10/08/2012

Di Balik Bayang-bayang Kudeta: Mobilisasi Gerakan Sosial untuk Demokrasi


 
Aksi protes melawan Kudeta Photo: Telesur

Ditulis oleh  Benjamin Dangl   
Kamis , 07 August 2012 07:29

Baik cuaca hujan ataupun cerah, setiap kamis di Asuncio, Paraguay, para aktivis melakukan aksi protes terhadap pemerintahan sayap kanan Federico Franco yang memegang tampuk kekuasaan pada 22 Juni 2012, setelah berhasil melakukan kudeta parlementer terhadap Presiden sayap kiri, Fernando Lugo. Aksi protes yang berlangsung mingguan ini membawa sebuah semangat dan strategi protes yang baru pasca kudeta di Paraguay. 

Kudeta telah melahirkan perjanjian korporasi yang baru, represi terhadap hak rakyat dan pembatasan kebebasan pers. Hal tersebut juga tanpa disadari telah menciptakan panorama baru dalam  gerakan dan perjuangan sosial kiri. 

Gerakan untuk demokrasi ini telah bangkit melawan pemerintah dan Negara baru hasil kudeta dan penindasan korporat terhadap hak asasi manusia, lingkungan dan petani kecil. Beberapa aktivis melakukan aksi protes terhadap PHK bemotif politik. Sementara yang lainnya menuntut dibentuknya kontitusi baru. Selain mengkritik pemerintahan Franco, gerakan ini juga meletakkan pendiskusian yang lebih maju yakni tentang jenis Negara seperti apa yang diinginkan rakyat Paraguay, terlepas siapapun yang berkuasa. 

Perlawanan Kolektif

 “Apa yang kita saksikan sekarang ini adalah aksi protes yang terorganisir secara kolektif dan mandiri,” Ucap Gabriella Schvartsman Munoz, juru bicara perempuan unutk Movimiento Kuna Pyrenda, seorang aktivis sosialis dan gerakan politik feminis yang mengorganisir aksi protes kamisan di ibu kota, yang memberi penjelasan pada interview atau wawancara via telpon dari Asuncion. 
Gerakan mobilisasi saat ini lebih bersifat kolektif dan terorganisir  yang merupakan sebuah fenomena yang relative baru untuk demokrasi di Negara tersebut. 

 “Sebelumnya, presiden serikat yang mengorganisir pemogokan rakyat atau seorang pimpinan campesino (petani kecil) yang memimpin aksi massa mobilisasi. Sekarang kita tidak melihat bentuk kepemimpinan tradisional ini”, Jelas Munoz.” Di belakang aksi-aksi massa ini, tidak ada pimpinan politik, tidak ada pimpinan organisasi; aksi mobilisasi massa ini merupakan mobilisasi massa spontan yang sebelumnya tidak pernah terlihat dan sekarang menjadi tokoh utama”   


Perlawanan terhadap kudeta ini meluas di penjuru negeri dan melibatkan aksi masyarakat urban (terbesar ada di Asuncion) yang telah menyatu dengan beragam warna, seni, teater, music, dan puisi sebagai bentuk ekspresi perlawanan. Tercatat, kaum muda banyak yang memimpin pengorganisiran gerakan ini, jaringan social seperti Facebook, dan Twitter memainkan peran kunci yang penting dalam mengajak rakyat untuk bersama – sama melawan pemerintah hasil kudeta. 

“[Gerakan urban] ini mewakili nafas segar dalam sektor gerakan sosial yang lemah dan tidak termobilisasi,” Pengacara Hak Asasi Manusia Paraguay, Orlando Casillo menjelaskan pada ku dalam sebuah interview. “Paraguay sekarang berada dalam periode yang sangat menarik, dimana serentetan kemungkinan baru bisa memperkuat proses gerakan social” 

Di luar perbatasan Negara, gelombang migrant Paraguay, yang selama delapan tahun terakhir  yang jumlahnya telah meroket juga memobilisasi diri melawan kudeta Franco. Castillo berkata,”Rakyat kini telah mengorganisasikan dirinya untuk melakukan perlawanan global. Di luar negeri, aksi mereka telah menjadi wajah internasional melawan kudeta”

Perjuangan untuk Kedaulatan 

Secara nasional, pemerintah Franco tidak menampakkan perbaikan kondisi kelas pekerja yang miskin. “Situasi social secara mendasar sama, tidak ada perubahan (sejak kudeta): kemiskinan dan kemiskinan ekstrim hampir mencapai 57% dari jumlah penduduk” kata Raul Zacarias Fernandez, seorang sosiolog dan Direktur Departemen Ilmu sosial di Universidad Catolica de Paraguay di Debat Revista. Menurut sosiolog tersebut, gerakan rakyat yang tak punya tanah berjuang untuk tanah mereka “mereka sedang mengorganisir kembali dan mempersiapkan pendudukan kembali”

Sementara itu, Franco tidak bertemu dengan gerakan sosial tunggal, urban atau organisasi petani kecil semenjak mengambil alih kekuasaan. Ia lebih memilih focus pada pertemuan – pertemuan dengan pimpinan bisnis. Dalam waktu singkat, ketika ia berada di kantornya, Franco telah melakukan perjanjian controversial dengan Monsanto dan Monttreal – based Rio Tingo Alcan, perusahaan tambang, yang didalamnya terdapat perjanjian yang mengancam hak manusia dan lingkungan dan kedaulatan ekonomi dan kedauilatan Negara. Gerakan ini telah mendorong terjadinya aksi-aksi massa dan perdebatan di seluruh negeri. 

Terkait perjanjian dengan RTA dan Monsanto, ahli ekonomi Paraguay Luis Rojas, menyatakan pada IPS News bahwa “sungguh mencemaskan ketika sebuah pemerintahan yang tidak terpilih dalam pemilu membawa investor asing tanpa kontrol”. Dalam kasus dua perjanjian ini, Franco telah bertindak tanpa melakukan studi sebelum menandatangani dua perjanjian tersebut. 

Pada tanggal 30 Juli, kampanye “Tidak untuk kudeta Rio Tinto Alcan” telah diluncurkan oleh mantan presiden Ludo dan Ricardo Canese, seorang insinyur dan pimpinan organisasi Fornt Guasu sosial. Mereka berupaya untuk mencegah perusahaan asing tersebut masuk ke negeri ini dan mengumpulkan 100.000 tanda tangan melawan perjanjian RTA, yang mereka sebut  membuka jalan bagi kudeta.

Sebagai respon terhadap perjanjian Pemerintah Franco baru –baru ini dengan Monsanto yang mendukung penggunaan benih  kapas genetik , pimpinan campesino, Jore Galeano menyatakan pada AP bahwa penggunaan benih kapas genetic tersebut menyerang ekonomi petani kecil dan akan penggunaan agro kimia hanya akan menguntungkan produksi skala besar. “Hal ini merupakan kondisi komersial yang menyerang konsep perjuangan kita bagi kedaulatan agrikultural Paraguay,” kata Galeano.  

A number of protests and strikes have also been organized by workers and unions to denounce the Franco government’s politically-motivated firing of state employees in a wide range of agencies, ministries, hydroelectric plants and public media outlets. The workers say they are being dismissed for their support for Lugo, or their leftist political beliefs. The fact that this purging of public employees is being committed by an administration that was not democratically-elected has further incensed workers and their supporters. 

Sejumlah aksi protes dan pemogokan juga diorganisir oleh para pekerja dan serikat buruh untuk melawan politik pemerintah Franco yang memecat para pegawai  negeri  yang tersebar di berbagai agensi, kementrian dan departemen tenaga air tanaman dan media publik. Para pegawai tersebut mengatakan mereka dipecat karena mereka mendukung Lugo atau karena mereka berideologi kiri. Fakta bahwa pemerintah Franco telah melakukan pembersihan terhadap pegawai negeri yang mendukung Lugo merupakan tindakan yang tidak demokratis telah membuat para pekerja marah dan mendukung perjuangan pegawai negeri. 

Keluar dari Bayangan Diktator

Banyak perubahan sosial dan politik yang terjadi baru-baru ini bisa dibandingkan dengan bayang-bayang kediktatoran Alfredo Stroessner (1954 -1989), yang masih lekat membayangi bangsa ini. Setelah kejatuhan pemerintahan kediktatoran tersebut pada tahun 1989, banyak politisi yang berwatak sama memasuki dunia politik dengan cara baru, kata Castillo. “Sementara sistem kediktatoran sudah ditinggalkan, sistem kekuasaan tetap utuh” . Dan struktur kekuasaan ini -  bersifat feudal, represif, elitis dan konservatif – masih terus menentukan politik Paraguay hari ini. 

 “Keberhasilan mereka melakukan kudeta, justru telah memposisikan kembali aktor politik, memblejeti topeng mereka, membuat rakyat urban dan miskin kota mampu membedakan mana yang masih mau mempertahankan status quo dan mana yang mau melakukan perubahan terhadap status quo” Kata Castillo.
Pembaharuan kesadaran politik telah termanifestasi dengan sendirinya dengan beragam cara. Menurut Munoz, kudeta telah membuktikan bahwa konstitusi 1992 menjadi tidak berguna ketika dimanipulasi oleh para politisi yang menggunakannya untuk melakukan kudeta parlemen  yang illegal. “Dan kemudian rakyat berkata ‘Tidak '

Ia mengatakan bahwa krisis yang terjadi baru-baru ini tidak bisa dipecahkan dengan pemilu presidensial yang dijadwalkan pada April 2013. Solusinya adalah, menurut Munoz, akan muncul ketika rakyat bisa duduk bersama mendiskusikan masa depan dewan konstitusional. “Ada hal mendesak yang dibutuhkan sekarang,” ia berkata, “untuk membangun mekanisme yang kuat yang menjamin hak rakyat tidak akan ditindas…. Kita akan bergerak ke arah itu, kita akan mendiskusikan paradigm baru.”

***
Benjamin Dangl adalah seorang jurnalis yang focus pada Amerika Latin dan penulis Dancing with Dynamite: Social Movements and States in Latin America (AK Press) dan  The Price of Fire: Resource Wars and Social Movements in Bolivia (AK Press). Ia adalah editor TowardFreedom.com,  a progressive on world events and UpsideDownWorld.org, sebuah website yang meliput tentang segala aktivitas dan politik di Amerika Latin. Email: Bendangl(at)gmail(dot)com

30/07/2012

Pasca Kudeta Paraguay: Sebuah Wawancara dengan Fernando Lugo




Ditulis oleh Johannes Wilm
Rabu, 18 Juli 2012. 

Uskup berhaluan kiri Fernando Lugo terpilih sebagai Presiden Paraguay pada 2008. Dengan terpilihnya Lugo, berakhirlah 61 tahun kekuasaan partai konservatif Partai Colorado. Serupa dengan apa yang terjadi di beberapa negara Amerika Latin beberapa tahun terakhir, pemerintahan baru ini menyusun program sosial dan hubungan jangka panjang dengan Amerika Serikatpun secara perlahan digantikan oleh aliansi dengan negara tetangga.

Selama pemerintahannya, Lugo dihadapkan pada mayoritas anggota parlemen yang menentangnya dan wakil presidennya yang berasal dari partai politik yang berbeda secara terbuka menyerangnya dalam beberapa tahun terakhir. Pada 21-  22 Juni, Lugo disingkirkan dari kepresidenannya melalui  impeachment di parlemen melalui “pengadilan politik”. Impeachment presiden melalui pengadilan politik adalah struktur khusus yang tersedia dalam Konstitusi Paraguay. Konstitusi ini mengijinkan adanya satu majelis parlemen untuk memulai proses impeachment melawan Presiden, dan bagi majelis kedua untuk memberikan penilaian apakah mereka menemukan kesalahan Presiden atas apa yang dituduhkan majelis pertama pada presiden. Pengacara Lugo, Adolfo Ferreiro yang membela Lugo dalam impeachment ini menjelaskan bagaimana sebuah impeachment bisa terjadi pada sang presiden tanpa pelanggaran hukum sekalipun :”Ada pihak yang berada di belakang ini semua untuk membuat suatu pengadilan politik tanpa alasan apapun, hanya karena mereka tidak menyukai sang presiden. Mereka bilang bahwa alasan pengadilan politik tersebut tidaklah penting, selama mereka merasa perlu untuk memenangkan suara supaya terselenggara pengadilan politik. Mereka sekarang sedang mencoba untuk membingungkan hal ini dengan 'mosi tidak percaya ' sebagaimana yang ada dalam beberapa sistem parlemen. Model seperti ini memang ada di beberapa negara Eropa dengan sistem parlementer. Di sana, beberapa pemerintah dipilih oleh parlemen dan bisa disingkirkan melalui perhitungan suara. Di sini, sebaliknya, kita memiliki sistem presidensial, sehingga presiden dipilih langsung oleh rakyat dan tidak ada kaitan langsung antara siapa presiden dan siapa yang mayoritas di parlemen”.

Ferreiro dikenal pada tahun 2008 yang secara terbuka menentang pencalonan Lugo dan dia terus menjadi seorang kritikus sekutu dekat, seperti pemerintah Venezuela. Pembelaannya terhadap Lugo dalam prosedur pembelaan adalah agar secara umum terdapat pembacaan obyektif atas Konstitusi Paraguay.

Lugo sendiri melihat keseluruhan hal ini sebagai sebuah kudeta: “Kau bisa menyebut hal ini sebagai kudeta 2.0, sebuah kudeta parlementer atau sebuah ekspresi kudet – banyak nama untuk hal yang sama, sebuah kudeta yang berbeda dari yang kita saksikan pada tahun 1970an: dimana tidak ada mobil tank di jalanan atau tidak ada orang yang mati di jalanan, dan mereka sangat berhati-hati untuk mencoba mendapatkan legitimasi hukum atas tindakan mereka. Namun, tidak ada yang bisa merubah kenyataan bahwa telah terjadi pelanggarn prinsip-prinsip demokrasi di sini dan sebagai konsekuensinya telah terjadi kudeta”

Repolitisasi institusi pemerintah

Telah terjadi banyak pendiskusian tentang perubahan konkret apa yang akan dilakukan pemerintah hasil kudeta. Satu hal yang paling sering disebutkan adalah isu pekerjaan  di sektor publik. Berikut pernyataan Sekretaris Pekerjaan Umum Lugo hingga bulan Maret ini yakni Lilian Soto, dan ia cukup bangga atas perubahan yang mereka lakukan selama proses perekrutan: “Di bawah Partai Colorado, hanya orang yang memiliki koneksi politik dan keluarga yang bisa memperoleh pekerjaan. Kami melakukan perubahan atas hal itu menjadi sebuah proses formal dalam memeriksa pendidikan dan pengalaman para kandidat ”. Soto berhenti dari pekerjaannya karena hendak menjadi kandidat presiden dalam pemilu 2013 dari sebuah partai feminis dan oleh karena itu ia merasa tidak etis apabila terus melanjutkan pekerjaannya sebagai bagian dari pemerintah Lugo.

Lugo menjelaskan bahwa pemerintah hasil kudeta sekarang sedang mencoba untuk mengembalikan keadaan seperti sebelum pemerintahan Lugo berkuasa- dengan sengaja mengabaikan orang secara massal berdasarkan ideologi politik mereka. Hal ini sudah terjadi di kementrian dan entitas pemerintahan yang bersepakat dengan kontrol agrikultur dan pestisida. Dalam beberapa hari ini serikat buruh di berbagai sektor mulai aktif. Itu akan menjadi pertarungan besar berikutnya.

Geopolitik

Lugo melihat beberapa kemiripan dengan kudeta di Honduras pada tahun 2009, dimana Presiden Mel Zelaya disingkirkan: “Apa yang serupa dari kedua kasus ini adalah pelanggaran terhadap prinsip demokrasi, dan bahwa istilah presiden yang terpilih secara demokratik, dipotong begitu saja”. Akan tetapi ia juga melihat perbedaan besarnya di antara keduanya: “Di Honduras, kita melihat sebuah kudeta yang dekat dengan kudeta di tahun 1970an, dimana militer memegang peranan besar. Juga halnya, ada perbedaan dalam hal lingkungan geo politik. Di Amerika Selatan kita memiliki pengalaman penting dalam hal integrasi regional, seperti perjanjian perdagangan Mercosur dan yang baru-baru ini terbentuk Komunitas Amerika Latin dan Negeri Karibia (CELAC). Hal ini tidaklah begitu penting saat kudeta terjadi di Honduras. Sayapikir beberapa organisasi ini mewakili alternatif dari Organisasi Ameria Serikat (OAS), yang secara cepat menurun. Sayatidak mengingkari bahwa OAS telah memiliki banyak capaian dalam 50 tahun terakhir ini, akan tetapi dengan polarisasi terakhir antara Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko di satu sisi dan Amerika Selatan di sisi lain, kami kemudian mencoba alternatif persatuan regional lainnya. Kudeta sekarang ini adalah upaya untuk menyerang upaya integrasi regional.”

tak ada satupun dari tiga negara yang bertentangga yakni Paraguay, Bolivia, Brazil dan Argentina yang mengakui pemerintahan baru ini, apalagi menerima proses bagaimana mereka bisa meraih kekuasaan sekarang ini. Bahkan, pemerintahan tersebut merupakan negara-negara yang memiliki kritik besar atas apa yang terjadi. Dari para pendukung kudeta, sebuah solusi umum yang diberikan untuk Paraguay adalah bekerja sama dengan negara-negara lain. Lugo percaya bahwa hal ini memang akan terjadi: “Secara geografi dan politik, adalah mungkin bagi beberapa negara seperti Chile, Peru, dan Kolombia untuk menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan Amerika Serikat. Akan tetapi dalam kasus Paraguay, hal ini sangatlah sulit. Kami tidak memiliki garis pantai kami sendiri. Dan sungai yang ada di bawah kepemilikan bersama. Agar bisa menggunakan sungai ini sebagai rute transportasi untuk kargo kapal, kami bergantung dengan perjanjian bersama Brazil dan Argentina. Selain itu, selama dekade neoliberal pada tahun 1990an, Paraguay sudah kehilangan kontrol atas perusahaan penerbangannya. Semua ini menjadi sulit bagi Paraguay untuk bekerjasama dengan negara lain tanpa bekerja bersama dengan negara- negara tentangganya.
Kedaulatan Nasional vs. Perusahaan Multunasional

Lugo percaya bahwa orang bisa melihat bahwa kudeta ini merupakan pertarungan antara negara dan perusahaan multinasional : “Jika kita melihat hal pertama yang dilakukan pelsayakudeta, adalah cukup jelas: Pertama mereka membuka pintu bagi pangan rekayasa genetika, ke dua mereka memutuskan produksi – Kedelai tidak boleh dipungut pajak, ke tiga perusahaan multinasional Rio Tinto Alcan diijinkan untuk membangun perusahaannya sendiri di Paraguay. Itu adalah 3 keputusan penting yang telah didiskusikan dalam dua tahun proses partisipatif dimana kita mencoba untuk mempelajari konsekuensi dari hal tersebut. Sekarang semua kebijakan tersebut telah dilaksanakan dalam waktu yang luar biasa cepat. Hal ini menunjukkan bahwa seberapa penting masalah kedaulatan nasional dalam proses ini.

Kontrak dengan Rio Tinto Alcan adalah salah satu kebijakan yang dikritik oleh pihak yang beroposisi terhadap pemerintahan hasil kudeta. Partai- partai yang menyepakati kontrak tersebut menandatangani kontrak dengan Rio Tinto Alcan untuk 30 tahun, dimana selama itu perusahaan akan mendapat pembagian listrik yang cukup besar yang diproduksi oleh pembangkit tenaga air besar milik Paraguay. Lugo yakin bahwa perjanjian yang ditandatangani oleh pemerintahan yang baru tidak akan dihargai di masa depan, suatu saat sebuah pemerintahan demokratik akan dibangun kembali: “Sayaragu bahwa rakyat Paraguay akan menghargai sebuah perjanjian yang menjamin sebuah perusahaan besar memiliki hak sepenuhnya atas listrik dengan harga yang rendah. Perjanjian ini benar-benar bermasalah.”


Presiden rakyat dan masyarakat internasional

meski Lugo tidak memiliki kontrol atas aparatus negara, ia masih melihat dirinya sebagai Presiden: “Rakyat melihat saya sebagai Presiden. Pemimpin kudeta, Franco mungkin secara formal mengambil kontrol atas tentara dan polisi, akan tetapi tidak berarti ia bisa mengambil kontrol atas rakyat. Dan pada dasarnya, kami percaya bahwa rakyat memiliki kedaulatan untuk memutuskan siapa yang menjadi Presiden. Sayajuga ragu bahwa Franco benar-benar memerintah negara ini. Disamping penduduk, masyarakat internasional masih melihat saya sebagai Presiden yang legitimate di Paraguay. Dan di jaman kami, itu sangat penting, itulah yang hampir menjadi faktor penentu satu-satunya.”

Franco telah mengindikasi hal ini sesaat setelah kudeta, sehingga ia meminta tolong Lugo supaya meminta kepada negara lain agar tidak memberikan sanksi kepada Paraguay. Lugo tidak berpikir apapun terkait rencana tersebut: “Saya rasa sebagian besar rakyat akan mengerti bahwa kami tidak akan bekerja sama dengan mereka yang mengorganisir kudeta.”

Kepada para individu luas yang ingin membantu demokrasi Lugo di Paraguay, Lugo merekomendasikan: “Jika ada yang ingin mendukung proses demokrasi di sini, kemudian hal terbaik yang bisa kau lakukan adalah mulai mengikuti apa yang sedang terjadi di sini. Jika media memberitakan tentang Paraguay, hal itu sangat membantu demokrasi kami.”

Pemilu Presiden mendatang telah siap diadakan sebelum kudeta tersebut terjadi. OAS telah fokus untuk menemukan kondisi seperti apa yang perlu dipersiapkan bagi pemilu bebas mendatang. Lugo percaya ini tidaklah cukup: “Yang jadi masalah adalah ketika hanya melihat masa depan dan tidak pernah melihat apa yang telah terjadi saat ini. Ini artinya orang melupakan apa yang terjadi sekarang dan bahwa situasi saat ini tidak baik-baik saja – mereka yang sebenarnya bertanggung jawab sekarang tidak menjalankan apa yang dikehendaki rakyat. Itulah mengapa kami akan terus memperjuangkan agar kasus kudeta ini diselesaikan.

Johannes Wilm adalah ssiswa PhD di Kampus Goldsmith, Universitas London jurusan antropologi sosial. Blognya dalam bahasa Inggris bisa didapatkan di http://www.johanneswilm.org dan dalam bahasa Spanyol di  http://johannes.si

Artikel ini diterjemahkan oleh DST

24/07/2012

Venezuela: Sebuah Ancaman Bagi Washington?





Oleh  Eva Golinger – Kartu Pos dari Revolusi , 21 Juli  2012 

Semenjak pertama kali Hugo Chavez terpilih sebagai presiden Venezuela pada tahun 1998, Washington dan sekutunya telah mencoba untuk merongrong pemerintahan Chavez. Saat Chavez menjadi kandidat presiden, Departemen Amerika Serikat menolak visanya untuk berpartisipasi di salah satu wawancara televisi di Miami. Kemudia, saat ia memenangkan pemilihan presiden, Duta Besar John Maisto memanggilnya secara pribadi dan menawarkan padanya sebuah visa. Beberapa bulan kemudian, Amerika berupaya untuk membeli presiden terpilih Venezuela yang baru. Pengusaha, politisi dan kepala negara dari Washington dan Spanyol menekannya untuk menyerahkan agendanya. “Datanglah bersama kami”, desak Perdana Menteri Spanyol, Jose Maria Aznar, yang mencoba membujuknya dengan tawaran kekayaan dan kemewahan sebagai imbalan atas kepatuhannya. 

Saat Chavez menolak patuh, ia kemudian dikudeta pada 11 April 2012, yang didanai dan direncanakan oleh Washington. Saat kudeta gagal dan pendukung Chavez menyelamatkan demokrasi dan presiden mereka kurang dari 48 jam, upaya untuk merongrong pemerintahannya berlanjut. “Kami harus mempersulit dirinya dalam memerintah”, kata mantan kepala Departemen Luar Negeri AS Lawrence Eagleberger.
Segera, Venezuela dikenai sabotase ekonomi, pemogokan industri minyak, kerusuhan di jalanan, dan peperangan media secara brutal yang mendistorsi realita negara di tingkat nasional dan internasional. Sebuah rencana untuk membunuh Chavez dengan militer Colombia di Mei 2004 yang kemudian dihalau oleh pasukan keamanan negara. Beberapa bulan kemudian, oposisi yang dibekingi oleh Amerika Serikat mencoba untuk mencabut mandatnya dalam sebuah referendum recall, akan tetapi sekali lagi, rakyat menyelamatkan Chavez dengan kemenangan telak 60 -40. 

Semakin populer Chavez, semakin banyak jutaan dolar mengalir dari agen Amerika Serikat kepada kelompok anti Chavez untuk merongrong, mendiskreditkan, mendelegitimasi, menggulingkan, membunuh atau memindahkannya dari kekuasaan dengan berbagai cara. Pada bulan Desember 2006, Chavez terpilih kembali sebagai presiden dengan hitungan 64% suara. Dukungan kepadanya  meningkat di Venezuela dan seluruh Amerika Latin. Pemerintah baru di Argentina, Brazil, Bolivia, Ekuador, Honduras, Nikaragua, Uruguay dan beberapa negara Karibian bergabung dalam kooperasi regional, persatuan regional, kedaulatan regional yang diinisiasi oleh Caracas. Washington mulai kehilangan pengaruh dan kontrolnya atas “lahan suburnya”.

Aliansi Bolivarian untuk Rakyat Amerika kita (ALBA), Persatuan Bangsa Amerika Selatan (UNASUR), PetroCaribe, PetroSur, TeleSur, Bank ALBA, Bank Selatan dan Komunitas Amerika Latin, Negara- negara Caribia (CELAC) dibentuk. Washington tidak terlibat dalam salah satu organisasi ini, demikian pula kelompok elitnya yang sebelumnya mendominasi wilayah ini.   

Pada bulan Januari 2005, Condoleezza Rice mengatakan bahwa Chavez membawa “pengaruh negatif” di wilayah Amerika Latin. Pada bulan Maret, CIA menempatkan Venezuela dalam 5 daftar teratas mereka. Beberapa bulan kemudian, Reverend Pat Robertson secara terbuka menyerukan pembunuhan terhadap Chavez, yang mereka klaim menghabiskan dana tak kurang dari “$ 2 miliar”. Pada tahun yang sama,   saat Venezuela menangguhkan kerja sama dengan Administrasi Penyelenggara Obat Amerika Serikat (DEA) karena tindakan tersebut dianggap sabotase  dan spionase, Washington mengklasifikasikan Venezuela sebagai bangsa yang “tidak mau bekerja sama dalam memerangi narkotika”. Tidak ada bukti yang berhasil menunjukkan bahwa pemerintah Venezuela terlibat dalam perdagangan narkoba. 

Pada bulan Februari 2006, Direktur Intelejen Nasional John Negroponte memasukkan Venezuela sebagai “ancaman berbahaya” bagi Amerika Serikat. Sekretaris Departemen Pertahanan Donald Rumsfled membandingkan Chavez dengan Hitler. Pada tahun yang sama, Washington memciptakan misi Intelejen khusus yang didedikasikan kepada Venezuela dan Kuba, meningkatkan sumber daya dalam operasi memerangi Kuba dan Venezuela. Pada bulan Juni 2006, Gedung Putih menempatkan Venezuela dalam daftar negara “yang tidak mau bekerja sama dalam memerangi terorisme”. Klasifikasi ini menyebabkan sanksi diberikan kepada Venezuela berupa larangan menjual persenjataan militer dan pertahanan dari Amerika Serikat dan perusahaan Amerika serikat atau semua yang menggunakan tekhnologi Amerika Serikat ke Venezuela. Meski tidak ada bukti yang berhasil ditunjukkan oleh Amerika Serikat atas tuduhannya.
Pada tahun 2008, pentagon mengaktifkan kembali  Armada Ke empat (Fourth Fleet), sebuah wilayah militer Amerika Latih dan Karibia. Wilayah tersebut sebenarnya telah dinonaktifkan pada tahun 1950 dan sudah lama tidak berfungsi, sampai kemudian Washington memutuskan bahwa wilayah tersebut perlu untuk meningkatkan keberadaan dan kekuatannya di wilayah tersebut. Pada tahun 2010, Amerika Serikat membentuk kesepakatan dengan Kolumbia untuk mendirikan 7 basis militer di wilayah Kolumbia. Sebuah dokumen Air Force membenarkan bahwa peningkatan budget atau danan untuk pembangunan basis militer  bertujuan untuk mengkounter atau mengantisipasi ancaman dari pemerintah anti Amerika di wilayah tersbeut”.  

Media internasional menyebut Chavez sebagai diktator, tiran, otoritaer, narco, anti Amerika, teroris akan tetapi mereka selalu gagal memberikan bukti bahwa Chavez memang berbahaya. Mereka merubah imej Venezuela menjadi imej kekerasan, tidak aman, kriminal, korup, perusuh, gagal memberikan prestasi dan kemajuan sosial selama dekade terakhir atau menyebabkan adanya kesenjangan sosial yang tinggi dan lebih tertinggal dibanding pemerintahan sebelumnya. 

Selama bertahun-tahun, sebuah kelompok anggota kongres Amerika Serikat – demokrat dan republik – telah mencoba untuk menempatkan Venezuela di dalam daftar mereka sebagai “negara yang mensponsori terorisme”. Mereka mengklaim hubungan antara Venezuela dan Iran, Venezuela dan Kuba  dan bahkan Venezuela dan China sebagai bukti bahwa Venezuela adalah “ancaman besar” yang diwakili oleh bangsa Amerika Selatan atas Washington. 

Mereka mengatakan lagi dan lagi bahwa Venezuela dan Chavez dan Venezuela adalah ancaman bagi Amerika Serikat. “Ia harus berhenti”, kata mereka, sebelum ia “Mendaratkan bom Iran pada kita”
Dalam sebuah wawancara beberapa hari lalu, Presiden Barak Obama mengatakan Chavez bukan ancaman bagi keamanan Amerika Serikat. Kandidat Predisen dari partai Republik Mitt Romney menyatakan bahwa Chavez adalah ancaman besar bagi Amerika Serikat. Kemarahan masyarakat Kuba dan Venezuela di Miami pun sampai kepada Obama. Akan tetapi mereka tak perlu kuatir karena Obama meningkatkan dana kepada kelompok Anti Chavez tahun ini. Lebih dari $ 20 juta yang diambil dari pajak rakyat Amerika Serikat telah dialirkan melalui agen Amerika Serikat unutk mendanai kampanye pihak oposisi di Venezuela.
Apakah Venezuela menjadi ancaman bagi Washington? Di Venezuela, hanya “kelompok teroris”, yang mencoba untuk mendestabilisasi negara, mayoritas dengan dukungan poliitk dan finansial dari Amerika Serikat. Perdagangan narkoba di Kolombia, yang memproduksi dan mentransit narkoba mengalami peningkatan selama Amerika Serikat melakukan invansi yang kemudian dikenal dengan Plan Colombia (Rencana Kolombia). Hubungan dengan Iran, Kuba, China, Russia dan lainnya adalah hubungan normal bilateral –multilateral – yang mengikat antar negara. Tidak ada bom, tidak ada rencana serangan, tidak ada rahasia yang mengancam. 

Tidak, Venezuela bukanlah ancaman bagi Washington. 

Kemiskinan telah berkurang lebih dari 50% semenjak Chavez berkuasa pada tahun 1998. Kebijakan pemerintah menciptakan masyarakat dengan partisipasi massal dalam pengambilan keputusan bidang ekonomi, politik, dan sosial. Program sosial –disebut misi- telah menjamin pengobatan dan pendidikan gratis, dari tingkat dasar hingga tingkat atas, dan menyediakan beberapa makanan dasar dengan biaya terjangkau, siring dengan upaya menciptakan dan mempertahankan bentuk kerja sama, bisnis kecil dan menengah dan organisasi masyarakat dan komune. Budaya Venezuela telah diselamatkan dan dihargai, memulihkan kebangkaan dan identitas nasional, dan menciptakan sentimen rasa bermartabat dari pada rendah diri. Media komunikasi telah dikembangkan selama dekade terakhir, memberikan ruang ekspresi bagi semuanya.
Industri minyak, telah dinasionalisasi pada tahun 1976 akan tetapi telah beroperasi sebagai perusahaan swasta, dan telah dipulihkan untuk keuntungan negara, bukan untuk keuntungan perusahaan multinasional dan para elit. Lebih dari 60% dari budget tahunan didedikasikan untuk program sosial di Venezuela, dengan prinsip untuk mengatasi kemiskinan. 

Caracas, sebagai ibu kota negara telah dipercantik. Taman dan plaza telah dirubah menjadi tempat berkumpul, bersenang-senang dan aman dikunjungi oleh pengunjung. Di sana terdapat musik-musik di jalanan, seni di dinding dan perdebatan yang kaya akan gagasan antar penduduk setempat. Polisi komunal yang baru bekerja untuk memerangi kriminalitas dan kekerasan, mengatasi permasalahan hingga ke akar permasalahan sebagai sebab utama. 

Kebangkitan Venezuela telah meluas di seluruh benua dan di sebelah utara Karibia. Sensasi atas kedaulatan, kemerdekaan dan berserikat di wilayah ini telah dikubur oleh bayangan pembangunan terbelakang dan subordinasi yang dilakukan oleh kekuasaan kolonial selama berabad-abad sebelumnya.
Tidak, Venezuela bukanlah ancaman bagi keamanan Amerika Serikat. Venezuela adalah contoh bagaimana rakyatnya mampu bangkit, menghadapi hambatan yang paling sulit dan tekanan kekuasaan yang paling brutal, bagaimana rakyat sanggup membangun model pemerintahan yang berkeadilan sosial dan contoh bagaimana kesejahteraan manusia dihargai atas kekayaan ekonominya.  

Itulah yang dimaksud ancaman dari Chavez dan Venezuela bagi Washington: Ancaman berupa  contoh pemerintahan yang baik. 

diterjemahkan oleh DST dari venezuelanalysis.com

21/07/2012

Empat Juta Lapangan Kerja Diciptakan di Bawah Pemerintahan Presiden Chavez




Presiden Institut Statistik Nasional, Elias Eljuri, mengatakan pada hari Kamis lalu bahwa sekitar 4 juta pekerjaan telah diciptakan di Venezuela dalam kurun waktu 11 tahun, yang menunjukkan kemajuan ekonomi negara dan kebijakan sosial politik Presiden Hugo Chavez yang efektif.

“Ini adalah fakta bahwa ekonomi Venezuela tidak hanya mampu menyerap secara penuh populasi yang aktif secara ekonomi pada rentang 1999 dan 2012, akan tetapi juga menyerap jampir 515.000 (lima ratus limabelas ribu) pengangguran bersama dengan empat juta rakyat lainnya sebagai tenaga kerja selama periode ini”, Jelas Eljuri.

Ia menyorot kemajuan penciptaan lapangan kerja termasuk laporan Institut Statistik yang terbaru terkait tingkat pengangguran di Venezuela yang berkurang menjadi 7.4% di bulan Juni.
“Pada bulan Juni 2011 dan Juni 2012 angka tenaga kerja yang terserap menunjukkan di poin 1.2%, yang merepresentasikan peningkatan 441.042 orang yang telah bekerja”  berdasarkan laporan tahunan angka pengangguran

Selain itu, laporan tersebut menyorot tentang laporan menurunnya angka pengangguran hampir 50% di bawah pemerintahan Presiden Hugo Chavez, yang berkurang dari angka 15% di Juni 1999 menjadi 7.4% di Juni 2012.

Laporan ini juga mengindikasikan kualitas pekerjaan yang meningkat, dan sektor-sektor yang bergerak stabil dan pekerjaan produktif pun telah dikonsolidasikan.

Jumlah pekerja formal meningkat dari angka 46.3% pada Juni 1999 ke angka 57% pada periode yang sama di tahun 2012. Sementara, jumlah pekerja informal menurun dari angka 53.7%  di tahun 1999 ke angka 43% tahun 2012.

Berdasarkan laporan tersebut, secara ekonomi, jumlah penduduk aktif  selama satu tahun meningkat sebesar 237,247 orang, melonjak dari 13.25 juta orang di bulan Juni 2011 ke 13.55 juta lebih bulan Juni ini.

AVN / Kantor Berita – Kedutaan Venezuela untuk  the U.S. / July 13, 2012

16/06/2012

Pelangi Kuba: Revolusi Seksual di dalam Revolusi


Oleh: Rachel Evan
Diterjemahkan oleh: Vivi Widyawati dari Links
(catatan editor: penerjemahan ini baru dilakukan sebagian kecil hanya meliputi kronik pembebasan homoseksual di Kuba, bagian mayoritas dari hasil penelitian penulis belum diterjemahkan. Kunjungi tautan artikel asli untuk membaca lanjutannya)
Ketika aku berusia 16 tahun, aku pergi ke acara solidaritas Kuba di kota kelahiranku. Dalam pidato penutupan yang inspiratif tentang catatan kesehatan di Kuba, standar pendidikan dan kebijakan revolusi untuk mengirimkan dokter-dokter dan guru-guru ke negeri-negeri miskin, dengan teriakan meriah “Cuba yes, Yankee No!”. Jauh lebih baik dari perasaan, nyanyian dan tarian palsu saat di gereja pada hari minggu. Aku sangat terkesan, dan berhasil mengunjungi negeri tersebut dan melihat revolusi itu dengan mata kepala sendiri. Bertahun-tahun kemudian, dan setelah saya memutuskan “keluar dari kloset”, aku putuskan kunjunganku ke Kuba dapat membantu membuktikan atau menghilangkan hal yang sering dinyatakan bahwa Kuba homophobia.