26/02/2013

“Sekaranglah saatnya!”: Perjuangan untuk Keberagaman Seksual di Venezuela



Oleh  Susan Spronk, Jeffery R. Webber - The Bullet, August 21st 2012
  • Hak kaum Gay dan Lesbian
Di bawah Hugo Chavez, banyak capaian dalam perjuangan untuk pembebasan, termasuk pembebasan bagi kaum lesbian, gay, biseksual dan transgeder (LGBT). Diskriminasi berbasis orientasi seksual diundang-undangkan pada tahun 1999, UU organik buruh tetapi proposal anti diskriminasi didrop dari konstitusi tahun 1999 karena adanya tekanan dari Gereja Khatolik; pasangan sesama jenis tidak bisa menikah atau mengadopsi anak dan beberapa proposal yang yang akan ditingkatkan seperti perjuangan yang dikalahkan dalam referendum Konstitusional tahun 2007. Selalu ada keberagaman politik dalam komunitas LGBT, tetapi tiga tahun yang lalu, kolektif revolusioner LGBT telah dibentuk. Kami bertemu dengan salah satu anggotanya, aktivis Maria Gabriela Blanco, pada sebuah pertemuan Alianza Popular Revolucionaria (Aliansi Popular Revolusioner) di Caracas. 

Susan Spronk and Jeffery R. Webber (SS and JRW):  Bisakah kau memberitahuku tentang bagaimana kau terlibat dalam kolektif ini? 
Maria Gabriela Blanco (MGB): Kolektif ini didirikan pada 13 Agustus 2009. Aku terlibat sebagai seorang aktivis selama bertahun-tahun yang lalu saat aku bekerja untuk Penerbit Pemerintah, Fundación Editorial El perro y la rana [Editorial Foundation The Dog and the Frog]. Ada enam diantara kami yang bekerja di Editorial (yang diidentifikasi sebagai queer) yang juga merupakan kaum militan di Partido Socialista Unido de Venezuela [United Socialist Party of Venezuela, PSUV] dan membentuk sebuah unit perang elektoral (patrulla). Kami juga berpartisipasi dalam inisiasi organisasi dewan pekerja. Banyak di antara kami  yang belajar bersama di universitas dan beberapa di antara kami bertemu dengan rekan kami di sana. 

Salah satu perjuangan pertama dimana kita terlibat di dalamnya adalah perjuangan yang lebih fokus secara eksplisit pada identitas jender dan orientasi seksual yakni hukum kesetaraan gender yang diperdebatkan di Dewan Nasional. Anggota Dewan Nasional menyerukan partisipasi kaum lesbian, gay dan transeksual; salah satu deputi menyerukan partisipasi kami karena ia ingin memasukkan sebuah pasal ke dalam undang-undang tersebut yang melarang diskriminasi berbasis orientasi seksual dan identitas gender. Kami melihat ini sebagai sebuah kesempatan besar karena kami secara umum tidak terlihat di dalam revolusi. Tetapi masih banyak anggota Dewan Nasional, yang bahkan mengidentifikasi dirinya sebagai Chavitas, seperti Marelis Peres Marcano, presiden komisi yang mengucapkan sesuatu seperti “Ini bukan waktu yang tepat untuk mendiskusikan berbagai persoalan karena kami berbicara tentang keluarga, lelaki dan perempuan.” Tetapi Deputi Flor Rios dan Romelia Matute berbicara banyak tentang perjuangan kami, memperdebatkan bahwa identitas seksual adalah cair dan bisa berubah sewaktu-waktu. 

Keseluruhan proses perdebatan dalam penyusunan Undang-undang ini sangat menjengkelkan karena berlangsung dalam waktu lama, enam bulan duduk di balik meja tanpa hasil apapun. Anggota Dewan Nasional harus beradaptasi dengan tekanan dari berbagai pihak, dari kolektif yang mewakili lesbian, biseksual, transeksual dan gay dari gerakan kanan dan kiri; pada poin itulah sangat sedikit kolektif queer di kalangan kiri. Hanya satu yang sangat serius yaitu Divas de Venezuela, yang telah bergabung dengan kami. Kami tidak memenangkan pertarungan ini untuk hukum gender. Kami mewawancarai salah satu deputi yang mendukung kami dan ia memberitahu kami bahwa kami butuh pengorganisiran dan berjuang.
Kami sangat lelah dengan fakta bahwa setelah 7 -8 tahun revolusi tak seorang pun bicara tentang keberagaman seksual, revolusi masih terlalu konservatif. Kami memutuskan bahwa kami harus melakukan sesuatu. Kami menghubungi satu kolektif tetapi jelas mereka adalah dari organisasi sayap kanan dan kami mendirikan Divas de Venezuela, yang bukan merupakan sebuah organisasi yang bekerja di sebuah “ghetto”.  (yang ia maksud adalah kalangan orang kaya) tetapi satunya adalah yang bekerja di jantung perjuangan di barrio 23 de enero (lingkungan kaum miskin di Caracas dengan sejarah perjuangan revolusioner yang panjang). Di sanalah kami bertemu dengan seorang guru tari transeksual (disebut Rummie Quintero) yang bekerja dengan anak-anak; ia sangat dihormati di dalam komunitasnya. Kami mulai bertemu dengannya dan memulai pengorganisiran.  

Di antara kami banyak sekali artis, seperti desainer grafik dan penulis. Enam di antara kami bekerja dengan Rummie dan dua atau tiga queer lainnya bergabung dengan kami. Kami mulai melukis grafiti di ruang publik dalam bentuk sebuah jam, yang menyimbolkan tangan perempuan dengan perempuan atau lelaki dengan lelaki yang mengindikasikan bahwa “Sekaranglah waktunya!” Kami telah menciptakan berbagai gambar yang berbeda yang mengekspresikan keberagaman dan komitmen kami untuk revolusi, khususnya untuk membenarkan perjuangan kaum transeksual karena di dalam sistem patriarkat tempat kami hidup (bahkan lebih dari sekedar sistem kapitalis karena patriarki muncul terlebih dahulu), perjuangan ini adalah salah satu perjuangan bagi yang paling tertindas di antara kita. 

Sekarang, banyak yang juga bergabung dengan kami dari kelompok lain seperti Movimiento de Pobladores, atau Gerakan Rakyat Miskin (MP) dan gerakan campesino. Kami juga menjadi bagian dari APR, yang menyertakan  keberagaman gerakan yang berbeda. perjuangan kita tidak hanya tentang keberagaman; setiap orang berbicara tentang ‘keberagaman’ selama keberagaman itu secara fundamental adalah tentang identitas gender. Sehingga kami memutuskan nama Alianza sexo – genero diversa revolucionaria; kami menambahkan kata “revolusioner” karena kami adalah Chavistas. 

Cukup jelas pula bagi kami bahwa kami tidak ditentukan semata-mata oleh orientasi seksual dan identitas gender kami. Aspek identitas kami adalah hal terakhir yang mendefinisikan kami, karena kami juga adalah perempuan (dan lelaki), keturunan – afrika, kaum miskin, pribumi, dan Chavista, tetapi mari kita lihat perjuangan kami ini sebagai bagian dari perjuangan melawan sistem kapitalisme yang menindas kita. Inilah yang membedakan kami dari queer sayap kanan yang hanya fokus pada perjuangan orientasi seksual dan identitas gender. Contohnya, ada seorang aktivis terkenal bernama Tamara Adrian, seorang transeksual yang berpendapat  tentang hak untuk merubah nama kami tetapi ia berasal dari golongan kaya. Perjuangan kami juga adalah perjuangan kelas. Prioritas kami adalah mereka yang paling tertindas yaitu kaum LGBT yang juga bagian dari kelas pekerja. 

Kadang Chavitas lainnya mengkritik kami karena kami menjadi “anarkis” karena kami mengkritik pemerintah, tetapi kami meminta perhatian atas adanya diskriminasi yang ada di dalam gerakan kita dan institusi negara. Ini adalah keseluruhan sistem yang butuh dirubah; perubahan ini akan membutuhkan lebih dari sekedar perangkat hukum. Tetapi kami memiliki beberapa keberhasilan di dalam pertarungan legal. Kami memiliki pengalaman baik bekerja dengan pelaku pergerakan untuk mendiskusikan sebuah hukum yang berkaitan dengan perumahan. Mereka mengundang kami berdebat karena kami telah bekerja dengan mereka.Ini sungguh merupakan pengalaman luar biasa karena sekarang ada dua pasal dalam hukum ini yang melarang para tuan tanah melakukan diskriminasi berbasis orientasi seksual dan identitas gender. Partisipasi rakyat dalam pembentukan hukum ini juga memberikan referensi bagi prinsip non diskriminasi. Gerakan sayap kanan tidak bisa mengatakan di sana tidak ada kemajuan bagi kaum queer. Banyak kemenangan dan kemajuan dalam perjuangan kita di bawah pemerinahan Chavez. 

Kami sekarang berbasis di Caracas dan kebanyakan anggota kami berasal dari kota ini. kami memiliki anggota sekitar 24 orang tetapi ada 15 orang di antara kami yang aktif di agenda rutin basis. Ini adalah sebuah kekuatan karena kebanyakan dari kami bekerja tetapi kami menemui kesulitan mencari waktu yang tepat dimana setiap orang bisa bertemu. Setiap Senin sore kami bertemu di Plaza Bolivar- hampir religius – di waktu yang sama. Setiap orang datang untuk bergabung “ Lesbian, Gay, biseksual, dan orang poly – amorous, transeksual, dan hetero seksual, juga. Sekarang kami memublikasikan buletin politik kami sendiri. Kami juga memiliki kolom di Todosadentro, yang diterbitkan secara mingguan dalam bentuk majalah oleh Mentri Kebudayaan dan di Epale, publikasi lainnya di Caracas. Kami menulis tentang kedaulatan seksual dan kedaulatan tubuh di dalam kolom – kolom ini. kami juga berpartisipasi di sebuah radio yang disebut dengan “In Check” (En Jaque) En Jaque)   yang berlangsung di jam 2 siang pada hari Selasa, yang kami bantu supaya bisa produksi. Kami juga mulai muncul di acara show di TV Feminist seperti “Fallopian Tube” (El Entrompe de Falopio), yang berlangsung di Caracas dan televisi nasional dan program radio, “Beragam tapi tidak jahat” [Diversos No Perversos], yang mengudara di Radio Nasional Venezuela. 

SS and JRW:  Chavez telah berbicara tentang sosialisme di Venezuela sejak tahun 2005. Apa makna sosialisme bagi kolektif anda? 

MGB: Ini adalah sebuah isu yang sulit bagi kolektif kami, bukan karena prosesnya sendiri tetapi karena Amerika Latin menyisakan kebudayaan yang sangat seksis (machista). Tidak untuk menjadi terlalu pesimis, tetapi Venezuela menyisakan budaya yang sangat patriarkat. Berbicara tentang kampanye pemilu, contohnya, ada candaan yang sangat menyinggung seorang kandidat oposisi (seorang lelaki), candaan itu adalah “dasar feminin”. Tetapi sungguh tidak benar melakukan candaan yang demikian. Dalam proses revolusioner yang sama dengan presiden Chavez yang mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang feminis, yang mengidentifikasi proses ini sebagai proses sosialis dan feminis, atau sebagai sebuah proses feminis dan sosialis, ini adalah sebuah kontradiksi. Sehingga kami harus mendorong refleksi kritis antara companeros kami, di lingkungan kami dan di tempat kerja kami, untuk mengidentifikasi kontradiksi ini dimana mereka membuat candaan dengan kata “feminin”. Sesungguhnya, basis homophobia adalah jenis seksisme dimana bila pria feminin merupakan kelemahan. Inilah cara kami melakukan pendekatan terhadap masalah ini. 
Pada tahun 2010, Chavez menyerukan kepada kaum homoseksual, pemuda untuk bergabung dalam proses ini. sementara ia mengatakan hal ini, kami merekamnya, mengirimkannya ke satu sama lain melalui pesan tertulis, dan kami menuliskannya di Facebook. Jelas, gerakan sayap kanan menikmati candaan ini. tetapi jenis diskriminasi ini melintasi garis politik, terlepas kamu seorang revolusioner atau tidak. Ini mempengaruhi gerakan kiri dan gerakan kanan. Sekali kamu berada di suatu tempat dimana  sayap kanan berlaku seksis, tak seharusnya sayap kiri juga berlaku seksis. Setelah momen itu, kami memiliki resolusi yang lebih besar dalam memberikan dukungan kami kepada Chaves. Ia menyerukan kepada kami untuk berjuang dengan cara yang sama dimana ia menyerukan partisipasi warga keturunan Afrika, campesinos, nelayan dan nelayan perempuan. Faktanya adalah ia menyatakan bahwa perjuangan kami diakui, meski sebelumnya kami bahkan mesti melakukan aksi massa tanpa seorangpun melihat kami.   

Pertama kami membentuk ASGDRe, kami memutuskan bahwa aksi massa pertama kami adalah bersama dengan Gerakan Rakyat Miskin (MP). Kami membentuk tanda 3 – meter yang tertuliskan nama kami dan menyerukan hak untuk rumah bagi pasangan sesama jenis dan hak untuk hidup secara bermartabat. Kami juga membawa bendera dengan warna pelangi. Kami ingin orang lain melihat kami tentang siapa kami ini, dan semenjak kami memiliki artikulasi dengan kaum militan di semua pergerakan yang berbeda, mereka memberi kami dukungan. Untuk selama setengah jam pertama kami sungguh tegang tetapi kami mengelolanya dan aksi saja. Bendera pelangi tidak memiliki apapun untuk dituliskan di atasnya. Tetapi tanda – tanda ini mengatakan sesuatu dan kami beraksi dengan mereka. Sekarang rakyat membuat bendera pelangi selebar 100 meter dan setiap orang melakukan aksi di balik bendera tersebut. Kamu akan melihat bendera ini di barrios seperti Antimano, di Petare (kalangan miskin di Caracas). 

Kami mendukung Chaves karena di dalam rencana kerjanya pada periode 2013 – 2019, ia berbicara tentang bagaimana kami kaum queer tinggal di sebuah situasi represi dan bahwa satu-satunya jalan keluar dari negeri ini adalah dengan mengatasi sistem kapitalisme (ia mengacu kita untuk pasal 5.3.3.2 sebagai platform pemilu). Sistem konsumerisme dimana kita tinggal telah menyebabkan banyak pembagian, bahkan di antara kita kaum queer. Kami didiskriminasikan bahkan oleh yang ada di antara kami sendiri. Kaum Gay dan lesbian di Caracas, sebagai contohnya seperti Tamara Adrian (yang aku sebutkan sebelumnya) bisa mendapatkannya kecuali companeras lainnya, tidak. Sehingga ia berkhianat terhadap hak asasi manusia tetapi tidak bisa melampauinya. Tentu saja, tidak bisa dikatakan ia telah melakukan hal yang baik. 

Tetapi sebelumnya, “ghettos” kaum gay ini adalah satu-satunya tempat dimana aku bisa pergi karena aku harus bersembunyi. Aku harus mengadopsi kepribadian lainnya saat aku bersama dengan keluargaku atau di universitas tersebut; ruang bagi kami akan dibuka pada jam 4 atau jam 5 di sore hari – ruang ini akan dipenuhi dengan pintu, yang tidak terdapat lampu di dalamnya, dan musik yang sangat keras yang mana tak seorang pun bisa bicara. Kebanyakan orang akan pergi ke sana untuk menemui seseorang seperti mereka. Tetapi sekarang aku adalah seorang Chavista, aku pergi keluar dari keluargaku dan pergi ke tempat yang konvensional. 

Sekali waktu aku bersama dengan partnerku di pusat perbelanjaan – sekali lagi, ini tidak akan terjadi padamu jika kamu punya uang – dan mereka memberi tahu kami bahwa, “Ini adalah pembangunan keluarga”. Kami membayar pajak tetapi mereka memiliki kebijakan yang mengawal kami sampai kami meninggalkan pusat perbelanjaan. Sehingga apa yang dilakukan negeri Venezuela supaya setiap orang bisa menikmati ruang publik? Di Estancia PDVSA (Pusat rekreasi yang dimiliki oleh perusahaan minyak milik negara) mereka tidak akan membiarkan pasangan sesama jenis berpegangan tangan karena mereka bilang itu adalah “tempat untuk keluarga” dan bahwa “di situ ada anak-anak”. Che bicara bagaimana revolusi adalah tentang cinta. Kami tidak memiliki relasi seksual saat kami berpegangan tangan!”

Problem- problem ini bukan kesalahan revolusi tetapi legasi dari negeri borjuis – setidaknya sekarang kami memiliki keuntungan karena memiliki sebuah kolektif, untuk mampu memahami apa yang sedang terjadi. Kami sedang berjuang sehingga sistem sosialis mengakui keberagaman. Kami berjuang di dalam gerakan rakyat kami dimana terdapat keberagaman pemikiran kecuali kesatuan dalam tindakan – inilah gagasan di belakang revolusi. Tetapi kami masih memiliki struktur negara – negara ini yang mana tidak sosialis – yang hendak merepresi kami. Kami harus mengenal dengan siapa dan siapa yang kami lawan. Masih ada beberapa hal tentang refleksi kritik yang kami butuhkan. PDVSA adalah kekuatan ekonomi negeri ini, penghasil minyak bumi. Tetapi kami harus bergabung dalam perdebatan yang ada karena tidak ada jalan lain yang bisa kami lakukan dalam memerangi sistem kapitalisme ini jika kami tidak terjun dalam perdebatan dengan pihak lain dari gerakan rakyat. Tidak ada workshop akademik, kecuali ruang rakyat dimana didalamnya kami belajar dari rakyat seperti di dalam dewan komunal.

SS and JRW: Apa pentingnya pemilu 7 Oktober 2012? 

MGB: Dalam gerakan ini ada jalan persetujuan dimana kami tidak sedang bermain di sana, dimana kami pada akhirnya mendeklarasikan kemerdekaan kami, seperti yang diungkapkan Jose Marti. Jika kami menang dalam pemilu ini, semuanya akan memperdalam prosesnya. Proses ini memiliki banyak problem semenjak kami berada dalam masa transisi. Masih banyak  kejahatan kapitalisme. Aku berusia 28 tahun; aku terlahir di dalam sistem kapitalisme dan aku memiliki sifat jahat yang sama. Aku tidak pernah mengetahui tentang apapun. Tetapi sekarang kami berbicara tentang bentuk lain dari kepemilikan, dan gagasan-gagasan lainnya.
Sekarang aku bekerja di dalam perusahaan produksi sosial, mencoba bekerja dengan komunitas untuk mensosialisasikan kepemilikan dan produksi. Aku tidak hanya seorang homo seksual (ia berkata sambil tertawa). Dan kami memiliki kontrol politik karena kami memiliki pemerintah, tapi kami tidak memiliki kontrol atas ekonomi. Chaves memberitahu kami hal yang sama berkali-kali. Ini bukan hal yang rahasia. Tetapi kami memajukannya dengan model produksi yang baru dan manajemen yang baru dan meningkatkannya dengan melihat diri kami sebagai pekerja dan sebagai produsen (penghasil); kami tidak akan memiliki pendiskusian semacam ini jika Chaves pergi. 

Kami harus bekerja untuk menjamin suara. Alasan bahwa presiden sedang ada di sana adalah bahwa ia merupakan boneka yang menggerakkan kita secara emosional,mereka yang menyatukan kami semua dari akar rumput, yang menginspirasi gerakan rakyat. Tak perlu diragukan lagi, ada begitu banyak capaian dan jutaan tuntutan; gerakan kami belum semaju lainnya seperti gerakan campesino, atau gerakan para penyewa tanah. Aku tidak mengenal seorang pun yang tidak dipengaruhi oleh proses ini: seorang teman menerima sebuah rumah baru karena milik mereka dihancurkan oleh banjir, juga  yang lainnya yang telah berpartisipasi dalam salah satu misi mendapatkan hal yang positif. Di sini kami memiliki pendidikan gratis. Ada kesehatan gratis, meski bukan yang terbaik (meski Michael Moore menunjukkan bagaimana Amerika Serikat mengklaim memiliki layanan kesehatan yang baik, itu adalah bohong belaka). Media di luar Venezuela salah menginterpretasikan proses ini; Chaves adalah presiden paling demokratik yang kami punya di negeri ini 

Susan Spronk mengajar pembangunan internasional di Universitas Ottawa. Ia adalah seorang penieliti yang berasosiasi dengan Proyek layanan kota dan telah memublikasikan berbagai artikel tentang formasi kelas pekerja dan politik air di Amerika Latin. 

Jeffery R. Webber mengajar hubungan internasional dan politik di Queen Mary, Universitas London. Ia adalah seorang pengarang Red October: Left Indigenous Struggles in Modern Bolivia (Haymarket, 2012)

1 comment:

Cerita gay pulau said...

Welcome indonesian gay...
Pasti disetiap anda", berharap mendapatkan hubungan yg nyaman, tenang, enjoy, saling paham, mau mengerti, bagaimana keterbatasan anda...?
Mau dibawa kemana pun, kalo masih indonesia, gay belum lazim. Tentu banyak hal yg hrs dibatasi.
Cinta, sayang, tentu ada. Tapi tak bisa ditampilkan keluar.
Lantas, apa anda sudah mengenali, apa yg sebenarnya anda cari dlm hubungan?
Tidak semua gay suka hubungan "nasi bungkus" abis dimakan lalu dibuang...
Kalo saya mengakui, ML tanpa perasaan yaa tidak menikmati.
Berganti" jangan jadikan budaya... Yg akhirnya anda punya kebiasaan, tidak puas kalo cuma mL dg 1org.
Liar & putus urat kemaluan!
Yaa semoga bisa mencerahkan kebiasaan anda yg kurang baik sebelumnya, kita juga manusia, tentu punya hati, yg dipergunakan tuk merasakan, bagaimana kita diposisi org lain... Salam kenal tuk para pria gay / bi dewasa, from me O85664600785