19/03/2008

Peluncuran Hands off Venezuela Indonesia

NO VOLVERAN
Revolusi Venezuela Sekarang

… Inilah Revolusi Bolivarian Venezuela;.
untuk pertama kalinya rakyat menaruh minat pada politik,
dan mengambil kendali di kehidupan mereka…
Akhiri penderitaan; akhiri kemiskinan; sekarang juga!
Akhiri sistem ini pada akarnya. Hidup Sosialis!

Mengundang kawan-kawan

HADIR, BERDISKUSI, DAN BERSOLIDARITAS

Acara:
Peluncuran Hands Off Venezuela (HOV) Indonesia dan Pemutaran Film NO
VOLVERAN "Revolusi Venezuela Sekarang"

Diskusi Publik dengan tema:
"Arah Ekonomi Baru, Demokrasi Baru, dengan Revolusi"

Pembicara:
Eko Prasetyo (Resist Book - Yogyakarta)
Zely Ariane (HOV Indonesia, KPRM - PRD)
Sadikin Gani (Rumah Kiri)

Waktu
Jum'at, 28 Maret 2008, Pk. 13:00 - Selesai

Tempat
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Lt.1
Jl. Diponegoro No. 76 Jakarta.

Informasi
Jesus S. Anam Hp. 02517104542, Sadikin Hp. 081573218225, Zely Hp.
08158126673, Arfi Hp. 085263548807, Arif Hp. 081578503444, Adi Hp.
081315921593.

Term Of Reference
Peluncuran Hands Off Venezuela (HOV) Indonesia dan Pemutaran Film NO
VOLVERAN "Revolusi Venezuela Sekarang"

Jakarta, 28 Maret 2008

Latar Belakang
Distorsi dan penyelewengan informasi oleh berbagai media atas Revolusi
Bolivarian di Venezuela telah melahirkan Hands Off Venezuela, sebuah
kampanye solidaritas untuk Revolusi Bolivarian. Kampanye ini telah
menyebar ke perbagai negara dan sekarang telah memiliki pendukung di
lebih dari 30 negara di dunia. Prinsip dasar dari kampanye ini adalah:

1. Bersolidaritas dengan Revolusi Bolivarian.
2. Menentang intervensi imperialis di Venezuela.
3. Membangun hubungan dengan gerakan revolusioner dan gerakan
serikat buruh di Venezuela.

HOV – Indonesia dibangun sebagai upaya memperluas dukungan atas
Revolusi Bolivarian, propaganda program-program sosialis
(pencapaiannya, proses-prosesnya, dll.) di Venezuela, dan sebagai
wahana belajar bagi gerakan-gerakan revolusioner dan gerakan-gerakan
buruh di Indonesia menuju terwujudnya revolusi di Indonesia.

Tujuan
Kampanye ini bersifat terbuka bagi siapa saja, baik secara individu
maupun kelompok, yang setuju dengan tujuan-tujuan dari kampanye.
Tujuan-tujuan dari kampanye tersebut adalah:

1. Mendukung penuh Revolusi Venezuela, yang telah berulangkali
terbukti menjalankan mandat demokratiknya, dengan berjuang membebaskan
penindasan yang terjadi di Venezuela.
2. Mempertahankan Revolusi dari serangan imperialisme dan agen-agen
lokalnya, yakni oligarki Venezuela.
3. Mendukung konfederasi serikat pekerja, UNT, sebagai corong yang
sah dari gerakan buruh.
4. Memberikan informasi yang benar tentang Venezuela yang selama
ini diselewengkan oleh banyak media, dan memobilisasi dukungan yang
sebanyak-banyaknya bagi tercapainya tujuan-tujuan tersebut.

Selain hal-hal yang telah disebut di atas, HOV – Indonesia bisa
menjadi gerakan bersama guna mengeksplorasi revolusi Indonesia dengan
belajar dari kasus Venezuela.

Peserta

1. Organisasi
2. Individu

Materi

1. Pemutaran Film ( Sinopsis terlampir)
2. Diskusi Panel

Waktu dan Tempat

Tanggal 28 Maret 2008, jam 13.00 – selesai
Gd. LBH lt. 1 Jl. Diponegoro No. 76 Jakarta

Lampiran

Sinopsis Film Dokumenter No Volveran

No Volveran adalah sebuah dokumenter tentang Revolusi: suatu perubahan
radikal atas kepemilikan alat produksi, transformasi kesadaran dan
kebudayaan, serta peningkatan tenaga produktif, yang sedang berkembang
di Venezuela. Melalui apa yang disebut `revolusi damai', proses itu
sedang memobilisasi rakyat untuk membuat mungkin apa yang selama ini
dianggap mustahil oleh banyak orang: mengambil alih industri pokok di
bawah kontrol buruh; mendistribusi kekayaan negeri; melakukan
referendum; melunasi utang luar negeri; memutus hubungan dengan IMF;
mengorganisasikan kekuatan rakyat miskin untuk mengurus negeri dan
kehidupannya sendiri; dan seterusnya, dan seterusnya.
Film berdurasi 90 menit, produksi tahun 2007, ini gempita dengan
kegembiraan rakyat terhadap revolusi. Untuk pertama kalinya dalam
sejarah Venezuela, rakyat memiliki kekuatan untuk memerintah dan
menentukan masa depan kehidupan mereka sendiri.

"… Rakyat telah bangkit, dan mereka tak akan diintimidasi lagi.
Kami akan korbankan segalanya untuk mempertahankan proses ini."
"... banyak ibu rumah tangga berkata, kalau perlu jual tv untuk
beli senapan, itu (pun) akan dilakukan."
"… kami sekarang punya harga diri, dan kami bukan lagi kaum
terpinggir dan terlupakan, melainkan rakyat masa depan... kami adalah
pemimpin…"

Pendidikan gratis, kesehatan gratis, pembangunan perumahan sehat,
makanan sehat dan murah, dan seterusnya, tidak didapatkan rakyat oleh
karena belas kasih atau derma dari orang kaya atau pemerintah. Hak-hak
tesebut didapatkan karena mobilisasi rakyat mempertahankan proses
Revolusi: menggagalkan kudeta dari oposisi sayap kanan (April 2002)
dan boikot para pemiliki bisnis dan industri (Desember 2002),
mengalahkan referendum pemecatan terhadap Hugo Chavez, Presiden
Venezuela (Agustus 2004); memilih Chavez kembali sebagai Presiden
(Desember 2006); membentuk dewan-dewan komunal dan dewan-dewan buruh
sebagai instrumen revolusi.

Revolusi oleh rakyat Venezuela kini dianggap sebagai satu-satunya
jalan untuk dapat merubah nasib, sehingga mereka berbondong-bondong
mempertahankannya, dan mengatakan TIDAK pada Kekuatan Lama (No Volveran).

"...Inilah saatnya, membangun gerakan massa dan menyingkirkan klas
penguasa, agar semua punya kesempatan berkembang secara spritiual,
fisik, ekonomi dan segala aspek kehidupan. Dalam kapitalisme kita tak
bisa."

Sampai Menang.***


04/03/2008

[Debat} Bulan di Atas Kuba

Tempo, Edisi. 01/XXXVII/25 Februari - 02 Maret 2008

Bulan di Atas Kuba
Setelah hampir separuh abad berkuasa, Fidel Castro akhirnya mundur. Pemimpin baru di persimpangan jalan. Jenderal Raul Castro, adik Fidel, salah satu calon penggantinya.

TAK ada yang abadi. Begitu juga penguasa Kuba Fidel Castro dan kekuasaannya. "El Comandante"- begitu Castro disebut-membuat pernyataan penting pada Selasa pekan lalu: dia tak mau lagi dipilih sebagai Presiden Kuba pada sidang Majelis Nasional. Berita itu dirilis lewat situs berita resmi milik Partai Komunis Kuba, Digital Granma Internacional. "Saya tak akan menerima posisi sebagai Presiden Dewan Negara dan Panglima Militer," tulis Castro. Sidang majelis dilangsungkan Selasa pekan ini.

Sejak pertengahan 2006, Castro sakit dan harus operasi di bagian perut. Sejak itu dia tak pernah lagi tampil di depan umum. Tak jelas apa penyakitnya, hanya disebut-sebut dia mengalami pendarahan usus. Itu tampaknya menjadi alasan mundur. Meski tak lagi berpidato, dia masih kerap tampil di televisi serta pada sejumlah foto resmi.

Lelaki berjanggut yang badannya berayun-ayun ketika berpidato itu kini lebih banyak melakukan "refleksi dan meditasi". Sejak pekan lalu, setiap hari ada satu tulisannya di situs Granma. Refleksi Fidel mencakup soal politik, ekonomi, dan ideologi. Terakhir, misalnya, dia menulis tentang politik Amerika lewat lima seri tulisan. Meski kini hanya menulis, Fidel mengatakan tak akan meninggalkan politik. "Ini bukan ucapan selamat tinggal," ujarnya. Dia ingin tetap berjuang sebagai prajurit. Bukan prajurit bersenjata, tapi prajurit ide.

Reaksi pertama tentu datang dari Presiden Amerika Serikat, musuh tradisional Fidel. Saat George W. Bush berkunjung ke Rwanda dan lima negara Afrika lain pekan lalu, ia ingin ada transisi demokratik di Kuba. "Bukan sekadar suksesi di dalam kediktatoran, " ujarnya. Tentu ucapan itu sudah kerap didengar Fidel dari mulut Presiden Amerika.

Sejak berkuasa, Fidel menyaksikan sepuluh Presiden AS naik-turun ke Gedung Putih. Pada 1959, lelaki yang lahir di Biran, Kuba Timur, itu memimpin 800 personel, mengalahkan 30 ribu prajurit diktator Fulgencio Batista. Setelah melancarkan gerilya, dia menduduki Havana, mengusir Batista, lalu menjadi legenda. Pemberontakan itu semula didukung Amerika, belakangan Fidel menyatakan pemberontakan itu sebagai kemenangan komunisme.

Sejak itu, Amerika yang merasa tertipu mencoba menjatuhkan Fidel. Embargo ekonomi dilancarkan, tetapi "El Comandante" bertahan dengan merapat ke Uni Soviet. Lalu, berbagai upaya pembunuhan atas dirinya diorganisir CIA, termasuk peristiwa Teluk Babi pada 1961. Semua gagal dan hanya membuat dia kian membenarkan sikap menindas "elemen kapitalisme dan imperialisme" di Kuba. Ujungnya, Fidel Castro menjadi diktator.

Tekanan Amerika juga membuat Kuba harus mencari akal untuk bertahan. Mungkin itu sebabnya Fidel Castro tetap menggenjot ideologi komunisme. Lihatlah di Calle Obispo, sepotong jalan di kawasan kolonial Old Havana. Ada plakat besar tertempel di museum Komite Pertahanan Revolusi, organisasi warga yang dibentuk Fidel pada 1960. Museum itu baru didirikan tahun lalu. Plakatnya berbunyi: Sr Bush: este pueblo no puede ser enganado ni comprado (Tuan Bush, rakyat kami tak bisa ditipu atau dibeli). Di dinding terpatri pidato-pidato Fidel dan jumlah anggota Komite, yang sampai 2007 mencapai 8,4 juta dari 11 juta warga Kuba.

Setelah Uni Soviet bubar, Kuba memang kerepotan. Ekonominya menciut 35 persen sepanjang 1989-1993. Banyak yang menduga Kuba bakal runtuh, toh negeri cerutu itu bertahan. Fidel segera menyatakan "periode khusus" ketika Kuba boleh menerima modal asing, mempromosikan turisme, terutama hotel, pertambangan nikel, telekomunikasi, dan minyak bumi. Ekonomi sedikit membaik, tapi Fidel terpaksa menghentikannya pada 1996. Akibat modal masuk itu, ada jurang pendapatan di tengah rakyat.

Dibanding Cina dan Vietnam, dua negara komunis yang melaju setelah mencangkok kapitalisme, Kuba memang lebih lambat. Untunglah ada Hugo Chavez, pemimpin Venezuela, yang mengidolakan Fidel. Venezuela lalu ibarat Uni Soviet bagi Kuba. Keduanya melakukan ekonomi barter. Chavez meminta 20 ribu dokter, guru olahraga, dan ahli keamanan dari Kuba untuk bekerja di negerinya. Sebagai balasan, Venezuela mengucurkan minyak sejumlah 92 ribu barel per hari ke Kuba, dan menyetor US$ 800 juta pada 2006, dan US$ 1,5 juta (setara Rp 14 miliar) pada 2007.

Berkat Venezuela, ekonomi Kuba kembali bergerak. Negeri itu bisa punya energi listrik lumayan baik. Apalagi, ketika bantuan kredit dari Cina datang. Kuba mengganti armada bus reot mereka dengan buatan Cina yang lebih hemat bahan bakar. Meski begitu, negara itu masih terbebat problem pendapatan rendah. Biaya hidup pun melangit.

Gaji seorang buruh pabrik, misalnya, berkisar 400 peso. Dokter? Jangan kaget, hanya 700 peso. Angka itu pun kalau ditukar ke dolar di pasar gelap hanya berkisar US$ 17-30 (setara Rp 150-180 ribu). Peso hanya cocok membeli sembako bersubsidi. Setiap bulan, lewat Komite Pertahanan Revolusi, warga dijatah 2,25 kilo beras per orang. Ditambah setengah liter minyak goreng. Kalau stok lagi ada, warga bisa kebagian kedelai, gula, sardin, daging, sabun dan pasta gigi. Ini semua cuma bisa bertahan sepekan.

Meski begitu, soal kesehatan dan pendidikan, Kuba boleh menepuk dada. Mereka bisa menggratiskan rumah sakit dan sekolah, tetapi ada masalah besar juga. Dengan ekonomi morat-marit, sekolah kini kekurangan guru. Banyak tenaga pengajar pindah ke sektor turisme. Di sektor itu duit lebih menjanjikan. Soal fasilitas kesehatan pun kini terancam gawat. Gedung rumah sakit banyak yang lapuk. Peralatan medis dan obat pun terbatas.

Banyak pengamat mengatakan, jika Fidel mundur, maka Kuba bakal berubah. Namun, jika Raul Castro, 76 tahun, yang menggantikannya maka perubahan mungkin tak terlalu besar. Raul adalah adik kandung Fidel, kini adalah pejabat presiden, sejak sang abang absen 19 bulan karena sakit. Dia juga Menteri Pertahanan. Meski dikenal pragmatis, Raul adalah motor dari Partai Komunis Kuba. Pada Juli lalu dia berjanji membuat "perubahan struktural dan konseptual", tapi belum begitu jelas ke mana arah ekonomi dan politik Kuba nanti.

Jika Raul tidak naik, calon kedua menjadi penting. Namanya Carlos Lage, anggota Politbiro dan Ketua Dewan Menteri Negara. Umurnya 51 tahun. Artinya, ketika Fidel dan kawan-kawannya menggulingkan Batista, dia baru tiga tahun. Karena itu, Lage termasuk generasi muda yang tak terkait pengalaman politik kaum tua. Sebagai penasihat ekonomi Fidel, dia diharapkan menjadi motor perubahan.

Sejak Raul Castro pegang kendali, politik Kuba sedikit lebih lega. Para seniman dan penulis agak relatif bebas. Raul juga pernah minta maaf kepada bekas pejabat yang terkena "revolusi kebudayaan" pada 1970-an. Tapi, memang, kritik hanya boleh dilakukan terbatas. Warga boleh menghujat isu ekonomi, dan korupsi birokrasi. Soal politik belum boleh disentil. "Kalau kami bicara jelek soal Fidel, kami bisa di penjara," ujar Rodrigo, warga Havana.

Fidel dan revolusi Kuba kini berada di persimpangan. Rakyat akan mencatat dia sebagai pemimpin setia kepada revolusi. Dia bukan pemimpin korup dan kaya-raya seperti diktator lain. Fidel adalah pemimpin yang tak bisa berpisah dari rakyat, seperti cintanya kepada revolusi. Dan, revolusi baginya tak lain adalah pengabdian absolut memenuhi kebutuhan rakyat.

Suatu kali, setahun setelah menggulingkan diktator Batista pada 1959, filsuf dan sastrawan Prancis Jean-Paul Sartre bertandang ke Kuba. Perjalanan itu akhirnya dibukukan dalam Sartre on Cuba, yang terbit sekitar 1961. Di sana, terekam satu dialog menarik antara Fidel dan filsuf eksistensialisme itu. Sartre bertanya, apakah Fidel akan memenuhi semua permintaan rakyat?

+ "Ya, karena semua permintaan merefleksikan kebutuhan."

- "Bagaimana jika mereka meminta bulan?"

Fidel terdiam. Dia mengisap cerutunya dalam-dalam.

+ "Kalau itu mereka minta, berarti rakyat memang membutuhkannya. "

Fidel baru saja menyatakan "pensiun" pekan lalu. Mungkin, dia mengingat kembali dialog setengah abad lampau. Seperti bulan, kebutuhan rakyat kini tampak terang: perubahan di Kuba.

Nezar Patria (Granma, Economist)

________

-Tanggapan Coen HP-

Dear all,

Membaca laporan Nezar ini, aku seperti membaca laporan
media-media kapitalis liberal, tentang peralihan
kekuasaan di Kuba. Media seperti The Independent atau
Guardian banyak menulis, bahwa perubahan yang kini
terjadi di Kuba, belumlah seperti yang diinginkan.

Coba baca tulisan Rory Carroll di the Guardian pada
25 February, "The dearth of suspense underscored the
authorities' tight control over the island and its 11
million people, many of whom hanker for relief from
poverty harsher than that experienced in eastern
Europe before the fall of the Berlin wall."

Media-media ini juga menilai peralihan kekuasaan di
Kuba tak lebih seperti peralihan kekuasaan di sebuah
kerajaan, atau khas seperti peralihan kekuasaan di
Korsel. Mereka menghendaki peralihan kekuasaan
berlangsung secara "normal" dan "damai."

Kita tentu saja mahfum argumen seperti ini sangatlah
politis, tidak ilmiah. Dimanapun, jika terjadi
peralihan kekuasan yang damai, rejim baru tentu
berusaha melanjutkan kebijakan rejim lama. Coba lihat
dari rejim Clinton yang demokrat ke rejim Bush yang
Neocon, keduanya sama-sama agresor dan menjalankan
kebijakan ekonomi yang sama: neoliberal. Atau
peralihan kekuasaan dari Tony Blair ke Gordon Brown,
apa perbedaan signifikannya? Juga dari Gus Dur ke
Megawati lantas ke SBY, beda substansialnya apa?

Kecuali perubahan kekuasaan itu berlangsung radikal
seperti dari Orde Soekarno ke Orde Soeharto, jelas ada
perubahan kebijakan yang juga radikal. Atau dari
Batista ke Castro.

Nezar juga menulis bahwa setelah berkuasa, Castro
kemudian menjadi diktator. Patut ditanyakan, dalam
pengertian seperti apa kata Diktator yang dimaksud
Nezar? Kalau menggunakan teori pembagian kekuasaan
atas tiga cabang kekuasaan legislatif, eksekutif dan
yudikatif, maka benar bahwa Castro berkuasa secara
diktator. Tapi, Kuba memang tidak mengadopsi demokrasi
liberal, apalagi jika itu bermakna th way of american
politics.

Saya pernah menulis agak panjang soal demokrasi di
Kuba ini di Jurnal terbitan insist Yogyakarta pada
2005, di mana saya menunjukkan bahwa partisipasi
rakyat dalam setiap jenjang pemilihan umum di Kuba
sangatlah tinggi. Dan mereka yang terpilih dalam
Pemilu, tidak selalu merupakan calon dari Partai
Komunis Kuba.

Selain itu, Nezar menulis bahwa hubungan antara
Venezuela dan Kuba ibarat hubungan antara Uni Sovyet
dan Kuba. "Venezuela lalu seperti ibarat Sovyet kedua
bagi Kuba," tulisanya. Aah, tentu ini pengibaratan
yang berlebihan. Dalam kasus hubungan Kuba-Sovyet,
posisi Kuba adalah subordinat, sementara dalam
hubungan Kuba-Venezuela, hubungan keduanya adalah
setara. Secara politik bahkan keduanya sangatlah
berbeda, walaupun Chavez merupakan pengagum Castro.

Di bagian lain, Nezar menulis bahwa Kritik hanya boleh
dilakukan secara terbatas dan para seniman dan penulis
baru merasa lebih bebas ketika Raul Castro menjabat
sebagai acting president. Nezar mungkin kekurangan
informasi. Dari segi penerbitan buku, misalnya, Kuba
sangatlah produktif. Kita ambil contoh sejak
dimulainya pelaksanaan Festival Buku pada 1982, selalu
diramaikan oleh besarnya animo penerbit dan
pengunjung. Pada pelaksanaan Cuban Book Fair yang
ke-17 tahun ini, misalnya, jumlah penerbit yang
berpartisipasi sebanyak 145 dimana 90 di antaranya
berasal dari luar negeri. Coba bandingkan dengan
jumlah partisipan penerbitan buku di Indonesia.

Mau tahu berapa jumlah buku yang terbit setiap tahun
di Kuba? Pada masa krisis ekonomi tahun 1990an,
jumlah buku yang terbit "cuma" 50 juta eksemplar. Kini
berdasarkan laporan Cuban Books Institute, jumlah buku
yang terbit pasca krisis hanya bertambah "sedikit"
menjadi 60 juta eksemplar. Cuban Institute sendiri
tahun ini hanya bisa menjual buku lebih dari 8 juta
eksemplar. Dari segi topik, kecuali buku-buku mesum,
hampir semua buku ilmiah yang terbit di Barat bisa di
jumpai di Kuba.

Setelah memuji soal prestasi Kuba di bidang pendidikan
dan kesehatan, Nezar menulis bahwa jumlah guru di Kuba
semakin berkurang. Masak iya? Hingga kini, Kuba adalah
negara dengan jumlah guru terbesar di Amerika Latin.
Dari segi komposisi jumlah guru-murid, untuk tingkat
sekolah dasar dari setiap 20 murid dilayani oleh satu
orang pengajar. Untuk tingkat sekolah menengah, satu
orang pengajar melayani 15 murid. Bahkan, di negara
seperti AS, komposisi seperti ini tak akan bisa
ditemukan.

Lalu soal gedung-gedung rumah sakit yang lapuk dan
peralatan yang terbatas. Nezar melupakan satu hal,
bahwa selama lebih dari 40 tahun Kuba diembargo secara
ekonomi oleh AS untuk semua bidang, termasuk fasilitas
medis. Tapi, kalau Nezar pernah menonton film Sicko
karya Michael Moore, tentu Nezar bisa melihat dengan
jelas betapa fasilitas kedokteran di Kuba yang masih
diembargo itu, sangatlah modern. Lebih dari itu,
gedung rumah sakit yang megah, bukan ukuran yang
akurat bagi kelayakan pelayanan medis. Indonesia tentu
contoh terbaik soal ini.

Lantas soal gaji yang cekak. Bung Nezar, orang memburu
uang setinggi-tingginya, karena takut akan resiko yang
mengancam masa depan hidupnya. Takut, jika ia sakit
tak mampu membiayai pengobatannya, takut jika anaknya
gede tak mampu menyekolahkan karena biaya pendidikan
yang melangit, atau takut jika ia tak mampu membeli
barang-barang luks seperti mobil, baju-baju mewah,
emas perhiasan, yang merupakan simbol jati diri
kemodernan. Tapi, jika pendidikan gratis, kesehatan
gratis, dan simbol kemodernan adalah solidaritas,
empati, dan kejujuran, lantas buat apa memburu harta
bertumpuk?

Pada akhirnya, terima kasih untuk laporan Nezar ini.
Saya kira, ini laporan tentang Kuba yang relatif
berimbang. Dan kini, Raul Castro telah resmi menjadi
presiden Kuba, tanpa arak-arak panser dan demonstrasi
massa yang brutal.

-C

23/02/2008

Sumbangan Revolusi Venezuela kepada Rakyat Dunia

-Mengapa kaum gerakan di Indonesia harus bersolidaritas-
Zely Ariane[1]

Tulisan ini merupakan pokok-pokok pikiran yang mendukung pembangunan Sosialisme Abad 21 di Venezuela. Sumbangan penting Revolusi Venezuela terhadap masa depan perjuangan sosialisme di dunia menuntut tanggung jawab gerakan revolusioner di seluruh dunia untuk memertahankan dan memajukan proses revolusioner di negeri itu; sekaligus membangun solidaritas diantara kaum kiri dan gerakan rakyat di negeri kita sendiri terhadap Revolusi Venezuela.

Sekarang, alternatif itu ada; mari mempertahankan dan memajukannya.

Ada Alternatif

Neoliberalisme telah kehilangan legitimasi dan landasannya, sejak ia tidak bisa “membebaskan pasar dan membiarkan tangan-tangan tak terlihat melakukan pekerjaan” untuk mengglobalisasikan kesejahteraan. Neoliberalisme telah mengkhianati filosofinya sendiri dan terpaksa kembali pada tipe Negara Kesejahteraan (Keynesianism) demi terlihat lebih manusiawi dan dermawan. Millennium Development Goals (MDGs), Corporate Social Responsibility (CSR), sokongan terhadap kebijakan Mikro Kredit (paling jauh) semacam Greemen Bank, adalah diantara formula klise mereka untuk mempertahankan sistem (kapitalisme), namun, tak pernah bisa menanggulangi globalisasi kemiskinan dan kehancuran tenaga produktif dunia saat ini.
Namun sekarang, dunia sudah berubah dan neoliberalisme sedang dipertanyakan. Revolusi Venezuela (bersamaan dengan kemajuan sosialisme Kuba) telah mempercantik dunia, membuat suatu (sistem) alternative menjadi mustahil dan menggugat apa yang dianggap oleh perspektif dominan sebagai akhir dari sejarah. Seiring perlawanan terhadap neoliberalisme di banyak tempat di dunia, perluasan alternative Venezuela telah menjadi isu besar diantara gerakan social: suatu alternative yang mengembalikan revolusi dan sosialisme ke dalam agenda perjuangan rakyat.

Revolusi Venezuela telah memutus rantai involusi di bawah neoliberalisme; merevolusionerkannya melalui proses transfer kekuasaan ke tangan rakyat (dengan demokrasi langsung dan partisipatif) serta mendistribusi kepememilikan pribadi (baik secara bertahap maupun simultan) yang membuka jalan bagi sosialisme abad 21. Sosialisme ini harus sanggup memberi jawaban kongkret bagi kemajuan tenaga produktif yang telah dihancurkan oleh kapitalisme yang rakus di banyak negeri di dunia ketiga; meningkatkan produktivitas rakyat yang selaras dengan keberlanjutan lingkungan; memperjuangkan suatu demokrasi langsung yang partisipatif untuk membangkitkan kesadaran rakyat atas kekuatannya sendiri untuk mengatur Negara dan kehidupannya.

Proses revolusioner yang menempatkan Chavez-Venezuela-Sosialisme Abad 21 sebagai suatu pilihan tandingan dari Bush-Washington-Neoliberalisme, bersamaan dengan kemajuan di Kuba, Bolivia, dan Ekuador, telah menginspirasi banyak kekuatan demokratik dan revolusioner di seluruh dunia. Pada kenyataannya, ada pusaran baru di dunia saat ini; pusaran alternative yang harus dibela oleh kaum kiri dan gerakan social di seluruh dunia.
Sumbangan Revolusi Venezuela

Revolusi sosialis dalam pengertian kongkritnya berupa sosialisasi kepemilikan pribadi, transformasi kesadaran dan kebudayaan, serta peningkatan tenaga produktif, sedang berkembang di Venezeula. Melalui apa yang disebut ‘revolusi damai’, proses tersebut terus berlanjut dan membuat yang dianggap mustahil menjadi kenyataan. Momen-momen penting dan menentukan dalam tahap revolusi adalah 13 April 2002—ketika mobilisasi jutaan rakyat miskin Venezuela berhasil mengalahkan kudeta oposisi sayap kanan—serta keberhasilan perjuangan melawan pemogokan para pemilik bisnis di akhir tahun yang sama.
Sejak itulah, proses revolusioner semakin ditingkatkan, meski beberapa pendapat menganggapnya masih terlalu lamban. Karena sosialisme tidak terjadi lewat dekrit atau deklarasi—walau Chavez sudah mendeklarasikannya di akhir Desember 2005—maka pemahaman terhadap proses revolusi Venezuela sangatlah penting dalam rangka menentukan kesimpulan bersama yang bermanfaat bagi kampanye sosialisme.

Pemenuhan kebutuhan darurat rakyat bukanlah hal mudah bagi negeri-negeri miskin di bawah imperialisme. Kontradiksi antara satu kebijakan dengan kebijakan lainnya membuat propaganda social demokrasi hanya di atas awan. Seperti itulah nasib yang akan terjadi pada masa depan kebijakan MDGs; suatu pajangan ‘niat baik’ di bawah liberalisasi pasar domestic, liberasilisasi pendidikan, kesehatan, perumahan, pertanian dst, di bawah dikte institusi keuangan internasional dan perancang ekonomi konsensus Washington. Venezuela telah meninggalkan involusi ini, dan meradikalisir proses perubahan negerinya dengan memutus hubungan dengan IMF dan Bank Dunia, serta pengambil-alihan alat produksi dari tangan imperialis.

Misi-misi sosial (Missions) Venezuela merupakan program-program transisional darurat untuk memenuhi kebutuhan darurat rakyat sekaligus meningkatkan kapasitas tenaga produktifnya. Sekilas tampak mirip dengan kebijakan-kebijakan sosial demokrasi (Negara kesejahteraan), namun memiliki perbedaan mendasar dalam karakter politiknya, yakni partisipasi/inisiatif rakyat dan sumber pembiayaanya. Misi-misi tersebut dibiayai langsung dari pemasukan minyak (yang sudah dinasionalisasi) dan diatur sendiri oleh rakyat (tidak ada institusi ‘formal’ pemerintah terlibat) melalui berbagai komite seperti komite kesehatan; pendidikan; makanan; perumahan, pertanian, dst.

Penguasaan alat produksi dan distribusi kepemilikan pribadi berlanjut. Dalam beberapa kasus (seperti di Invepal—pabrik kertas, dan Alcasa—pabrik alumunium), tingkat dan tipe penguasaan buruh terhadap produksi dan distribusi pabrik berbeda satu dengan lainnya (lihat wawancara dengan Rafael Rodriguez oleh International Viewpoint, bulan Oktober 2006). Di sector pertanian, reforma agrarian tak hanya meliputi distribusi tanah pada para petani tak bertanah, namun juga peningkatan teknologi dan system produksi pertanian.
Peningkatan tenaga produktif dan teknologi. Venezuela sekarang adalah negeri kedua di dunia (setelah Kuba) yang bebas buta huruf. Program-program peningkatan penguasaan teknologi seperti perangkat lunak gratis, komputerisasi tingkat sekolah dasar, produksi komputer dalam negeri , merupakan sebagian dari langkah-langkah pentingnya.

Praktek demokrasi partisipatoris dan kekuasaan kerakyatan sekarang mulai menantang demokrasi perwakilan. Meski belum begitu jelas bagaimana mekanisme nasional dan otoritasnya terhadap pemerintah, pembentukan ribuan Dewan-dewan Komunitas (lokal) merupakan langkah yang menguntungkan.

Poros internasionalisme baru telah berdiri. Alternatif Bolivarian untuk Amerika Latin (ALBA) dan Bank Selatan (Bancosur) merupakan kampanye yang penting untuk membangun solidaritas yang progressif diantara negeri-negeri miskin di selatan.

Kerja Solidaritas

Pekerjaan solidaritas terhadap pembangunan sosialisme di Venezuela (dan Kuba) adalah tugas penting yang menentukan sukses tidaknya perjuangan untuk pembebasan nasional dan sosialisme di negeri-negeri dunia ketiga. Kekalahan sosialisme di Venezuela akan memundurkan perjuangan untuk sosialisme di negeri manapun di dunia.

Di Indonesia, selama 33 tahun rezim diktator Soeharto berkuasa, telah berhasil menghapus memori sejarah rakyat Indonesia dari pengalaman-pengalaman sejarah revolusionernya; gagasan-gagasan kiri dan sosialis yang subur di masa-masa pergerakan nasional (paruh pertama abad 20) hingga sebelum 1965, hampir-hampir mati potensi. Terima kasih kepada Revolusi Kuba, Revolusi Sandinista, kemenangan Front Popular di Chile, termasuk kemenangan rakyat Vietnam, yang turut menyumbang inspirasi pada kebangkitan kesadaran politik kiri-kerakyatan mahasiswa di era 1970-an, melalui berbagai kelompok studi dan ruang-ruang diskusinya.
Setelah Soeharto dijatuhkan, dan hampir 10 tahun reformasi berjalan, ruang-ruang keterbukaan yang berhasil diperjuangan gerakan mahasiswa dan rakyat belum berhasil dimanfaatkan untuk meluaskan kampanye mengenai kebutuhan dan pembangunan kekuasaan alternative. Banyak aktivis gerakan radikal yang popular di era 90-an (termasuk pimpinan-pimpinan Partai Rakyat Demokratik—PRD, tokoh-tokoh LSM, tokoh-tokoh mahasiswa) , terkooptasi ke dalam politik parlementer di bawah bendera pemerintahan rezim neoliberal, partai-partai sisa lama dan reformis gadungan.. Situasi tersebut telah memperlambat perjuangan untuk menuntaskan reformasi dan mengampanyekan suatu politik alternatif.

Apa yang terjadi di Venezuela di akhir tahun 90-an (1998 dan 1999) serupa dengan situsi politik di Indonesia saat ini, yang ditandai dengan kekecewaan rakyat pada partai politik tradisional. Namun, di Indonesia tidak ada elit politik dan partai politik sisa lama (Orde Baru) dan reformis gadungan di Indonesia yang menyatakan keberpihakan terhadap pembebasan rakyat miskin, seperti yang dikatakan Chavez di banyak pidatonya bahwa pembebasan rakyat miskin adalah satu-satunya cara untuk membangun sebuah bangsa.

Ditengah situasi inilah pekerjaan solidaritas untuk revolusi sosialis di Venezuela mendapatkan momentumnya. Kaum aktivis gerakan (kiri) di Indonesia (seharusnya) merupakan mereka yang berkepentingan untuk menyebarluaskan gagasan-gagasan revolusi Venezuela; meluruskan propaganda sesat tentang demokrasi dan Chavez dari tangan elemen-elemen sisa lama (orba) dan tentara di Indonesia.

Propaganda sesat yang dilancarkan kekuatan lama di Indonesia terhadap Venezuela saat ini adalah, bahwa kesejahteraan rakyat dapat dicapai tanpa demokrasi; dan tentara adalah elemen penting yang berkesanggupan melakukan perubahan. Termasuk di antara elemen sisa orba tersebut adalah Prabowo—pelaku penculikan aktivis gerakan 90-an—dan Wiranto—mantan Jenderal pelanggar HAM—yang mencoba masuk dalam politik nasional kembali dengan menunggangi perubahan di Venezuela di bawah kepemimpinan Chavez.

Demikian pula para politisi reformis palsu seperti Amien Rais—mantan ketua MPR—dan beberapa anggota DPR dari partai-partai reformis gadungan semacam partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDIP), yang mulai bersuara mengenai nasionalisasi minyak Venezuela. Mereka khususnya mengambil contoh renegosiasi kontrak karya terhadap perusahaan minyak asing di Venezuela. Tapi tentu saja, mereka tidak bicara mengenai demokrasi partisipatif; nasionalisasi di bawah kontrol buruh (rakyat); referendum; dewan-dewan komunal sebagai elemen yang paling penting dari revolusi Venezuela.

Dalam kepentingan inilah pekerjaan solidaritas terhadap Revolusi Venezuela dapat sekaligus memberikan landasan bagi perjuangan pembebasan nasional di Indonesia, yakni perjuangan pembebasan rakyat miskin oleh kekuatan rakyat miskin sendiri. Revolusi Venezuela merupakan bukti bahwa berjuang (untuk perubahan yang mendasar) tidaklah mustahil; bahwa rakyat bisa melakukan perubahan dengan kekuatannya sendiri; bahwa mobilisasi kekuatan rakyat sendiri adalah senjata paling ampuh untuk merebut kekuasaan. Inilah senjata utama revolusi yang tidak boleh dilucuti oleh politik kooptasi dan kooperasi dengan musuh-musuh rakyat.

Banyak kalangan yang skeptis mengatakan bahwa tidak mungkin Indonesia bisa mencontoh Venezuela, oleh karena latar belakang sejarah, ekonomi dan politik yang berbeda. Pertanyaannya adalah, mengapa tidak mungkin? Mengapa membatasi diri? Dalam logika yang sama, banyak masyarakat klas menengah Indonesia tak segan untuk dengan terbuka berkiblat pada mimpi-mimpi Amerika atau Eropa yang bisa maju karena kolonialisme dan imperialisme modern. Atau kagum pada China dan India yang bisa besar karena mengambil madu dari perjalanan sejarah bangsanya yang revolusioner—dari Revolusi Kebudayaan Mao Tsetung dan militansi Gandi. Para pejuang pergerakan nasional Indonesia pun mengambil manfaat sebesar-besarnya dari Revolusi Rusia 1917 dan Nasionalisme Tiongkok, untuk pergerakan rakyat yang lebih modern demi perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Mengapa kita takut untuk membebaskan diri mempelajari Revolusi yang terjadi Venezuela, Kuba, dan Bolivia? Apakah ketakutan itu akibat prasangka terhadap sosialisme yang dijadikan hantu berpuluh-puluh tahun oleh rezim Soeharto? Atau karena kita terperangkap oleh sistem ‘bebas nilai’ dunia akademik yang palsu? Bila benar demikian, maka tamatlah riwayat kita sebagai manusia berilmu yang bertanggung jawab untuk merubah situasi dunia menjadi lebih baik dan manusiawi.

Untuk kepentingan inilah Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Alternatif Amerika Latin (SERIAL) didirikan pertengahan tahun 2006 lalu. Meski belum maksimal dalam perluasan propaganda, beberapa aktivitas yang sudah dilakukan antara lain:

· Kegiatan penerbitan
1. Buku: “Perubahan Sejati Terbukti Bisa”, Pidato Presiden Venezuela Hugo Chavez di depan Majelis Nasional bulan Januari tahun 2005. Diterbitkan dalam bahasa Indonesia bulan Agustus 2006.
2. Pamflet: “Strategi Pembangunan Gerakan Perempuan dalam Revolusi Bolivarian”, diterbitkan bulan November, 2006.
3. Mendukung penerbitan buku: “Memahami Revolusi Venezuela”, Wawancara Martha Harnecker dengan Hugo Chavez, Monthly Review Book, Februari 2007.
4. Memberikan teks bahasa Indonesia pada film dokumenter: “A Revolution Will Not be Televised”, tahun 2005.
5. Memberikan teks bahasa Indonesia pada film dokumenter “Bersama Rakyat Miskin Dunia-Con Los Pobres Del Tierra”, tahun 2007”.

· Kegiatan seminar
1. Pelucuran SERIAL, dengan tema: Ada Alternatif, Bercermin dari Amerika Latin, 15 Agustus 2006.
2. Belajar dari Amerika Latin, Solo, Oktober, 2006.
3. Perubahan di Amerika Latin; Apa Manfaatnya Buat Indonesia, 22 Februari 2007.
4. Talk Show di TV Kabel: Q-TV, Venezuela-Chavez dan Indonesia.

Melanjutkan pekerjaan tersebut, pada awal Februari 2008, SERIAL bersama beberapa aktivis dari Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP), Rumah Kiri (RK), dan mahasiswa dari Universitas Nasional (UNAS) Jakarta, berkumpul dan mendiskusikan suatu proyek kerja bersama untuk membangun komunitas solidaritas Hands Off Venezuela (HOV) di Indonesia. Inisiatif ini segera mendapat dukungan dari banyak pihak seperti: penerbit buku-buku radikal Resist Book- Jogjakarta; Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI); dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi-Politik Rakyat Miskin (LMND-PRM). Pekerjaan terdekat yang akan dilakukan adalah pertunjukan film No Volveran, dan deklarasi Hands Off Venezuela-Indonesia.

Kerja-kerja solidaritas yang masih perlu ditingkatkan meliputi:
· Pembangunan komite-komite SERIAL dan atau HOV di berbagai Universitas di Indonesia.
· Produksi lebih banyak bahan bacaan; subtitling dan pertunjukan film; web site; diskusi publik, dll.
· Aksi-aksi solidaritas.
· Konfrensi-konfrensi taktik diantara aktivis gerakan, belajar dari pengalaman taktik perjuangan di AL.
· Membuka ajang-ajang studi dan perdebatan ilmiah mengenai sosialisme abad 21.

Sedikit disayangkan, bahwa pekerjaan kampanye Venezuela sendiri dalam bahasa Indonesia tidak banyak dikeluarkan oleh Kedutaan Venezuela di Jakarta. Serangkaian pertemuan yang kami lakukan untuk mendorong Kedutaan Venezuela lebih mampu terbuka mengampanyekan perubahan Venezuela, belum membuahkan hasil. Hingga saat ini belum ada satu bentuk kampanye dalam bahasa Indonesia (penerbitan maupun website) yang reguler dikeluarkan oleh kedutaan Venezuela, yang memberitakan kemajuan perjuangan sosialisme abad 21 di negerinya kepada rakyat Indonesia.

Pada akhirnya, kami berharap Rakyat Venezuela dan Pemerintahan Chavez memainkan peran penting untuk mendukung pekerjaan solidaritas diantara gerakan rakyat di seluruh dunia. Penyebarluasan informasi tentang kemajuan sosialisme di Venezuela, Kuba, dan Bolivia, dalam berbagai bahasa, adalah kunci bagi membesarnya gerakan solidaritas terhadap perjuangan sosialisme abad 21 di seluruh dunia.

Sampai Menang.***

[1] Juru Bicara Hands off Venezuela-Indonesia (HoV Indonesia http://indonesia.handsoffvenezuela.org/); Koordinator Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Alternatif Amerika Latin (SERIAL): www.amerikalatin.blogspot.com; Juru Bicara Komite Politik Rakyat Miskin-Partai Rakyat Demokratik (KPRM-PRD): www.kprm-prd.blogspot.com; www.kprm-peoples-democratic-party.blogspot.com

13/12/2007

Chavez: Rakyat Venezuela Dapat Mengajukan Proposal Reformasi yang Baru

Caracas, 5 Desember 2007 (venezuelanalysis.com) - Rakyat Venezuela
punya kapasitas untuk memodifikasi dan mengajukan kembali proposal
reformasi yang kalah dalam referendum 2 Desember, kata Presiden
Venezuela Hugo Chavez melalui telepon saat penayangan program politik
populer La Hojilla (Silet) dalam TV pemerintah Venezuela channel VTV.

Saat telepon Chavez merefleksikan hasil referendum dan menegaskan
bahwa ia kehilangan haknya untuk mengajukan proposal konstitusional.
Namun, katanya, "Rakyat Venezuela punya kekuasaan dan hak untuk
mengajukan permintaan reformasi konstitusional sebelum masa [jabatan
presiden] ini selesai, yang masih tersisa 5 tahun."

Dalam Konstitusi Bolivarian 1999, Presiden, Majelis Nasional atau 15
persen pemilih terdaftar berhak mengajukan proposal reformasi
konstitusional.

Rakyat Venezuela, tekan Chavez, dapat mengajukan proposal reformasi
"tahun depan atau dalam tiga tahun ini."

"Tidak harus sama," lanjutnya, "Bisa mengarah ke hal yang sama, tapi
bentuknya berbeda, lebih baik dan lebih sederhana, karena saya harus
menerima bahwa reformasi yang kami ajukan sangatlah kompleks. Dan
dalam perdebatan itu menjadi lebih kompleks. Ini digunakan oleh
lawan-lawan kami dan kami tidak mampu menjelaskannya."

Proposal reformasi konstitusional Chavez yang asli pada 15 Agustus
memuat perubahaan terhadap 33 pasal; ini kemudian bertambah menjadi
total 69 pasal dalam perdebatan dengan Majelis Nasional.

Dalam pidato konsesinya pada Senin dini hari Chavez menerima bahwa
mungkin momennya salah untuk proposal reformasi. Namun, dengan mengacu
pada batas kemenangan oposisi yang sangat tipis, ia menyatakan dalam
La Hojilla, "Walaupun itu ofensif awal, kita hampir menang!"

"Kita akan mengkonsolidasikan kekuatan ini dan meningkatkan kekuatan
ini dan kemudian akan ada ofensif baru, yang dapat dicapai melalui
cara-cara kerakyatan," ia menjaminnya. Chavez berkata ia berharap
rakyat akan mengambil inisiatif ini sambil mempertahankan tujuan
prinsipilnya; "transformasi negara"

"Diskusi seputar transformasi negara belum usai," lanjutnya, "ini
momen untuk memulai refleksi sesungguhnya dan kritik-diri."

Meskipun peningkatan suara oposisi hanyalah sedikit dari 4,4 juta saat
pemilihan presiden tahun lalu menjadi 4,5 juta menentang reformasi,
tampaknya sebanyak 2,8 juta orang yang memilih Chavez saat pemilihan
presiden memilih abstain saat referendum reformasi konstitusional.

Merefleksikan pendapat bahwa banyak rakyat memilih abstain dalam
voting referendum sebagai protes terhadap kerja-kerja banyak walikota
dan gubernur yang mengambil garis 'Chavismo,' Chavez berkata, "Kalau
sebagian orang tidak memilih karena mereka kesal dengan tidak
diresponnya beberapa tuntutan mereka oleh beberapa pihak, maka ini
bukan saatnya menjelek-jelekkan hal itu, karena proposal itu secara
langsung menyerang keburukkan-keburukkan badan-badan tersebut, seperti
korupsi dan birokrasi yang benar-benar menahan tuntutan rakyat. Rakyat
yang tidak memilih atau memilih menolak reformasi karena kesal atau
kecewa hanyalah merugikan diri mereka sendiri."

Chavez juga mengolok-olok kampanye media internasional yang
mendiskreditkan dan secara pribadi menyerangnya, terutama channel
televisi AS, CNN, yang telah memulai penyebaran informasi tentang
dugaan krisis dalam pemerintah revolusioner sebagai reaksi terhadap
hasil proses pemilihan 2 Desember.

Menegaskan bahwa ia tetap bekerja keras untuk revolusi, Chavez
berkata, "Bagi saya ini bukanlah kekalahan dan saya tidak menganggap
ini sebuah kemenangan kaum oposisi. Kini yang ada adalah menjaga tetap
terbukanya jalan menuju tanah air yang baru. Yang tidak mereka
singgung dalam berita-berita isapan jempol tentang krisis dan rakyat
yang mudah dikalahkan dan bersedih adalah bahwa Chavez masih di sini
untuk sementara."

Ia juga sepenuhnya menyangkal berita versi wartawan El Nacional,
Hernan Lugo-Galicia, yang menduga dalam sebuah wawancara dengan Daniel
Viotto dalam CNN berbahasa Spanyol bahwa Chavez menerima hasil
referendum hanya setelah ditekan oleh Komando Tinggi Militer.

"Mengenai desas-desus bahwa Komando Tinggi Militer siap melanjutkan
rencana destabilisasi yang dipersiapkan kaum oposisi; hanya ada satu
hal yang perlu dijelaskan, bahwa Komando Tinggi Militer saat ini lebih
solid dari sebelumnya karena Revolusi, karena komitmen mereka, karena
penghormatan mereka terhadap Konstitusi." Jendral Jesus Gregorio
Gonzalez Gonzalez, komandan Komando Operasional Strategis juga
menelpon La Hojilla beberapa menit setelahnya untuk mengkonfirmasi
bahwa klaim Lugo-Galicia adalah "isapan jempol."

Diterjemahkan oleh Data B

Evo Morales: "Kami Butuh Mitra, Bukannya Majikan"

Tanya Jawab: "Kami Butuh Mitra, Bukannya Majikan"
Wawancara dengan Evo Morales, Presiden Bolivia

http://www.ipsnews.net/news.asp?idnews=39915

Roma, 3 Nov (07) (IPS) - Presiden Bolivia Evo Morales mengunjungi Italia minggu ini untuk menerima penghargaan khusus bagi komitment pemerintahannya terhadap isu-isu sosial dan kesehatan. Ia menjadikan isu-isu ini suatu "prioritas politik"

Penghargaan diserahkan oleh Pusat Pio Manzu, suatu organisasi riset yang bermarkas di Rimini di timurlaut Italia yang mempelajari kebijakan-kebijakan ekonomi, ilmu pengetahuan dan sosial.

Selain menemui Presiden Italia Giorgio Napolitano dan menteri luar negeri Massimo D'Alema, Morales bertemu dengan 30.000 anggota komunitas Bolivia di Roma, dan berbagai anggota gerakan sosial di Italia.

Morales mengatakan pada warga Bolivia di Roma bahwa sebelum ia dipilih sebagai Presiden pada Desember 2005, Bolivia menerima 300 juta dolar per tahun dalam bentuk penghasilan pajak dari industri minyak. Setelah nasionalisasi cadangan energi, Bolivia kini menerima 2 milyar dolar per tahunnya.

Pendapatan tambahan digunakan untuk pendidikan dan kesehatan, dan untuk penciptaan program mikrokredit, kata Morales.

"Untuk meningkatkan pendapatan tak perlu membuat pajak tambahan," katanya pada Claudia Diez de Medina dari IPS, "tapi cukup memanfaatkan sumberdaya alam dengan lebih baik." Untuk ini, katanya, "kami butuh mitra, bukannya majikan."

Berikut cuplikan wawancara yang dirangkai oleh koresponden IPS Italia, Sabina Zaccaro:

IPS: Minggu ini Anda telah diberikan penghargaan oleh suatu organisasi Italia untuk program-program pemerintah Anda berupa akses lebih baik terhadap kesehatan dan nutrisi, dengan secara khusus memfokuskan anak-anak. Dapatkah Anda berikan beberapa detail langkah-langkah ini?

Evo Morales: Tantangan bagi kami adalah bekerja untuk semua rakyat Bolivia tanpa memprioritaskan suatu sektor, tapi kewajiban pertama saya adalah terhadap rakyat yang membutuhkan; ini adalah anak-anak, kaum tua, dan rakyat miskin. Berbicara tentang anak-anak, kami juga menerapkan kebijakan bernama "Nol Malnutrisi" (Hambre Zero) untuk menjawab isu kesehatan bagi anak-anak.

Langkah kami berikutnya akan berfokus pada nutrisi; tahun ini kami akan menerapkan suatu proyek pembangunan pabrik pemrosesan produk susu yang menghasilkan susu dan yogurt. Telah saya sarankan -- dan semoga hasilnya akan baik -- untuk membuat yogurt dengan quinoa (suatu tanaman yang tumbuh di wilayah Andean di Amerika Selatan dan berkandungan protein tinggi).

Kami akan melatih para walikota untuk membeli produk ini dan memberikannya kepada anak-anak sebagai makanan di waktu sekolah; daripada membeli kue dari Argentina, dari negara lain, kenapa tidak gunakan yang kami miliki.

Kami juga telah mengidentifikasi tiga pabrik pengolahan untuk jus jeruk di beberapa wilayah berbeda yang akan memadukan susu dan jus. Anak-anak akan mendapatkan ini secara gratis untuk makan siang di sekolah. Saya punya beberapa rencana lainnya tapi mereka butuh pengembangan lebih lanjut.

Kami bertujuan memberikan anak-anak kami seperempat liter susu per hari. Kami sudah menyiapkan mesin untuk ini, dan kami akan segera menerima pabrik-pabrik pengolahan lainnya, termasuk yang untuk buah-buahan sitrus.

IPS: Pemerintahan Anda juga telah bekerjasama dengan Kuba untuk memperkuat pelayanan kesehatan...

EM: Kami menguatkan akses terhadap kesehatan di penjuru negeri. Tahun ini kami memiliki 40 rumah sakit 'tingkat dua' (de Segundo nuivel), dan 11 pusat-pusat spesialis mata (opthalmology) yang didonasikan oleh Kuba. Mereka telah menjalankan 100.000 hingga 150.000 operasi mata. Rumah-rumah sakit tersebut juga telah merawat mayoritas besar dari 380.000 rakyat Bolivia yang menderita banjir bulan Februari.

IPS: Apa hasil dari kebijakan-kebijakan ini?

EM: Di Bolivia ongkos operasi mata biasanya berkisar 1.000 dolar, dan di Eropa saya pernah diberitahu sekitar 3.000 hingga 4.000 dolar. Bayangkan besarnya uang yang kami simpan untuk rakyat Bolivia, dan dengan hasil yang baik. Tak hanya untuk rakyat miskin, tapi juga kolonel, jendral, pengacara, kaum kelas menengah.

IPS: Menurut PBB, hampir 40 negeri di dunia telah mengadopsi undang-undang tertentu yang menentang kekerasan domestik dan yang melindungi perempuan. Tigabelas di antaranya di Amerika Latin, Bolivia termasuk. Tapi suatu masyarakat patriarkal masih mengekang emansipasi perempuan. Bagaimana kebijakan Anda di sini?

EM: Satu aksi pertama adalah memperkuat "brigade perlindungan perempuan" (kelompok-kelompok perempuan yang dilatih untuk memberikan perlindungan bagi perempuan dan anak-anak). Para polisi perempuan juga telah diberikan kekuasaan baru, dan sangat efesien, walaupun kami perlu memperbaiki ini lebih jauh.

Tapi ini adalah permasalahan yang membuat saya malu. Peralatan khusus dibutuhkan untuk pelatihan semacam itu, dan kami masih punya kelemahan finansial. Yang paling lemah dan paling dilecehkan biasanya perempuan dan anak-anak, dan kami butuh melakukan sesuatu yang terpadu bagi keduanya. Kotapraja tidak cukup efesien, mereka tersangkut dalam birokrasi.

Tapi kami telah menyaksikan hasil-hasil yang menarik, dan saya bekerja untuk memperkuat dan mendukung inisiatif demikian. Ada beberapa perbaikan dalam polisi untuk menolong perlindungan terhadap keluarga, dimulai dari kaum perempuan. Dan untuk pertama kalinya, Bolivia memiliki menteri-menteri perempuan.

IPS: Berapa orang menteri perempuan di pemerintahan Anda?

EM: Saya punya lima menteri perempuan -- untuk kesehatan, pendidikan, perusahaan-mikro, pertanian, dan kehakiman. Perempuan punya cara yang lebih baik dalam menganalisa permasalahan sosial dan ekonomi, dan juga bersudut pandang keluarga.

IPS: Rencana-rencana apa yang Anda miliki selain program-program sosial untuk kesehatan dan pendidikan untuk mencapai MDG (millennium development goals -- tujuan pembangunan milenium yang disetujui tahun 2000 untuk membabat kemiskinan dan memperbaiki kesehatan dan pendidikan)?

EM: Dalam lapangan sosial kami mencari persamaan; dalam politik, menghapuskan diskriminasi, dan dalam ekonomi, memanfaatkan sumber daya alam kami sebaik mungkin.

Program pengembangan sosial kami memiliki dua kebijakan penting: satu adalah dana pensiun seumur hidup Bermartabat (Bonus Dignidad) di mana mereka yang berumur di atas 60 diberikan 200 bolivianos per bulan (7.8 bolivianos adalah satu dolar). Di Bolivia hampir 90 persen kaum profesional tidak menerima dana pensiun ketika memasuki usia pensiun.

Kebijakan kedua adalah bonus pendidikan Juancito Pinto, juga sebesar 200 bolivianos per bulan. Ini untuk membeli peralatan sekolah, walaupun setelah kami pelajari bonus tersebut juga digunakan untuk membeli sepatu, yang tanpa bonus itu mayoritas anak-anak di pedesaan tak akan mampu membeli.

IPS: Bicara soal perbedaan pendapatan yang besar, Anda bicara tentang pentingnya mengurangi ketakseimbangan antara negeri-negeri Eropa dan bolivia untuk menghindari migrasi besar. Apa rencana Anda?

EM: Investasi, penguatan ekonomi, menggali sumberdaya alami kami dan mengindustrialisasikannya, untuk memperoleh sumber daya lebih banyak lagi dan untuk mendukung kaum muda dan rakyat miskin agar mereka mendapat gaji lebih besar. Tapi ini tidak mudah. (END/2007)

(Diterjemahkan oleh Data B)