada dalam sebuah situasi-antara.
CG    :   Lebih menyerupai sebuah transisi, betul ?

JM    :   Dengan beberapa pertempuran gagasan,  karena aku tak mendapatkan dukungan dari kekuatan-kekuatan politik...          Sebagai penghiburku mereka mengalah menyetujui pendirian sebuah universitas teknologi untuk wilayah pedalaman.

CG    :   Ketika kau katakan  "mereka mengalah",  apakah kau menunjuk kepada Kongres, kepada parlemen?

JM    :   Tidak.  Dalam perundingan-perundingan terdahulu,  para sekutu-politikkuterpecah-belah mengenai isu ini.  Akan aku ingatkan mereka tentang itu sampai akhir jaman.  Kini, saat kami harus memperdebatkan anggaran,  aku akan berjuang agar mereka menyetujui sebuah anggaran independen bagi Universitas Buruh Uruguay ("Labor University of Uruguay",  atau"Universidad del Trabajo del Uruguay" (UTU) – pent.);  kalau kau memberinya uang, dengan sendirinya kemerdekaan akan datang seiring dengannya.  Pendidikan itu fundamental, tapi dia tidak terisolasi dari hal-hal mendasar lainnya,  karena jika aku mendidik dan melatih tapi tak mengembangkan negeri,  satu-satunya yang aku capai adalah membantu rakyat mempersiapkan dirinya agar dapat meninggalkan negeri ini;  dengan perkataan lain aku cuma akan mendapatkan rekening tagihannya saja.Kau tak bisa mendapatkan pendidikan tanpa tuntunan politik, tanpa orientasi politik.  Jika kita percaya bahwa melalui pendidikan massal masyarakat akan secara spontan berkembang, kita cuma bermimpi, membual, menghindari drama pertentangan kelas. Itulah masalahnya.

13/04/2015

Wawancara Dengan José Mujica dari Uruguay : Dari Perjuangan Bersenjata Hingga ke Kursi Kepresidenan (1)

Jose Mujica


Senin, 23 Maret 2015 20:18



Catatan Penulis :  Presiden "Pepe". Ini terdengar seperti slogan pemilihan umum;tapiJoséMujica sudah hampir berakhir masa jabatannya  – terhitung sejak 1 Maret  – dan dia lebih "Pepe" daripada sebelumnya.  Dalam lebih dari setengah abad sebagai wartawan,  saya telah berkesempatan bertemu atau bergaul dengan segala macam pemimpin, mulai dari Ronald Reagan sampai Raul Alfonsín, Fidel Castro, Mijail Gorbachov, "Lula", François Mitterand, Sandro Pertini, Michèle Bachelet dan Carlos Menem, tapi "Pepe"memecahkan rekor.  Pada tanggal 11 Februari jam 10:00 pagi, wartawan Swiss Camilla Landbö, fotografer Oscar Bonilla, koordinator Fasano Mertens, sekretaris pers kepresidenan Uruguay Joaquín Costanzo dansaya tiba di pertanian "Pepe" yang sangat sederhana dan subur, hanya beberapa mil di luar Montevideo. Presiden keluar menyambut kami,dengan baju yang bagian bawahnya tak dimasukkan ke celana dan lengannya tergulung,celana jeans, sepatu yang temalinya separoh tak terikat dan topi baseball. Dia bilang halo, menjabat tangan kami,dan mengajak kami duduk di bawah pohon. Di sana dia mengambil termos dan menyajikan kopi "mate" untuk semuanya. Dari waktu ke waktu dia memotong pembicaraan untuk meminta dari Bonilla tembakau dan kertas untuk melinting rokok.Berbeda dari kesan yang mungkin dimunculkan deskripsi di atas, sebetulnya tak ada sedikit pun yang dibuat-buat, atau"dipoles" mengenai "Pepe" Mujica. Bernafas, berkeringat, dia memancarkan otentisitas yang dibuktikan dalam semua aspek kehidupannya, dan, tentunya, terutama melalui perbuatan dan perkataannya.  Secara bebas dia mengungkapkan  berbagai keterbatasan dan masalah pemerintahannya, dalam langgam intelektual berbahasa sederhana yang mudah dipahami setiap orang.  "Pepe"adalah satu dari penganut Marxis yang langka yang memahami  materialisme-kemanusiaan Marx dan berupaya membuatnya relevan bagi dunia saat ini.  Dia orang yang beradab dan kuat kejujuran dan ketulusannya,  terlepas dari setuju atau tidaknya Anda dengan perkataannya. "Pepe", PresidenRepublik Timur Uruguay. C.G.

Wawancara dengan  José Mujica, Presiden Uruguay

CG (Carlos Gabetta): Mari mulai dengan formalitas : apakah cara yang layak untuk memanggil Anda ?  Haruskah kami menyebut Anda :Presiden, Mr. Mujica, José,  atau..…

JM (José Mujica): Pepe…..dan kita gunakan saja sebutan "tu"(sebuah gaya percakapan informal, setara "kau", "kamu" – pent.).

CG    :   Terimakasih, Pepe. Kalau begitu, mari mulai.  Bagi orang sepertimu, yang berjuang sepanjang tahun 1970-an demi perubahan politik, ekonomi dan sosial yang mendesak dan harus diperjuangkan;  demi sebuah revolusi, yang telah antara lain kau bayar dengan 15 tahun penjara...  apakah maknanya sekarang, bertahun-tahun setelah pengalamanmu itu, untuk dipilih menjadi Presiden, untuk berada di posisi ketua sebuah koalisi kiri-tengah(center-left), dengan mitra-mitra yang punya gagasan berbeda-beda, dan dengan tanggung-jawab(mu) untuk menjalankan pemerintahan ?

JM    :   Manusia,  sama seperti mahluk hidup lainnya, sangat mencintai kehidupan. Maka kita menginginkan sebuah dunia yang sempurna.  Akhirnya kita cukup banyak menderita, tetapi terutama karena kita tidak cukup cepat dan mereka menangkap kita (tertawa), bukan karena kita pahlawan.  Tetapi di situlah kita mulai melakukan penilaian-kembali (reevaluasi) terhadap makna kehidupan, tak lebih dan tak kurang... Sungguh berharga memperjuangkan agar rakyat punya lebih banyak makanan, atap yang lebih layak di atas kepala mereka, kesehatan dan pendidikan yang lebih baik, dan untuk dapat mengisi hari-harinya di bumi ini sebaik yang mereka bisa.  Jadi tak ada yang lebih cantik, lebih berharga, daripada kehidupan..... Dan ini benar di bawah kapitalisme,  benar pula di bawah feodalisme, dan juga benar bagi manusia primitif... dan akan terus benar di bawah sosialisme.  Tak ada yang menyerupai kehidupan... Itulah yang kita pelajari dalam tahun-tahun itu, yaitu bahwa kehidupan itu sendirilah nilai yang utama, dan bahwa dalam segala hal, nilai di urutan kedua adalah masyarakat.

Itulah sebabnya kini kita melangkah lebih lambat, tapi lebih mantap, mencoba memperkuat transformasi-transformasi yang relevan;  lebih lambat, karena mereka harus disepakati bersama;  dan tidak begitu definitif, karena sebetulnya hanya kematian sajalah yang definitif.

CG    :   Yang kau katakan dapat dipahami – untuk menterjemahkannya –  sebagai adaptasi terhadap realitas..…

JM    :   Tak ada orang yang berhenti beradaptasi terhadap realitas,  karena dia begitu kompleks... Ini adalah sebuah cara memandang dunia...  beberapa orang memandangnya melalui kacamata agama,  yang lainnya ketat secara ideologis... Aku sendiri merasa semakin lama semakin dekat kepada para filsuf kuno seperti Seneca, atau Epicurus, atau seperti.....

CG    :   Heraclitus…..

JM    :   Ya... Tentu saja ada keyakinan-keyakinan kuat, sebuah alur intelektual yang orang-orang tak ingin tinggalkan, tetapi kita seharusnya tidak sekaku itu...  Aku pikir bahwa manusia, dengan naluri kehewanannya, dengan jenis dorongan kuat yang ada dalam diri kita, pada intinya sebetulnya senang bergaul dengan sesamanya;  dia bukan kucing, melainkan secara antropologis bersifat sosialis. Dalam bentuk apa ? Manusia membutuhkan komunitas untuk hidup;  dia tak dapat hidup sendiri,  ada ketergantungan yang dalam kepada kelompok sosialnya.  90%  eksistensi kemanusiaan kita ada dalam keadaan primitif;  tak ada pembedaan antara milikku dan milikmu.  Kepemilikan, persaingan dan sebagainya, muncul belakangan.  Perkembangan peradaban membawa individualitas;   gagasan tentang individu yang egoistis adalah gagasan modern, kapitalis.  Kita menjadi kapitalis sebagai sebuah hasil formasi historis,  karena kita hidup pada titik tahapan perkembangan peradaban ini.

CG    :   Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah pernyataanmu : "kita akan terus berperang sampai Alam menuntut agar kita menjadi beradab".....

JM    :   Ya, itulah arah yang kita tuju. Kapitalisme, seperti semuanya, penuh kontradiksi. Di satu pihak, ada ketidakadilan, ketimpangan, peperangan;  tapi keegoisan yang ada dalam diri kita adalah penggerak yang kuat, yang telah mendorong kepada perkembangan sains, teknologi, dan semuanya, bukankah begitu ?  Kapitalisme telah memberikan kepada kita banyak penderitaan, tapi dia juga memberikan 40 tahun tambahan "rata-ratausia hidup"  (average lifespan)  di abad yang lalu..... apa yang bisa kau simpulkan dari sini ?  Sekarang tampak bahwa kapitalisme telah memberikan semua yang dapat dia berikan; langkah logis berikutnya adalah : sosialisme yang demokratis (democratic socialism)harus menggantikannya,  tapi kerangka-waktu sejarah (historical timeframes)  itu panjang rentangannya.  Kapitalisme berkembang selama tiga abad tanpa demokrasi politis sedikit pun.

CG    :   Pernahkah kau berkata "tak ada gunanya meratapi problemmu;  kau harus menghadapinya".....

JM    :   Ya, kiatnya adalah menemukan caranya...

CG    :   Persis.  Dan kini, dalam pemerintahan seperti yang kau pimpin, bagaimanakah kontradiksi-kontradiksi itu diatasi ?

JM    :   Mereka dirundingkan dengan sebaik-baiknya; kami mencoba berkontribusi dalam pengubahan masyarakat menjadi sesetara mungkin,secara konstan mengintervensi kebijakan-kebijakan fiskal dan sosial,  menyemangati para buruh untuk berorganisasi sehingga mereka sanggup menegosiasikan ongkos tenaga mereka sendiri. Karena pada akhirnya, faktor terbesar distribusi dalam masyarakat, setidaknya dalam masyarakat kita saat ini, adalah upah. Memang bukan cuma ini, dan tentunya ada batasnya,  karena jika aku terlalu dalam merogoh kantong para penanam modal,  mereka takkan jadi berinvestasi, dan akan lebih sedikit yang bisa aku distribusikan... Kau lihat, bahwa dari sisi manusia, yang praktis dihasilkan oleh eksperimen-eksperimen sosialisme yang terburu-buru dan "definitif" adalah : pada akhirnya mereka punya lebih sedikit untuk dibagi-bagikan.

CG    :   Dan mereka juga merupakan eksperimen-eksperimen yang tidak demokratis...

JM    :   Tentu.  Karena jika kau kehabisan segalanya,  kau harus kembali kepada ketegasan represi..... Tapi yang terburuk dari sosialisme seperti itu adalah birokrasinya... Ketimbang tergantung kepada para produsen, kau mulai mengandalkan para pengawas... Kapitalisme itu punya semua masalah yang kita ketahui, tapi selalu ada yang dapat dipelajari,  bahkan dari musuh sekali pun.  Kau harus belajar dari kecerdasan, bukan dari kebodohan.

CG    :   Seberapa jauhkah Broad Front(Frente Amplio) telah maju dan apakah yang masih harus dikerjakannya ? (Broad Front adalah koalisi partai-partai kiri-tengah – pent.).

JM    :   Masalahnya adalah bahwa kita mewarisi sejarah. Ini normal. Dari sekitar tahun 1940-an – tanggal-tanggalnya bisa diperdebatkan –demokrasi mulai melemah di Uruguay;  kita jatuh ke dalam klientilisme,  memakai Negara sebagai alat mempekerjakan banyak orang, terlalu banyak orang, dan dengan begitu dia mulai kehilangan daya saingnya.
Karena "proteksionisme" terhadap rakyat yang bekerja ini, kita menciptakan sebuah kelas kaum birokrat yang praktis tak tersentuh, yang kehidupannya dijamin;  setelah masuk kerja di pemerintahan, dalam 40 tahun mereka pensiun dan tak seorang pun menyentuh mereka, tak peduli apa pun yang mereka lakukan.  Negara kehilangan energinya, dan tampak jelas bahwa serikat-serikat buruh membela "kemenangan" ini,  dan melaluinya mereka sendiri menjadi pembela  status quo  yang mengikat Negara. Menyoroti masalah ini di Uruguay sama seperti memantik sebuah revolusi... Dan karenanya, sampai kini kita baru separoh jalan.

Broad Frontmencoba meneguhkan kemenangan-kemenangannya sambil menjadi kurang demagogis,  mencoba menggunakan dan melakukan semuanya sedikit lebih baik,  tapi kita mesti mentransformasi Negara,  memulai revolusi ini.  Kita punya alat-alatnya, tapi kita harus mencapai kesepakatan : selain Energi dan Komunikasi,  dan sebagainya,  Negara memegang pula bank utama negeri ini;  60% transaksi perbankan ada di tangan Negara dan kita (Broad Front – cttn. Editor)  masih menuntut  "nasionalisasi bank-bank"...
Kenapa kau harus menasionalisasi bank-bank? Bank Negara harus berfungsi secara taat  peraturan  "tanpa perkecualian sama sekali",  sedemikian rupa sehingga sektor perbankan swasta tak punya pilihan lain selain menerima aturan permainan.  Ini adalah salah satu tantangan yang ada di depan.

CG    :   Seperti di Chili,  dan bertentangan dengan yang terjadi di Argentina,  di Uruguay para diktator era 1970-an diuntungkan oleh sebuah peraturan, yang disetujui referendum,  yang membuatkejahatan-kejahatannya kadaluwarsa secara hukum...

JM    :   Aku pikir rakyat Uruguay ketakutan... tapi dengan humor yang baik,  dengan suatu cara, mereka memutuskan untuk  "menelan pil pahit"... Sangat berat dan sulit, tapi mereka mengutamakan ketenangan.

CG    :   Tapi kemudian Mahkamah Agung mengumumkan bahwa beberapa bagian dari peraturan tersebut tak sesuai konstitusi. Bagaimanakah isu ini ditangani di dalam pemerintahanmu ?

JM    :   Masalahnya kompleks.  Di satu pihak,  para kriminal takkan pernah mendakwa dirinya sendiri;  di lain pihak, mereka meninggalkan sangat sedikit bukti, bahkan menurutku sama sekali tak ada bukti,  yang dapat memungkinkan keadilan dilaksanakan sepenuhnya, yang akan sewajarnya membuat kita sibuk untuk waktu yang cukup lama.  Kebenaran dan keadilan cenderung mengandung kontradiksi dan masalahnya terletak pada keterpecahan dan pertikaian politis, tuntut-menuntut, yang dihasilkan proses ini dalam masyarakat ketika situasi ini berlarut-larut. Lihatlah Argentina.  Mereka mulai dengan baik, tapi kemudian menghasilkan kekeruhan dengan suatu upaya tergeneralisir dan masif, padahal 30 tahun telah berlalu dengan meninggalkan banyak ketidakjelasan dan kerawanan-konflik...  Uruguay tidak begitu.  Kita punya kekerasan dan kediktatoran, tapi kemudian rakyat memutuskan untuk melupakannya. Kita harus melihat bagaimana persoalan ini bisa terselesaikan secara kelembagaan,berkenaan dengan Mahkamah Agung.

Selain itu, mengenai keadilan, dan tak cuma menunjuk kepada kejahatan-kejahatan dari kediktatoran,  Uruguay berfungsi di bawah sistem yang cocok untuk masa lalu. tapi tidak dengan perubahan-perubahan yang diperlukan untuk masa kini.  Di Uruguay sekarang, jika kau ingin mengenakan pajak atas tanah, terhadap kepemilikan tanah yang terkonsentrasi, mereka akan menghentikannya dengan mengumumkannya sebagai tindakan tak sesuai konstitusi.  Sama seperti di mana pun di dunia dan umum terjadi dalam sejarah,  sistem yurisprudensi dilahirkan dan ditata oleh kelas-kelas yang dominan,  kasta konservatif.  Kita harus menangani ini;  kami belum mentransformasikannya.  Sejak beberapa saat yang lalu kami  (Broad Front – cttn. Ed.) seharusnya sudah mendesakkan sebuah reformasi konstitusi, karena kalau kau tidak mengubah instrumen-instrumen keadilan,  belakangan akan kau sadari bahwa kau terjebak di dalam kontradiksi-kontradiksi ini,  oleh sebuah tembok yang sangat mengerikan. Keadilan, seperti perempuan dengan penutup mata dan timbangan di tangannya... itu tidak ada, karena sistem keadilan mencerminkan bobot kelas-kelas yang mendominasi masyarakat.Instrumen keadilan dibebani oleh sejarah, yaitu sejarah pertentangan kelas... Semua ini dipengaruhi oleh politik.  Aku pikir tak ada aksi yang lebih politis daripada revolusi,  dan semua revolusi telah menjadi fondasi hukum, sumber yurisprudensi.  Dengan perkataan lain,  kelas-kelas yang paling dominanlah yang membentuk hukum.  Itulah yang kita butuhkan sekarang,  perubahan-perubahan demokratis – dalam arti disetujui oleh mayoritas – sampai ke akar terdalam,  yang mencerminkan, dan pada saat yang sama memungkinkan terjadinya, perubahan-perubahan yang dibutuhkan Uruguay pada saat sekarang ini.
CG    :   Marx akan setuju denganmu.

JM    :   Lebih tepatnya,  aku sependapat dengan Marx...

CG    :   Aku ingin pindah ke sebuah topik regional, Pepe.  Misalnya Mercosur(blok beranggotakan Argentina, Brazil, Paraguay, Uruguay dan Venezuela – pent.)(1),yang dibentuk di tahun 1989 dan masih belum beranjak melampaui beberapa perjanjian perdagangan dan tarif (bea-masuk),  yang betapa pun tidak berjalan dengan baik... Apa yang kau pikirkan tentang organisasi-organisasi ini, statusnya saat ini,  dan perkembangan yang seharusnya mereka capai ?

JM    :   Di Amerika Selatan, dan di seluruh Amerika Latin,  kita menghadapi sebuah tantangan besar. Jika kita tidak membuat mekanisme-mekanisme yang terus menerus mempersatukan kita, yang dapat menyediakan bagi kita sebuah peranan internasional yang lebih besar,  kita akan tercerai-berai seperti banyak daun yang berhamburan ditiup angin.  Jelas bahwa dalam dunia sekarang ini blok-blok raksasa sedang dibangun.  Cina adalah sebuah negara kuno dengan banyak ras;  India pun serupa dengan itu.  Amerika Serikat dengan kekuatan dan kebutuhan-kebutuhannya,  dengan Kanada tepat di belakangnya,  dan Meksiko, cuilan sejangkauan tangan, praktis telah menjadi sebuah blok.  Eropa, terlepas dari segala masalah yang terjadi,  terus melanjutkan tujuannya melembagakan sebuah blok raksasa.  Dan jika dia runtuh besok, dia cuma akan ditelan sebuah blok yang lebih unggul.

Lalu apakah yang kita – sekelompok kecil republik yang saling terpisah yang sedang mencoba untuk mengejar ketertinggalan – sedang lakukan di dunia ini?  Kita lekat terpaku dalam "proyek-proyek nasional".  Di negara-negara-kunci di wilayah Amerika Latin, yaitu Brazil, Argentina, Mexico,  para pemimpin berbicara dan berasumsi tentang suatu diskursus integrasi, kebersatuan, tapi mereka praktis terbenam dalam kontradiksi-kontradiksi negara-bangsa.  Di tingkatan diplomatik,  terhadap negara-negara lain wilayah ini,  mereka bertindak sesuai tekanan ketegangan internal negeri mereka sendiri...  Kita masih jauh dari keberhasilan membuatkebijakan yang konstruktif.  Kita mencapai sebuah perjanjian tentang tarif (bea-masuk) untuk bisnis, oke ?.... tapi begitu mengenai kontradiksi-kontradiksi internal apa pun, mereka langsung mengabaikannya... Beberapa hari yang lalu aku menghadiri sebuah upacara Partai Buruh Brazilia,  yang juga dihadiri Presiden Dilma Roussef bersama Lula... Aku mendengarkan pidato mereka secara cermat, dan tak satu kali pun mereka menyebut-nyebut integrasi.  Ini bukan karena mereka berniat buruk;  mereka orang-orang hebat.  Setiap saat kita punya masalah dengan Brazil, kami bicara dan berunding dan kami menemukan solusi,  namun pertimbangan-pertimbangan politik internal dan masalah-masalah Brazil menentukan agenda mereka...  Jadi, kau lihat, apa yang sedang kita lakukan ?  Kita menciptakan organisme-organisme ini, lembaga-lembaga baru,  Mercosur, UNASUR(2)... 

Proyek integrasi itu telah berumur 200 tahun, sejak San Martin, Bolívar, Artigas,  tapi parta-partai kiri telah sedemikian tidak cakap sehingga integrasi tidak merupakan gagasan populer : tak ada satu tempat pun di Amerika Latin yangmengalami demonstrasi massa yang menuntut integrasi... hanya belakangan ini saja gagasan itu terkesan mendapatkan dukungan intelektual,  tapi dia belum diterima sebagai sebuah kebutuhan historis mendasar.

Tahukah kau siapa yang paling pro integrasi?  Negara-negara yang lebih kecil;  terdorong kebutuhan..... karena kita ketinggalan.  Integrasi membutuhkan kepemimpinan, dan nama pemimpin itu adalah Brazil... tapi Argentina mesti turut serta, dan sayangnya mereka sama sekali tidak begitu, dalam kenyataannya yang terjadi adalah kebalikannya,  seakan-akan Argentina telah beralih mundur ke suatu visi tahun 1960-an.

CG    :   Ketika angin bertiup ke arah mereka, Argentina melupakan integrasi,  dan ketika semuanya tampak menguntungkan baginya,  mereka memalingkan muka.....

JM    :   Brazil juga begitu... Aku ingin mengakui sesuatu kepadamu :  Presiden Brazil pernah berkata kepadaku :  "Ai, Pepe, dengan Argentina kau mesti punya kesabaran strategis...!".

Brazil telah menahan sabar dalam segalanya terhadap Argentina, semuanya... Tapi mereka tidak ingin kehilangan Argentina sebagai sekutu.  Akhirnya Argentina menjadi penentu dalam segala hal... yang dilakukan atau tidak dilakukan Argentina akan mempengaruhi arah yang diambil Brazil. 

CG    :   Dilma mengatakan itu ?  Atau Lula?

JM    :   Dilma. Lula sama pikirannya… Dan mereka datang mencari aku supaya aku bisa mengambil kepemimpinan dalam pergulatan menuju integrasi ini.   Lula berkata : "Aku tak bisa, Pepe, aku tak bisa karena aku orang Brazilia" (...)  Ada sebuah kelas pedagang Sao Paolo yang kuat,  dan tanpa tuntunan politis,  ketimbang mempersatukan, mereka malah melakukan kolonisasi.  Mereka menanamkan modal di Uruguay dan membeli fasilitas yang sedang kita bikin ketimbang memulai sesuatu yang baru.Karenanya kini 40% dari sektor pengemasan daging kita telah berada di tangan orang-orang Brazil.  Mereka pergi ke Argentina dan melakukan hal yang sama.  Kelakuan ini,  satu-satunya yang dilakukannya adalah memecah-belah, mendis-integrasikan kita.

CG    :   Orang-orang Argentina juga sedikit melakukan hal yang sama tatkala mereka bisa…

JM    :   Itu betul,  karena itu alamiah di bawah keserakahan kapitalis.   Tapi secara politis..... aku takkan mengharapkan kaum borjuis untuk menjadi sosialis...

CG    :   Tapi setidak-tidaknya mereka harus menjadi borjuis yang baik


JM    :   Tentu !… Itu adalah yang paling serius dari semua masalah... borjuis kita sangat terbelakang, mereka adalah borjuis kapitalis namun mereka memiliki mentalitas pra-kapitalis;   mereka bermentalitas tergantung (dependen).

Bersambung ...

artikel ini diterjemahkan oleh Nemo Nobo


13/03/2015

Pada Hari Perempuan Internasional, Presiden Maduro dari Venezuela Menjanjikan KeterwakilanSeimbang Gender di Parlemen




Oleh Rachael Boothroyd
http://venezuelanalysis.com/news/11257


Caracas, 9 Maret 2015 (venezuelanalysis.com)

PresidenVenezuela, Nicolas Maduro, telah menyetujui serangkaian inisiatif yang diajukan gerakan feminis negeri itu, yang ditujukan kepada pemberdayaan kaum perempuan di negara Amerika Selatan itu secara politis dan ekonomis.

Dalam suatu langkah yang dipuji gerakan-gerakan perempuan sebagai "bersejarah", sang presiden mengumumkan bahwa mulai tahun 2015 dan seterusnya,  sekurang-kurangnya 50% legislator yang dipilih untuk duduk di Majelis Nasional Venezuela haruslah perempuan.

"Anda semua telah menyepakati usulan bahwa Majelis Nasional berikutnya harus mempunyai komposisi yang seimbang, 50% pria dan 50% perempuan, dan saya setuju dengan itu,  karena memang seharusnya begitu.  Kita harus semakin lama semakin memberdayakan perempuan",  kata Maduro dalam sebuah keputusan presiden di Caracas pada hari Minggu.

Pengumuman ini dibuat mengantisipasi pemilihan anggota badan legislatif,  yangakan berlangsung dalam tahun ini.

Masih belum jelas apakah kelompok oposisi di negeri itu akan diwajibkan menganut keterwakilan seimbang dalam pencalonannya,  tetapi presiden menegaskan bahwa partai yang berkuasa, yaitu Partai Sosialis Bersatu Venezuela (United Socialist Party of Venezuela (PSUV)) sekarang ini sedang bersiap-siap memastikan bahwa kuota 50% itu terwujud dalam pemilihan-pemilihan primernya.

Langkah ini mencerminkan sebuah kecenderungan umum dalam organisasi-organisasi yang tergabung pada revolusi Bolivarian, dan khususnya di majelis-majelis komunal, yang seringkali terutama dijalankan dan dipimpin oleh perempuan.

Pengumuman presiden itu disambut puji-pujian lantang ribuan perempuan yang telah berkumpul di hari Minggu itu padaacara yang diadakan presiden untuk memperingati Hari Perempuan International. Banyak di antara mereka telah berperan di Kongres Perempuan Nasional (the National Women’s Congress)negeri itu,  yang baru selesai bersidang sebelumnya di hari yang sama.

"Ini hebat. Kami bekerja dan berdebat selama tiga hari tentang semua proposal, untuk menciptakan suatu jenis feminisme yang adil, sebuah negara kaum revolusioner sosialis, dan suatu Venezuela dan dunia yang lebih baik",  kata Marie Moncada, seorang anggota 
Ibu-Ibu Barrio (Mothers of the Barrio),organisasi missi dan gerakan sosial di Cojedes.

Lebih dari 50 proposal diajukan ke presiden oleh kelompok-kelompok perempuan di kongres menyusuli perdebatan berhari-hari mengenai sejumlah isu yang berbeda-beda, termasuk pembentukan sebuah negara yang feminis, isu kekerasan seksis, dan isu hak-hak seksual dan reproduksi.

Lebih dari 2.500 aktifis perempuan berpartisipasi dalam kongres,  termasuk para delegasi pekerja pedesaan, buruh, para ibu barrio, perempuan-perempuan muda, anggota milisi rakyat,  serdadu,warga suku-suku asli, mahasiswa,olahragawan, seniman dan pekerja petukangan. Semuanya menghadiri acara tersebut.