15/10/2008

Pernyataan Solidaritas Terhadap Revolusi Bolivia dan Venezuela: Menanggapi Intervensi Imperialisme Amerika Serikat

Lawan Intervensi Imperialisme Amerika Serikat
dengan Mobilisasi Persatuan Rakyat

Bulan Agustus lalu, rakyat petani dan pekerja Bolivia menegaskan kembali dukungannya terhadap Presiden Evo Morales dengan perolehan suara 67.41% di dalam referendum. Angka ini melebihi 53.7% suara yang diperoleh Evo saat terpilih sebagai presiden pada tahun 2005. Kemenangan referendum ini merupakan mandat dari rakyat Bolivia kepada pemerintahan mereka untuk memperluas dan memperdalam proyek sosialisme di Bolivia. Yang artinya pula merupakan mandat untuk melawan segala bentuk intervensi imperialisme di negeri tersebut.

Menanggapi kekalahan ini, kaum oligarki Bolivia , dengan bantuan dan ijin dari tuan-tuan imperialisnya (terutama imperialis Amerika Serikat), mulai meluncurkan kampanye-kampanye kekerasan. Jorge Chavez, salah seorang pemimpin kelompok oligarki di Bolivia , mengatakan: “Bila perlu, kita tumpahkan darah. Kita perlu menumpas komunisme dan menggulingkan pemerintahan orang-orang Indian bajingan ini”. Saat ini, kaum borjuis lokal dan tuan-tuan tanah Bolivia mengorganisir kelompok-kelompok fasis bersenjata untuk menyerang para pendukung Evo Morales: petani dan buruh dipukuli dan ditembaki, gedung-gedung pemerintahan dibakar, kantor-kantor organisasi massa dirusaki, rumah-rumah pemimpin serikat buruh dan serikat tani dilempari bom molotov, jalan-jalan diblokade untuk menghentikan distribusi barang. Semua aksi sabotase politik dan ekonomi ini ditujukan untuk menggulingkan pemerintahan Evo Morales dan menghentikan laju sosialisme di Amerika Latin. Sampai saat ini, sekitar 30 pendukung Evo Morales telah dibunuh oleh para fasis ini dan banyak yang hilang dan masih belum ditemukan.

Pada saat yang sama, di Venezuela, ditemukan sebuah rencana kudeta yang direncanakan oleh kaum borjuis nasional Venezuela . Terlibat di dalam rencana kudeta ini adalah para jendral purnawirawan, media-media asing dan lokal, pemerintahan Kolombia, dan pemerintahan AS. Presiden Chavez lalu mengusir Duta Besar Amerika di Venezuela, Patrick Duddy, karena keterlibatan AS dalam rencana kudeta tersebut. Pengusiran ini juga merupakan solidaritas terhadap Bolivia yang lebih dulu mengusir Duta Besar Amerikanya, Philip Goldberg, karena terlibat dalam mendukung upaya destabilisasi di Bolivia .

Sejak tahun 2002-2006 setidaknya ada 6 kali upaya sabotase dan destabilisasi yang dilakukan/disokong AS di Venezuela, salah satu yang monumental (karena kegagalannya) adalah kudeta 11 April 2002. Tak kurang para kacung imperialis sekaliber Condolezza Rice dan Donald Rumsfeld menyatakan bahwa Chavez merupakan pengaruh negatif di AL yang sedang mengorganisir perlawanan bersenjata [Eva Golinger: Chronology of the 4th Generation War against Venezuela ]. Hal serupa juga dialami oleh Bolivia , diawali dengan permintaan otonomisasi wilayah-wilayah kaya sumber alam (yang memiliki ikatan kuat dengan, dan didukung oleh AS) oleh borjuasi lokal, lepas dari otoritas pemerintahan Morales.

Intervensi-intervensi serupa oleh AS juga telanjang terjadi di negeri AL lainnya, dan di berbagai belahan dunia. Intervensi di Kuba untuk mengulingkan pemerintahan Castro, intervensi di Haiti dalam menggulingkan pemerintahan Jean-Bertrand Aristide tahun 2004, di Chile era 1970-an, di Irak sejak tahun 2002, di Afganistan, di Palestina, di Nigeria, bahkan di Indonesia terlibat langsung dalam rencana penggulingan pemerintahan Soekarno sekaligus mengangkat Soeharto sebagai kacungnya.

Hingga detik ini pun AS terus melakukan intervensi ekonomi dan politik di seluruh dunia melalui lembaga-lembaga keuangan internasional dan kebijakan neoliberalisme yang sudah menyengsarakan milyaran rakyat dunia. Rakyat Indonesia adalah bagian dari rakyat dunia yang paling sengsara di bawah SBY-Kalla, dan ditangan seluruh partai-partai penyokong agenda neoliberal serta kacung Amerika Serikat saat ini. Rakyat Indonesia pun harus bangkit; menolak menjadi bangsa kuli; menolak menjadi kacung agen-agen imperialisme di dalam negeri. Artinya, rakyat Indonesia harus memperjuangkan kemandiriannya sendiri; baik ekonomi maupun politik, agar dapat bangkit menjadi bangsa yang maju dan produktif.

Dalam hal inilah, Revolusi yang sedang bergulir di Venezuela dan Bolivia menjadi sebuah inspirasi bagi rakyat tertindas di Indonesia dan di seluruh dunia, yang sedang berjuang untuk membebaskan dirinya dari cengkraman kapitalisme dan imperialisme. Revolusi ini membimbing rakyat Indonesia untuk bangkit dan percaya pada kekuatannya sendiri; bahwa berjuang untuk sosialisme tidaklah mustahil.

Oleh karena itulah, jika imperialisme dan oligarki menang di Venezuela dan Bolivia , maka akan menjadi pukulan berat bagi jalannya proses revolusi di Amerika Latin; sekaligus kemunduran bagi gerakan sosialisme di negeri manapun di dunia. Sebaliknya, jika revolusi sosialis menang di salah satu negeri ini, maka jalan menuju revolusi sosialis di seluruh kawasan Amerika Latin dan di seluruh dunia akan terlihat lebih jelas.

Oleh karena itu, adalah tugas semua kaum progresif dan revolusioner sedunia untuk membela Revolusi di Venezuela dan Bolivia .

Kami yang bertandatangan di bawah ini menyerukan:

1. Kepada Rakyat Amerika Serikat agar melakukan mobilisasi untuk menghentikan intervensi imperialisme pemerintah AS di Bolivia dan Venezuela .
2. Kepada seluruh komunitas internasional untuk memprotes kekerasan-kekerasan yang dilakukan oleh kaum oligarki fasis di Bolivia.
3. Kepada rakyat pekerja dan petani sedunia untuk mengkukuhkan solidaritasnya terhadap Revolusi di Bolivia dan Venezuela .
4. Kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar melakukan tindakan politik dan hukum yang dibutuhkan untuk mempertahankan proses konstitusional di Venezuela dan Bolivia ; serta memberikan sanksi terhadap intervensi AS di AL selama ini.
5. Kepada rakyat Indonesia agar menyerukan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono segera menghentikan segala bentuk kerjasama dengan pemerintahan AS; sekaligus mengusir keluar Duta Besar AS, Cameron R. Hume, dari Indonesia . Hal ini merupakan bentuk solidaritas kepada Bolivia dan Venezuela ; dan simbol penolakan terhadap imperialisme AS.

Kepada Rakyat Venezuela dan Bolivia ; kamerad Evo Morales dan Hugo Chavez:

1. Segera tangkap para pelaku tindak kejahatan dan para organisator kudeta.
2. Lanjutkan dan masifkan mobilisasi rakyat serta tindakan politik yang dibutuhkan untuk menghadapi kaum oligarki fasis yang tidak segan-segan menggunakan metode-metode kekerasan.
3. Masifkan Nasionalisasi di bawah kontrol rakyat terhadap semua industri vital dan perbankan yang dimiliki oleh para pemodal asing dan borjuis nasional yang menjadi agennya; hanya dengan merebut kekuatan ekonomi dari tangan kaum oligarki dan tuan-tuannya lah kita dapat membuat ompong serangan mereka.
4. Dengan mobilisasi rakyat yang semakin massif dan bersatu, MAJU lah menuju kemenangan mutlak sosialisme!

Jakarta, 27 September 2008

Hasta La Victoria Siempre!
Sosialisme atau Barbarisme!

Nama-nama organisasi yang sudah menandatangani surat solidaritas ini:

· Hands Off Venezuela - Indonesia

· Komite Politik Rakyat Miskin – Partai Rakyat Demokratik (KPRM-PRD)

· Rumah Kiri

· Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI)

· LMND-PRM

· Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika

· Libertan Bogor

· Proletariat Resistance Bogor

· Resist Book Yogyakarta

· KSM Unas Jakarta

HOV Indonesia mengundang semua kalangan untuk turut serta dalam aksi solidaritas menentang intervensi AS di Amerika Latin dan menandatangani surat pernyataan ini.

hovindonesia@yahoo.com
Kontak person: 081513984237 (Jesús)

Jesús SA
Koordinator Hands Off Venezuela - Indonesia

09/10/2008

PRESIDEN HUGO CHAVEZ MELAUNCHING KAMPANYE PEMILU KEPALA DAERAH


Hugo Chavez berpidato di hadapan para anggota PSUV, pada hari minggu (PSUV)

Diambil dari http://www.venezuelanalysis.com/news/3839
Diterjemahkan oleh Dian Septi (Staf Pendidikan-Bacaan DHN-PPRM)

Minggu, 29 September di Merida, pada acara inti launching kampanye pemilu Partai Persatuan Sosialis Venezuela. Presiden Venezuela, Hugo Chaves menyatakan bahwa tidak mungkin memenangkan posisi Gubernur kecuali dengan melakukan perlawanan terhadap kepuasaan diri dan pengkhianatan dan juga dengan melihat persoalan revolusi di luar panggung electoral.

Kandidiat PSUV dan anggota dari berbagai negara menghadiri acara tersebut di Stadion Poliedro di Caracas.

Chaves mengatakan bahwa pemilihan kepala daerah mendatang pada bulan November sangat penting bagi Amerika Latin dan dunia, di mana mereka tidak hanya memenangkan posisi walikota dan posisi pemerintahan tapi juga menanamkan kesadaran massa.

Ia mengekspresikan kepuasannya bahwa sekarang Venezuela telah mempunyai partai revolusioner dan sosialis yang bersatu dan pengaruhnya telah meluas, meski baru terbentuk setahun lalu.

“Sudah saatnya kita memiliki sebuah partai politik kader yang memadai, sebuah partai massa yang sejati” kata Chaves

Ia menekankan bahwa sekalipun dengan kerja keras yang dilakukan, satu posisi Gubernurpun di 22 daerah pemilihan dari aliansi Patriotik (yang terdiri atas partai pendukung Chavez) tidak bisa secara obyektif menang. Ia mengatakan hal yang sama pada posisi di dewan legislatif dan walikota, dan cara memenangkannya adalah melalui organisasi, mobilisasi dan kesadaran sosialis serta revolusioner.

“ Kita membutuhkan banyak pengetahuan, studi, (dan) aku tidak berbicara mengenai bagaimana meraih gelar Doktoral, (maksudku) studi mengenai realitas di sekitar kita, kesadaran melalui observasi, analisa, perdebatan, membaca dan kerja-kerja ideology… hanya dengan begitu kita dapat meningkatkan pengetahuan, kesadaran revolusioner, kesadaran sosialis. Kita tidak melupakan bahwa revolusi ini mempunyai jalan: Sosialisme, hanya ini, jalan yang dapat kita lakukan untuk mengkonsolidasikan kemerdekaan Venezuela”

Oleh karena itu, ia menambahkan, secara obyektif bukan hanya sekedar menang pemilu, tapi dengan memenangkannya melalui organisasi, kemampuan memobilisasi, dan meningkatkan kesadaran melalui sebuah perang gagasan karena negara ini “belum secara total dibangkitkan pada tingkat yang kita butuhkan”

“ Hal ini dibutuhkan untuk membangkitkan kemauan berperang di setiap tempat, karena rakyat yang tidur tidak akan pernah menang, dan karena kampanye pemilu harus menjadi sebuah kesempatan dan sebuah skenario untuk membangunkan rakyat secara terus-menerus …. Karena kesadaran tidak akan pernah berhenti berkembang, kita yang seharusnya memasok kesadaran itu dengan perdebatan, pengetahuan, dan kritik terhadap diri sendiri, (untuk membangun sebuah) alat yang kuat dan dibutuhkan bagi sebuah revolusi sejati.”

Dalam pidatonya kepada para kandidat, ia memperingatkan pada mereka agar tidak berubah menjadi borjuis kecil dan mengatakan “Cukup sudah pengkhianatan, kami menginginkan gubernur yang revolusioner sejati, sosialis, jujur, dan walikota yang revolusioner dan sosialis, bagi kalian semua tidak hanya setelah 23 November nanti, namun juga harus siap saat ini”

Chaves menjelaskan bahwa pengkhianatan terhadap rakyat untuk ambisi dan kekayaan pribadi yang sering kali muncul selama lebih dari 200 tahun terakhir ini”

“(Aku) berbicara mengenai kota-kota tersebut di mana kelompok-kelompok kawan-kawan semua berada, kaum revolusioner di waktu lalu menyebrang ke tendensi politik lain, seperti Gubernur Carabobo atau Gubernur lainnya di Barinas , Gubernur Aragua, Gubernur Sucre. Aku katakan, dan akan terus kukatakan, permasalahannya, penyebab utama dari pembelotan tersebut adalah persoalan ideologi”

Ia juga memperingatkan mengenai “cepat puas akan kemenangan” yang dikatakannya sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap hilangnya suara untuk reformasi konstitusi tahun lalu.

”Kita seharusnya tidak merayakan kemenangan kita di negara manapun atau kotamadya manapun”

Setelah Pemilihan Berlangsung

Chavez mengingatkan kepada para hadirin, bahwa bangsa ini seharusnya pada tahun 2009 memperingati 60 tahun revolusi China, 50 tahun revolusi Kuba, dan 10 tahun revolusi Bolivaria di Venezuela dan demikian pula pada tahun 2010, kita semestinya memperingati 200 tahun gerakan pemberontakan pertama semenjak tgl 19 April, yang mengenyahkan pemerintahan Spanyol dari Venezuela.

“(Gerakan itu) merupakan gerakan pertama di benua ini. Sebagaimana yang terjadi pada tahun 2011, kita akan merayakan 200 tahun konstitusi pertama pada tgl 5 Julli dan kita akan merayakannya secara besar-besaran, sebuah revolusi kemerdekaan yang sepenuhnya”

Ia menjelaskan bahwa Revolusi Bolivarian tidak lebih dari kelanjutan proses kemerdekaan yang sama, sebuah tahap sejarah kedua dari proses kemerdekaan Venezuela dan Amerika Selatan.

“Apa yang seharusnya terjadi (dalam pemilihan kepala daerah) adalah menyurakaan kembali keberhasilan-keberhasilan itu, untuk mempercepat revolusi dan bergerak ke arah periode pembentukan sebuah negara baru dengan nilai-nilai sosialis” Kata Chavez.

Percobaan Kudeta dan Pembunuhan

“Hari-hariku dihitung karena mereka mengincarku”, Chavez juga mengatakan dalam pidatonya, merujuk pada kudeta terencana yang dilaporkan pada bulan ini dan 12 orang telah dipenjarakan.

Ia mengingatkan bahwa ada kemungkinan serangan yang akan dilakukan oleh kaum Oligarki dan “simpatisan Amerika” dalam bulan oktober dan telah merekomendasikan beberapa hal guna menghadapi percobaan tersebut, dengan menyebarkan intelejen di berbagai tempat, yang berhubungan langsung dengan Pemerintah Nasional dan institusi kepolisian.

Bagaimanapun, ia meyakinkan bahwa ”Ya, bulan oktober akan merah, merah dengan kebahagiaan, merah di jalan-jalan , gairah dan tanah air yang merah, merah bukan untuk kekerasan tapi untuk kedamaian, merah bukanlah kebencian terhadap kaum oposisi, tapi cinta terhadap rakyat dan PSUV . November kita akan merahkan dalam kemenangan dan sosialisme Kita tidak akan menjadi negara yang bodoh tapi negara yang merah”

Chavez mengambil kesempatan untuk memberikan selamat pada Menteri Kehakiman dan Dalam Negeri yang baru, Tarek El Aissami, yang dikatakannya mempunyai perang berat melawan peredaran narkoba dan ketidakamanan.***

26/09/2008

Pemimpin-pemimpin Negara Amerika Selatan Mendukung Presiden Bolivia

Agence France-Presse, 16 September, 2008.

Presiden-presiden di Amerika Selatan mengadakan KTT krisis menanggapi kerusuhan yang terjadi di Bolivia, dan menghasilkan pernyataan tegas untuk memberikan dukungannya pada presiden Bolivia Evo Morales.

Pernyataan ini disetujui oleh Morales beserta presiden Argentina, Brazil, Chili, Kolombia, Ekuador, Paraguay, Uruguay, dan Venezuela, yang juga menolak perpecahan wilayah di Bolivia.

Kesembilan presiden di ibukota Chili, Santiago, menyatakan “dukungan penuh dan tegas bagi pemerintahan konstitusional, presiden Evo Morales, yang mandatnya diratifikasi oleh mayoritas besar.”

Preside Argentina, Cristina Kirchner, mengatakan, setelah pembicaraan selama 6 jam ‘kesepakatan yang diperoleh bulat’.

Kirchner telah mengatur KTT ini dengan bantuan dan dukungan dari Perserikatan Negara-Negara Amerika Selatan yang baru saja terbentuk, yang sekarang ini diselenggarakan oleh Chili.

Para pemimpin negara tersebut juga mengungkapkan keinginan untuk membentuk sebuah komite untuk turut dalam pembicaraan antara pemerintahan Morales dengan gubernur-gubernur yang memberontak di timur Bolivia, yang menentang reformasi sosialisnya.

Minggu lalu Bolivia dilanda kericuhan sarat kekerasan yang menyebabkan 18 orang tewas dan seratusan orang luka-luka di daerah utara negara bagian Pando.

Gangguan keamanan yang melanda 5 negara bagian di bagian timur Bolivia yang dikepalai gubernur berkarakter konservatif yang menginginkan otonomi daerah.

Morales menyebut tekanan ini sebagai suatu upaya penggulingan yang illegal.

Setibanya di Santiago, Morales menuduh musuh-musuh dalam negerinya itu merencanakan upaya makar terhadapnya.

Pernyataan KTT para presiden “memperingatkan bahwa pemerintahan kami masing-masing menolak dengan tegas dan tidak akan mengakui upaya-upaya kudeta sipil dan hancurnya keteraturan kelembagaan yang sudah berjalan yang mampu berkompromi dengan integritas territorial di Republik Bolivia.”

Mereka juga mengutuk terbunuhnya warga sipil di Pando, dan menyerukan pembentukan komisi untuk menyelidiki pernyataan-pernyataan tanpa bukti tentang banyaknya kalangan petani pendukung Morales yang menjadi korban tertembak karena dijebak.

Diterjemahkan oleh Sistha (anggota LMND-PRM Yogyakarta), dari:
http://boliviarising.blogspot.com/2008/09/leaders-back-embattled-president.html

Sayap Pemuda Partai Sosialis Bersatu Venezuela (PSUV) Lahir

Delegasi pada Konggres Pendirian Sayap Pemuda dari Partai Sosialis Bersatu Venezuela [PSUV] di Merida.

Sayap Pemuda Partai Sosialis Bersatu Venezuela (PSUV) Lahir
15 september 2008, oleh Tamara Pearson – Venezuelanalysis.com

Pada tanggal 11-13 September yang lalu, sekitar 1400 delegasi pemuda dari seluruh negara bagian di Venezuela bertemu di Puerto Ordaz, Negara Bagian Bolivar, untuk membentuk organisasi baru kepemudaan dalam Partai Sosialis Bersatu Venezuela [PSUV].

Konggres Pendirian Pemuda PSUV [J-PSUV] membahas beberapa tema, seperti: peran pemuda dalam pembangunan sosialisme, krisis energi dan pangan, peran pemuda dalam pertahanan nasional, struktur organisasional dalam J-PSUV, serta perkembangan revolusi.

Ada 47 pokja bagi para delegasi guna membahas statuta J-PSUV dan keluar dari perdebatan dengan cara memodifikasi 10 dari 20 pasal yang terdapat dalam proposal awal.

Konggres menghasilkan dokumen politik berjudul “Dokumen Cariuachi” yang berisi garis besar program baru kepemudaan yang akan diadakan di semua wilayah.

Dokumen tersebut mengacu pada tujuan sayap pemuda PSUV ini untuk mengorganisir, membentuk, dan menyertakan seluruh pemuda Venezuela menjadi revolusioner militan, guna berjuang untuk menghapus marjinalisasi dan diskriminasi terhadap kaum muda dan membentuk ruang-ruang bagi terciptanya kesetaraan, kebebasan, dan partisipasi aktif semua kaum muda.

Kaum muda militan juga harus aktif dalam perjuangan melawan korupsi dan birokrasi, serta terbangunnya sosialisme.

Dokumen tersebut menetapkan bahwa segala tindakan yang rasis, homofobia, seksis, ataupun ekspresi-ekspresi penghinaan lainnya, adalah perilaku yang ditentang oleh anggota J-PSUV, dan merupakan tanggungjawab semua anggota untuk turut serta dalam pertahanan integral negara.

Sedikitnya 10 kaum muda akan membentuk tim kepemimpinan negara yang masing-masing memilih 1 jubir beserta 1 jubir cadangan. Kesetaraan gender harus dijamin melalui pemilihan posisi dan penunjukkan posisi.

Tim Pemuda Nasional akan menjadi komponen permanen dari PSUV dan akan dibentuk dari 30 jubir, yang 27 diantaranya akan dipilih dalam pemilihan nasional, dan 3 sisanya dipilih oleh kaum muda kalangan pribumi.

Hector Rodriguez, anggota pimpinan nasional PSUV dan Mensesneg mengatakan, bahwa, perubahan-perubahan yang dilakukan terhadap dokumen tersebut memperdalam demokrasi internal dalam partai dan menegakkan disipin unternal partai.

Konggres juga mendukung keputusan Presiden Venezuela Hugo Chavez yang mengusir diplomat AS dari negaranya. Berkenaan dengan rencana pembunuhan terhadap Chavez, lebih dari 30 delegasi internasional dan pemimpin muda mendeklarasikan ketidaksepakatan terhadap sabotase dan destabilisasi yang terjadi, tidak hanya terjadi di Venezuela namun terjadi pula di Paraguay, Guatemala, Ekuador dan Bolivia.

Para delegasi memberikan laporan yang bersemangat, optimistik dan serius dalam konggres. Salah satu slogan yang paling sering dikemukakan adalah, ‘bila situasi memburuk, kami menginginkan senjata!’

Carlos bello, delegasi dari kotapraja Sucre di negara bagian Miranda, menyampaikan pernyataan pada Venezuelanalysis.com, bahwa ‘pencapaian utama dari konferensi adalah perserikatan dan komitmen yang tak terbantahkan dari kaum muda Venezuela untuk mempertahankan negara dari serangan imperialis dan merasa berkepentingan untuk berpartisipasi dalam membangun tanah air.’

“Sayap pemuda dalam partai lahir untuk memperkuat struktur yang sudah ada. Sekarang tugas kita adalah belajar dan bekerja demi terbangunnya masyarakat yang berbeda dari sebelumnya dimana setiap orang memiliki kesempatan unuk hidup dengan harga diri, pendidikan, kesehatan, perumahan, dan keluarga yang lebih baik dengan nilai-nilai baru.”

“Even ini sangat transendental dalam sejarah perpolitikan Venezuela. Untuk pertama kalinya dalam sejarah sebuah partai politik… memberikan peran utama bagi kaum muda yang terpilih dengan basis populer, yang tidak menginginkan apapun selain penghapusan ketidakadilan sosial”

Daniel Briceno, delegasi untuk kotapraja San Jacinto, Negara Bagian Merida, menyampaikan pada Venezuelanalysis.com bahwa ia berpendapat bahwa hal penting dari konferensi adalah persetujuan dari seluruh pokja dalam menghasilkan dokumen final dan bahwa capaian utamanya adalah artikulasi dan organisasi kaum muda dalam PSUV.

“sekarang kita harus menyampaikan informasi ini ke basis-basis dan mendiskusikannya sehingga tim pemuda mengetahui regulasi ini dan bisa mulai untuk menerapkannya,” katanya.


Hector Rodriguez, anggota pimpinan PSUV, menyebut konggres ini sebagai sebuah momen historis, karena “hari ini salah satu dari kekuatan pemuda yang terbesar yang pernah dimiliki dalam sejarah politik Venezuela dilahirkan.”


Cesar Trompiz, delegasi lainnya dalam konferensi mengatakan, "Kaum nuda harus percaya bahwa negara adalah milik kita, bahwa revolusi adalah milik kita."
Dia menjelaskan bahwa sebelumnya para pemuda telah terlibat di dalam revolusi secara sukarela seperti juga pada saat ini, “kerja-kerja kaum muda dalam partai dikerjakan secara organis, terorganisir dan terarah. Yaitu dengan adanya tujuan-tujuan yang jelas”

Dalam program mingguan setiap hari Minggunya, “Halo Presiden,” Chavez menginginkan kandidat-kandidat PSUV yang terlibat dalam manajemen pemerintahan agar dipilih dalam pemilihan tanggal 23 November mendatang.

“Perlu bagi kita untuk memberikan ruang bagi kaum muda karena terkadang kita bilang ‘tidak…mereka belum dewasa’… (kita harus) berhati-hati terhadap konsep semacam itu,” kata Chavez.

Dalam sesi penutupan konggres, Chavez juga meyatakan bahwa kaum muda menjadi penggali kubur bagi Republik keempat (periode politik terbaru sebelum Chavez sejak 1958) dan akan menjadi pembangun era baru.

Di bulan Juli pemimpin PSUV mengajak orang muda dalam partai untuk mengorganisasikan diri ke dalam tim yang beranggotakan 10 orang atau lebih, sesuai dengan cabang masing-masing. Tim tersebut menunjuk seorang jubir dan para jubir ini kemudian bertemu dalam pembahasannya (terdiri dari, kurang lebih, 10 cabang), lalu memilih delegasi untuk menghadiri kongres.

Lebih dari 50% penduduk Venezuela berusia dibawah 30 tahun. ***

Diterjemahkan oleh Sistha (anggota LMND-PRM Yogyakarta), dari: http://www.venezuelanalysis.com/news/3798



02/07/2008

Marxisme dan Masa Depan Revolusi Bolivarian

June 26, 2008

diambil dari http://indonesia.handsoffvenezuela.org/?p=149

Oleh Jesus S. Anam

Terpilihnya para kandidat walikota dan gubernur dari Partai Persatuan Sosialis Venezuela (PSUV) telah menyita perhatian seluruh gerakan revolusioner di Venezuela akhir-akhir ini. Ini menunjukkan bahwa rakyat dan kaum pekerja masih tetap kokoh berdiri guna menyelamatkan revolusi.

Survei yang dilakukan oleh Venezuelan Institute for Data Analysis (IVAD) baru-baru ini juga menunjukkan bahwa gelombang massa yang besar masih tetap berada di barisan depan sosialisme. Dukungan atas kebijakan Chavez dan langkah-langkahnya dalam melawan kapitalisme, seperti nasionalisasi pabrik Sidor dan pabrik-pabrik lain, mencapai sekitar 68%. Nasionalisasi di beberapa pabrik semen: setuju 56.0%; tidak setuju 33.3%; abstain 16.0%. Dan mengenai nasionalisasi perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor makanan: setuju 50.1%; tidak setuju 42.1%; abstain 7.8%.

Dari hasil survei ini kita bisa melihat bahwa ada suatu lompatan yang luar biasa, yakni terjadi pengambilalihan monopoli-monopoli besar — sebuah lompatan kesadaran yang tinggi dari rakyat dan kaum pekerja. Data ini juga memberi gambaran bahwa ada situasi yang luar biasa bagi rakyat Venezuela untuk menuju kedamaian yang sempurna — sosialisme. Situasi seperti ini telah cukup memberi pembenaran bagi Chavez untuk mengeluarkan kebijakan mengenai nasionalisasi berbagai sektor bisnis: perbankan, monopoli-monopoli besar, dan tanah-tanah industrial. Dengan dasar ini, rencana-rencana demokratik bisa diimplementasikan, seluruh perekonomian Venezuela akan berada di bawah kontrol rakyat dan kaum pekerja; seluruh rakyat dan kepemimpinan revolusioner mengambil kontrol atas ekonomi-ekonomi kunci dan mengorganisir ekonomi-ekonomi kunci tersebut untuk memenuhi kebutuhan seluruh rakyat, dan bukan untuk kepentingan segelintir golongan, yakni kaum modal.

Ini merupakan buah terakhir dari penderitaan kaum miskin dan kaum pekerja di Venezuela.

Sebuah kekeliruan yang cukup fatal jika percaya bahwa sosialisme bisa dibangun dengan bertahap, melakukan kompromi-kompromi dengan kaum reformis, dan memberi kelonggaran kepada kaum modal. Gagasan yang mempromosikan suatu ekonomi campuran, di mana baik negara maupun sektor swasta memegang peranan penting, bahwa negara yang kuat bisa menggiring dan menstimuli sektor swasta, tidak ada dalam sosialisme. Gagasan ekonomi seperti ini didasarkan pada pikiran ekonom Inggris abad ke-20, John Maynard Keynes, dan terbukti mengakibatkan kesengsaraan dan memimpin letupan inflasi ke seluruh dunia.

Kaum reformis dan sektor-sektor birokratik di Venezuela mencoba membangkitkan kembali kebijakan Keynesian dari kuburnya. Menghidupkan lagi gagasan mengenai ekonomi campuran, bahwa majikan dan pekerja bisa bersama bekerja membangun sosialisme. Sektor-sektor ini yang akan menekan pemerintahan revolusioner ke arah kanan, memainkan terompet bernada sumbang dan membangkitkan kebingungan mengenai sosialisme, yakni sosalisme yang tidak jelas, jenis kolaborasi antara penunggang kuda dengan kuda tunggangan. Kebijakan tipe ini membawa kepada ledakan inflasi hingga 30 % di Venezuela. Jika mereka, yang berada di sektor birokratik, memaksakan garis politik seperti ini guna mempertahankan dan meindungi kawan-kawannya, yakni kaum modal, mereka akan membawa revolusi Bolivarian menuju jurang ngarai yang amat dalam.

Untuk mematahkan arus yang akan memnghanyutkan revolusi, perlu membangun aliansi yang kuat dari gerakan-gerakan politik Bolivarian dengan gagasan-gagasan yang benar. Tindakan Hugo Chavez debngan membaca buku karya Alan Wood, Bolshevism: Road to the Revolution, merupakan contoh dari kejeliannya untuk mencari gagasan yang tepat guna mengeluarkan Venezuela dari ancaman kaum reformis. Buku Reform or Revolution, Marxisme and Socialism of the twenty-first century, a response to Heinz Dietrich akan berkontribusi besar untuk melawan ide-ide kaum reformis seperti Dietrich dan saatnya mengembalikan ide-ide genuine dari sosialisme ilmiah, atau Marxisme.

Salam Solidaritas!