21/12/2006

Pegawai Negeri Venezuela Menerima Kenaikan Gaji

Bagaimana Indonesia? [i]

Ditulis Oleh Simone Baribeau
Sabtu, 21 Januari 2006

Pengantar Penterjemah [ii]

Demonstrasi kaum buruh menuntut kenaikan upah—setelah beberapakali sebelumnya pun diawali dengan demonstrasi para guru (pegawai negeri) menuntut kenaikan gaji—merupakan refleksi politis terhadap tata perekonomian dan politik pemerintah SBY-Kalla yang sedang mengalami krisis. Konsep pengupahan dan ekonomi mikro perusahaan—adanya kenyataan bahwa para pengusaha khususnya menengah-kecil juga terkena dampak krisis ekonomi saat ini—harus segera dibongkar, hingga secara objektif—seharusnya—mengakibatkan pembongkaran kebijakan ekonomi makro secara keseluruhan.


Artikel berikut dimaksud untuk memancing diskursus jalan keluar atas persoalan upah. Yang bila lebih lanjut diperdalam—melalui bacaan-bacaan terkait—membimbing pembaca untuk menjawab pertanyaan sederhana berikut: "Model ekonomi seperti apa hingga bisa menjamin kenaikan upah, bahkan, dikala inflasi tinggi?" (zy)

Diolah dari laporan Simone Baribeau - Venezuelanalysis.com

18 Januari 2006, Caracas, Venezuela. Negosiasi yang sedang berjalan antara Serikat Pekerja Nasional (UNT) [iii] dengan pemerintah menghasilkan kesepakatan mengenai sistem kenaikan upah bagi pegawai pemerintah [iv]. Hari minggu lalu lewat program televisi mingguan Aló Presidente, Presiden Venezuela Hugo Chavez, mengumumkan kesepakatan model multi-tingkat kenaikan bagi upah tahun ini.


Orlando Chirino, ketua UNT, pada Venezuelanalysis.com mengatakan, walau detail kesepakatan belum final, namun ia optimis bahwa serikat buruh dan pemerintah akan mencapai persetujuan akhir dalam satu dua minggu kedepan.


"Buruh yang berpenghasilan paling sedikit akan menerima persentase kenaikan paling tinggi," ujar Chirino menggambarkan sistem pelevelan upah. Menurut Chirino, poin yang harus dibicarakan lebih lanjut terutama mengenai permintaan mendesak serikat buruh untuk menaikkan upah sama bagi semua sektor kerja (across the board wage increases), sementara pemerintah dari awal tidak mendukung kenaikan upah pekerja yang berpenghasilan lebih dari Bs [v].1,2 juta (lebih kurang $600 atau Rp. 6 juta) perbulan.


Berbicara mengenai kenaikan upah sama bagi semua sektor kerja, Jum'at lalu, ketika pidato tahunannya di depan Majelis Nasional Venezuela, Hugo Chavez berkata, "pembicaraan tersebut ditunda karena kenaikan upah minimum pada tahun 2004 dan 2005, selain fakta bahwa saya tidak sepenuhnya percaya dengan skla pengupahan model lama karena menurut saya tidak adil ketika upah minimum dinaikkan sementara seseorang yang level penghasilannya minimum menerima kenaikan sebesar x saja, dampak penyesuaian berikutnya adalah seseorang yang berada padalevelpenghasilan tinggi menerima kenaikan sebesar 5 kali x."


Dalam pidato yang sama, Chavez mengatakan sebesar Bs. 2,5 trilyun (hampir $1,2 milyar atau Rp. 1,2 trilyun) akan dialokasikan untuk kanaikan gaji pegawai negeri. Menurut Bloomerg kenaikan ini sekitar 3 kali dari kenaikan tahun lalu untuk pegawai negeri.


Menurut Chiniro, pemerintah sudah setuju untuk menaikkan gaji seluruh pegawi negeri, bahkan mereka yang berpenghasilan tinggi, meskipun (masih) berada pada level lebih rendah dari buruh yang berpenghasilan rendah. "Kami setuju dengan pemerintah, bahwa mereka yang berpenghasilan terendah seharusnya mendapat kenaikan tertinggi," ia berujar.

Selama dua tahun belakangan ini, pemerintah hanya memberi kenaikan pada pegawai negeri yang berpenghasilan minimum, sekitar $200—lebih kurang Rp. 2 juta perbulan. Sementara kaum buruh, bahkan mereka yang berpenghasilan mendekati skala terkecil belum menerima kenaikan dalam tiga tahun. Inflasi yang terjadi bersamaan di tahun 2004 dan 2005 lebih dari 30% menurut data Bank Central.

"Menaikkan hanya upah minimum memiliki dampak psikologi negatif terhadap para pekerja," ujar Miguel Laffe, seorang pegawai negeri. "Saudara perempuan saya bekerja untuk pemerintah dan ia berpenghasilan sedikit saja diatas penghasilan minimum, sehingga ia tidak menerima kenaikan sama sekali," tambahnya.

Laffe bekerja sebagai Koordinator Menteri Pendidikan dan Olah Raga Institut Pemuda Nasional di Caracas, cabang dibawah kementerian yang para pegawainya pada umumnya mendukung pemerntahan Presiden Chavez. Saat ini ia berpenghasilan sekitar $400—Rp. 4 juta perbulan, setelah mendapatkan promosi bulan Desember lalu. Laffe belum mendengar bahwa pemerintah sudah merencanakan kenaikan gaji lintas sektoral (semua sektor), namun ia mendukungnya. "Jika anda tidak menaikkan gaji lintas sektoral, orang kemudian akan merasa bahwa kerja mereka tidak dihargai," ia berkata.

Sekretaris Laffe, Arlyth Robles, yang berpenghasilan minimum, juga mendukung kenaikan upah lintas sektoral. "Aspek negatifnya hanyalah peningkatan inflasi," katanya.

Tak seperti Bosnya, yang mengatakan bahwa akan lebih baik jika pegawai negeri (termasuk dirinya) berpenghasilan lebih, namun, sewaktu-waktu, bekerja dengan upah lebih sedikit dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan tertentu yang berguna (untuk orang banyak), Robles berkata gaji pegawai negeri harus lebih tinggi. "(Gaji kami) tidak adil. Ini adalah negara kaya minyak, kita kaya dengan sumber daya alam. Uang ada untuk membayar kami, namun para elit [vi] membawa lari (uang tersebut) ke luar negeri. Tidak benar bahwa orang yang berkerja lebih banyak namun mendapatkan lebih sedikit," ia mengatakan.

Bulan depan, Chirino mengatakan bahwa UNT akan meneruskan negosiasi dengan pemerintah. Diantara perubahan-perubahan tersebut UNT menghendaki revisi yang menyeluruh atas skala upah; dan negosiasi yang menyeluruh pula terhadap kontrak-kontrak pegawai negeri, membahas segala yang menyangkut pensiun hingga jaminan kerja. "Kami sedang mengupayakan kontrak-kontrak pemerintah sejalan dengan konstitusi baru, dan menghapuskan egoisme, individualistisdan ketimpangan (akibat sistem lama—pemerintah sebelum Chavez)," ia menjelaskan.***


[i] Yang bergaris miring adalah tambahan penterjemah

[ii] Diterjemahkan oleh Zely Ariane. Pengantar dimaksudkan untuk menunjukkan kaitan dengan situasi yang sedang terjadi di tanah air, sekaligus sebagai otokritik konsep pengupahan di negeri kita saat ini.

[iii] UNT adalah serikat buruh yang relative baru, dibentuk pada bulan May 2003, setelah penutupan (pemboikotan) industri minyak negara (PDVSA—mayoritas saham di era pemerintahan sebelumnya tetap dimiliki oleh perusahaan raksasa minyak seperti Shell, Repsol dan Royal Dutch) oleh para manajer dan eksekutif yang anti pemerntahan Chavez, dan tak setuju PDVSA dinasionalisasikan (kembali) dibawah pemerintahan Chavez. Kejadian itu membuat mayoritas buruh kecewa dengan serikatburuh kuning Konfederasi Buruh Nasional—National Confederation of Workers (CTV), yang pimpinan-pimpinannya berupaya menjatuhkan pemerintahan Chavez. UNT secara umum dilihat bersimpatiterhadap pemerintahan Chavez, namun merekasepenuhnya terpisah daripemerintah.

[iv] Hanya ada istilah government workers dan (other) workers dalam artikel ini. Istilah pegawai negeri (mungkin) hanya ada di Indonesia, sebab dalam artikel ini istilah pegawai negeri yang saya gunakan mengacu pada para pekerja (kaum buruh) yang bekerja untuk pemerintah—istilah inilah yang digunakan oleh artikel berbahasa Inggris ini (government workers). Sementara workers saya terjemahkan menjai kaum buruh. Penterjemahan ini berkait dengan kenyataan bahwa tidak disamakannya istilah buruh/pekerja swasta dan pemerintah di Indonesia.

[v] Bolivar, mata uang Venezuela

[vi] Kata-kata para elit dalam banyak artikel tentang Venezuela di masapemerintahan Chavez, mengacu pada para orang kaya dan pejabat elit yang anti pemerintahan Chavez. Setelah Chavez menjadi Presiden, kata-kata elit tidak pernah lagi ditujukan oleh mayoritas rakyat yang berpenghasilan rendah/miskin kepada pemerintah yang berkuasa namun pada pengusaha-pengusaha kaya.

MAS di Bolivia: Gerakan Menuju Apa?

Oleh Federico Fuentes
Jumat, 15 Juli 2005

Kita tak bisa membicarakan krisis di Bolivia --tempat berlangsungnya gelombang demonstrasi berkepanjangan, blokade jalanan dan pemogokan umum yang telah menjatuhkan dua presiden-- tanpa menyebut nama Evo Morales. Morales dan partainya, Gerakan Menuju Sosialisme (MAS) adalah kunci untuk memahami situasi yang berkembang di negeri itu.

Dari sayap kiri, Morales didera kritik akibat posisi yang diambilnya. Beberapa pimpinan Sentral Pekerja Bolivia (COB), Federasi Komite Lingkungan El Alto (FEJUVE), Sentral Pekerja Regional El Alto (COR) dan kelompok-kelompok trotskyist acap kali memprotes sikap "moderat" Morales. Pertengahan tahun lalu, pimpinan COB, atas desakan Jamie Solares, mengeluarkan Morales dari organisasi tersebut karena dianggap "pengkhianat" dan "penjual". Pasca serangkaian mobilisasi terakhir ini, COR menyatakan Morales sebagai "musuh" rakyat El Alto.

Permusuhan ini hanya dapat tertandingi oleh kampanye anti MAS dan anti Morales yang dilancarkan oleh kaum Kanan. Pada bulan Desember 2001, dubes AS untuk Bolivia pada saat itu menyetarakan Morales dengan Osama bin Laden, dan mencap para petani koka , cocaleros, yang dipimpinnya sebagai pengikut "Taliban Andean ". Bulan Februari ini, Sekretaris Negara AS Condoleezza Rice berkomentar di media bahwa "ia sangat prihatin" atas menguatnya "sebuah partai yang beranggotakan petani koka" di Bolivia. Sejak pernyataan anti-MAS yang dikeluarkan oleh Rice, membuat Morales 'merujuknya' sebagai manajer kampanyenya. Karena semakin Washington menyerangnya, semakin melambung popularitasnya.

Basis tradisional Morales adalah para cocaleros yang kebanyakan sebelumnya adalah pekerja tambang yang sangat terorganisir dan militant, namun kehilangan pekerjaannya pada pertengahan 1980-an, sebagai konsekuensi resktrukturisasi atas saran IMF.

Daun koka adalah bagian penting budaya tradisional penduduk asli setempat dan para petani koka adalah simbol perlawanan yang ampuh. MAS lahir dari perjuangan melawan upaya pembasmian budidaya koka yang dipimpin oleh AS.

Pendiri dan ideolog MAS, Antonio Peredo Leigue, berkomentar dalam Punto Final bahwa MAS telah menyatu jadi "sebuah kontradiksi permanen antara penduduk asli dan kaum marxis melawan konsepsi sos-dem"

Ketika wartawan Resumen Latinoamericano, Diego Gonzalez, bertanya pada Morales apakah ia seorang Marxis, ia menjawab "Apa itu Marxisme? Saya berasal dari komunitas tani, dari rakyat jelata, bukan dari universitas atau pusat pembelajaran. Saya dapat bicara tentang Marxisme, tapi apa pentingnya itu semua? Ini bukan masalah impor politik, ideologi, program. Rakyat tahu itu. Organisasi kami sudah cukup matang untuk menuntaskan permasalahan rakyat, bahkan mereka (rakyat) lah sumber pengetahuan yang membela kehidupan dan kemanusian.

Jangan bicara tentang Marxisme, Leninisme, Trotskyisme dengan saya, kita hanya membuang waktu. Di sini, yang ada adalah memahami dan menghadapi problem2 yang ada untuk menemukan solusinya."

Kelahiran dan masa awal MAS bertepatan dengan titik balik perjuangan kelas yang dipimpin oleh rakyat asli Bolivia. Pada awal 2000-an,mobilisasi massa di Cochabamba berhasil menendang perusahaan multinasional AS Bechtel. Tahun itu, aksi protes meluas hingga menggerakkan penduduk asli Aymara, yang tinggal di dataran tinggi altiplano, di atas ibukota La Paz.

Pemilu 2002 mengusung penduduk asli negeri tersebut - berikut MAS dan Morales sebagai perwakilan utama mereka - ke panggung utama. Dalam pemilihan presiden, Morales hanya kalah kurang dari 2 % suara dari Lozada. Partai-partai penduduk asli kini menguasai sepertiga parlemen Bolivia, utamanya adalah MAS dan Gerakan Penduduk Asli Pachakutik (MIP) pimpinan Felipe Quispe.

Seiring meningkatnya kepercayaan diri penduduk asli secara politis, polarisasi kelas meruncing dan memuncak saat perlawanan massa bulan Oktober 2003, yang dipicu oleh isu gas dan berhasil menggulingkan Lozada. Penggulingan Lozada menempatkan wapres Carlos Mesa, ke kursi kepresidenan dengan persetujuan hampir semua organisasi gerakan sosial. Untuk meraih dukungan, Mesa berjanji untuk meneruskan "Agenda Oktober"-mengembalikan penguasaan gas Bolivia kepada rakyat,membentuk majelis constituency untuk penulisan kembali konstitusi, dan membangun kembali negeri tersebut dengan partisipasi aktif penduduk asli yang mayoritas, dan pengadilan bagi mereka yang bertanggung jawab atas 67 orang yang mati saat aksi massa tersebut.

Pemerintahan Mesa menjadi ancaman nyata bagi kaum Kiri. Beberapa kelompok kiri radikal, temasuk COB dan MIP, tidak lagi tunggu waktu untuk kembali turun ke jalan guna beroposisi dengan presiden baru itu.COB menyerukan pemogokan tanpa batas waktu sejak 1 Mei 2004, walaupun gagal memobilisasi sector rakyat yang berpengaruh. Quispe mengundurkan diri dari parlemen sambil menyatakan bahwa ia tidak dapat lagi menjadi bagian dari "institusi neoliberal ini"

Walau demikian, MAS mempertahankan dukungan kritis terhadap pemerintah, tanpa berpartisipasi dalam cabinet, dan dengan tetap memobilisasi massanya.
MAS menilai ada tiga factor yang mengancam kemenangan perlawanan massa bulan Oktober: keterbatasan Mesa; bahaya ancaman militer; dan tidak adanya tawaran visi yang jelas tentang struktur ekonomi/politik yang dapat menyatukan kekuatan rakyat.

Perpecahan di dalam pemerintahan muncul ke permukaan saat referendum gas tanggal 18 juli tahun lalu. Sementara Quispe dan Solares menyerukan boikot - dan bahkan pembakaran kotak suara - MAS justru menjadi salah satu pendukung terbesar referendum; akibatnya Morales dikeluarkan dari COB. Morales berargumen bahwa referendum adalah kemenangan penting perlawanan Oktober yang menawarkan kesempatan untuk menentukan masa depan sumber daya alam Bolivia.

Meski begitu, kebanyakan kaum Kiri radikal dengan tepat menekankan bahwa referendum menggunakan istilah-istilah yang ambigu sehingga hasil referendum yang dikehendaki pun akan memberikan "mandat" kepada Mesa untuk menjalankan undang-undang apa pun yang dikehendakinya. Di antara lima pertanyaan dalam referendum, tidak sekalipun muncul kata "nasionalisasi".

Hanya sedikit terjadi aksi protes, pertanda bahwa seruan untuk secara aktif menghalangi proses referendum tidak bergaung di tengah massa. Dalam sebuah artikel ZNet tanggal 20 Juli, Forrest Hylton menyatakan bahwa meskipun suara abstain dan cacat cukup banyak, "dari semua aktivis lapangan yang memilih, barangkali mayoritas memilih 'ya' untuk tiga pertanyaan pertama dan 'tidak' untuk dua terakhir, seperti yang disarankan oleh MAS".

Di bulan September, pertarungan atas penguasaan gas kembali hadir di jalanan. Baik kiri radikal dan MAS menggelar demonstrasinya masing-masing. Pada saat yang sama, pernyataan-pernyataan Morales seakan menjadi lebih radikal.

Semakin condongnya Morales ke kiri tampaknya dipengaruhi oleh tiga faktor. Pertama, Mesa terus bergeser ke kanan. Faktor kedua ditunjukkan oleh Walter Chavez dalam artikelnya tanggal 22 November di Inprecor yang menjelaskan bahwa senator (utusan daerah, pen) dan pendiri MAS, Filemon Escobar, mengajukan argumen di dalam MAS bahwa, untuk menangkal kudeta kaum kanan, Mesa mesti didukung penuh. Escobar dipecat dari MAS karena diduga menerima uang sebagai imbalan tidak hadir dalam parlemen. Pada Januari tahun ini, Escobar, bersama beberapa anggota parlemen dari MAS, membentuk "Blok Patriotik" pro Mesa. Beberapa intelektual kiri juga meninggalkan MAS untuk menjabat posisi dalam cabinet Mesa.

Ketiga, dan ini barangkali factor kuncinya, adalah basis pendukung Morales memberikan tekanan terhadap posisinya. Tak diragukan lagi, kesalahan oportunistik dan moderasi politik menyebabkan perseteruan dalam basis Morales. Ini diperparah lagi oleh pembunuhan seorang cocalero bulan September ini. Morales bereaksi dengan mengadakan pertemuan di Chapare untuk membahas langkah-langkah berikutnya, dan dari sini lah ia memulai protes-protes yang mengguncang La Paz di bulan Oktober lalu.

Setelah Mesa menaikkan harga pajak bahan bakar di malam tahun baru, Morales menyatakan dirinya "musuh nomor satu" Mesa dan memulai demonstrasi nasional di bulan Januari. Ketika RUU Gas dijadwalkan untuk dibahas kembali oleh Kongres di bulan Maret, Morales kembali memulai gelombang aksi protes dan blockade jalanan. Untuk sementara waktu MAS, COB, FEJUVE dan lainnya bersatu untuk mereformasi Staf Jenderal Rakyat (General Staff of the Peoples) dan mengorganisir aksi-aksi bersama di seluruh negeri itu.

Namun kesatuan organisasi ini tidak dapat dipertahankan saat mobilisasi bulan Mei-Juni yang kemudian menjatuhkan Mesa. Ini sebagian karena Morales ditinggalkan massa, dan bahkan beberapa pimpinan MAS mengakui, bahwa ia pada awalnya tidak menyerukan nasionalisasi, posisi ini baru kemudian dirubahnya saat mobilisasi tersebut.

Perbedaan posisi terbesar antara MAS dan gerakan social lainnya terletak pada tuntutan pembubaran parlemen dan pengunduran diri Mesa. Sementara kiri radikal menyetujui tuntutan-tuntutan tersebut, Morales berpendapat bahwa membubarkan parlemen berbahaya karena badan itu mewakili demokrasi, dan Kongres harus dipaksa untuk menghormati mandate dari rakyat. Ia berkata bahwa Mesa tidak harus mundur, tapi mengembalikan penguasaan gas dan membentuk majelis konstituensi.

Dalam El Diario tanggal 24 Mei, Linera bereargumen bahwa dengan berbagai kontradiksi dan kelemahan dalam gerakan, merebut kekuasaan melalui insureksi atau pemilu sangatlah sulit dan akan memberikan keuntungan bagi sayap kanan. Ia berpendapat bahwa untuk menjalankan insureksi, gerakan social harus menghadapi aparat represif negara di saat perimbangan kekuatan di dalam aparat tersebut-meski terdapat beberapa perpecahan-tidaklah menguntungkan. Terpecah-pecahnya kaum kiri juga mempersulit upaya lewat jalan pemilu, suatu tantangan yang mungkin harus dihadapi oleh kaum kiri saat ini.

Sebagaimana Linera menulis dalam La Jornada tanggal 27 Mei "Tak ada yang bisa memerintah tanpa memperhitungkan gerakan social. Karenanya, cepat atau lambat, secara revolusioner atau secara konsesi, akan harus ada perubahan."

Kemenangan untuk MAS dalam pemilu mendatang bukan saja suatu pukulan terhadap kaum Kanan, itu akan mengumandangkan keberhasilan penduduk asli dalam merebut ruang politik yang lebih besar, menjadi sinar mercusuar yang dahsyat bagi gerakan penduduk asli di Ekuador dan Peru, dan merupakan terpilihnya kawan dekat dan sekutu politik Presiden Kuba Fidel Castro dan Presiden Venezuela Hugo Chavez. Masalahnya kini apakah kaum kiri dapat bersatu di bawah pimpinan Morales, terlepas dari perbedaan yang ada, atau membiarkan perpecahan membukakan pintu bagi kaum kanan untuk kembali mengambil inisiatif.

Di Sadur dari Greenleft weekly No. 630 22 Juni 2005, diterjemahkan oleh Zely Ariane Departemen Relasi Internasional KPP-PRD

Brigade Kesehatan Kuba Kembali Setelah Menolong Rakyat Indonesia

Selasa, 12 September 2006

Havana, 7 September, 2006. Brigade Kesehatan Kuba kembali ke kampung halamannya setelah memberikan pertolongan kesehatan selama tiga bulan pasca gempa di Indonesia. Kedatangan mereka disambut oleh Menteri Kesehatan José Ramón Balaguer.

Anggota Politbiro Partai Komunis Kuba, Balaguer, dan partai-partai lainnya serta pimpinan-pimpinan pemerintahan, menjemput 135 professional kesehatan, dan semua anggota Kontingen Medis Henry Reeve International yang khusus menangani bencana dan epidemi yang gawat, di Bandar Udara Internasional José Martí.

Balaguer menyatakan, “Penghargaan dan cinta adalah perasaan yang kalian semua berhasil tumbuhkan, kalian semua adalah busur kemenangan, para serdadu yang bermoral tinggi, yang menolong dan menyelamatkan kehidupan,” ia juga merefleksikan bagaimana dunia ini jadinya bila semua manusia berlaku seperti yang mereka lakukan.

Ia juga menekankan signifikansi dari teladan ‘serdadu berseragam-putih’ ini dan menekankan bahwa kerja mereka memberikan inspirasi bagi hidup dan penyembuhan Presiden Fidel Castro, pendiri brigade Henry Reeve, yang dibentuk bulan Agustus 2005 dengan misi pertamanya adalah penanganan korban (gempa bumi) di Pakistan.

Ia menujukkan kebanggaan kepala negara terhadap evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terkait dengan penghargaan kemanusiaan dan kerja-kerja sosial yang dilakukan oleh pasukan ini, diantaranya terhadap praktek kesehatan umum; ortopedi; operasi, perawatan intensif, anesthesiologi, radiologi, kedokteran anak, kandungan, keperawatan dan teknis.

Dr. Luis Oliveros, koordinator brigade yang ditugaskan di dua rumah sakit lapangan yang didonasikan oleh Kuba, menjelaskan bahwa dalam tiga bulan terdapat 103.000 pasien yang memeriksakan diri, termasuk 773 operasi besar, 2436 operasi kecil dan 34 kelahiran dengan nol kematian, juga 10.000 imunisasi terhadap tetanus.

Dari 135 anggota brigade tersebut, 96’nya telah memenuhi tugas di Pakistan. Oliveros, sebagai kepala rombongan, juga berharap bahwa hasil ini akan memberikan dorongan pada kesembuhan Fidel, serta lebih lanjut menekankan kesediaan mereka untuk ditugaskan diberbagai belahan dunia dimanapun mereka dibutuhkan. (zy)***

Catatan penerjemah:


Tanggal 7 Agustus 2006, pemerintah Kuba melalui Duta Besarnya di Jakarta Jorge Leon, Charge de’Affairs Kedutaan Venezuela di Jakarta Sergio Aranguren, dan Pemda Jogjakarta menandatangani kesepakatan pembangunan klinik mata gratis di Jogjakarta. Dalam kesempatan yang sama juga muncul pembicaraan mengenai kemungkinan kesepakatan serupa hingga tingkat nasional, serta lebih jauh lagi hingga kerjasama dibidang perminyakan (pembangunan refinery). Lebih lanjut kunjungi:

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tugas mulia yang sudah dikerjakan oleh dokter-dokter Kuba (yang harus dicontoh oleh dokter-dokter Indonesia) tersebut diatas selama di Gantiwarno, Jogjakarta, silahkan kunjungi:


Sayangnya berita tersebut berbahasa Inggris dan malah diperoleh dari harian South China Morning Post, Senin 21 Agustus 2006. Entah kenapa kurang ‘laris’ atau bahkan ‘tak ada’ (?) di media-media dalam negeri.

Konvensi Demokratik: Sebuah Langkah Maju untuk Demokrasi di Meksiko

Minggu, 01 Oktober 2006

Mexico City --Minggu lalu (17 September 2006) Andres Manuel Lopez Obrador dideklarasikan sebagai Presiden Mexico oleh konvensi demokratik sejuta massa. Sehari sebelumnya (16 September 2006) perlawanan gerakan rakyat di Mexico mengadakan konvensi nasional demokratik di ibukota negeri Mexico City.

Konvensi tersebut merupakan bagian dari kampanye untuk membantah keculasan yang menilai kandidat Andres Manuel Lopez Obrador (dikenal dengan Amlo) gagal menempati posisi kepresidenan setelah pemilu 2 Juli 2006.

Konvensi dihadiri oleh lebih dari satu juta delegasi yang menobatkan Amlo sebagai “presidente legitimo de Mexico” (Presiden sah Mexico). Ia menyatakan akan bertugas pada posisi terbut pada tanggal 20 November - ketika rakyat Mexico memperingati Revolusi 1910.

Penulis Elena Poniatowska membuka konvensi dengan menyitir konstitusi Mexico, yang memberikan rakyat hak untuk mengubah atau mengganti pemerintahannya jika mereka yakin pemerintah bertindak tidak demokratis.

Kampanye Busuk


Para delegasi mensahkan Amlo membentuk kabinet dan mendirikan sebuah pemerintahan pusat di Mexico City. Mereka juga memilih program-program kebijakan mendesak, termasuk memberantas kemiskinan, ketimpangan dan privatisasi.

Lebih banyak kerja-kerja yang sudah direncanakan oleh gerakan tersebut. Felipe Calderon, kandidat sayap kiri yang disebut sebagai pemenang dalam pemilu presidensial akan berhadapan dengan berbagai protes di setiap peristiwa yang akan ia hadiri.
Gerakan juga memutuskan untuk mendeklarasikan boikot terhadap perusahaan-perusahaan yang membiayai Calderon dan yang membantu pelaksanaan “kampanye busuk” melawan Amlo pada pelaksanaan pemilu lalu, termasuk perusahaan multinasional AS Wal-mart dan Coca Cola.

Konvensi tersebut adalah hasil dari kampanye berminggu-minggu oleh gerakan rakyat. Delegasi tiba dari berbagai negara bagian Mexico. Kaum buruh, mahasiswa dan pelajar serta masyarakat pribumi juga melibatkan diri.

Konvensi diselenggarakan di akhir minggu ketika kemerdekaan Mexico dari penjajahan Spanyol diperingati. Secara tradisional presiden memberikan “el grito”, jeritan kemerdekaan, dari istana kota di plaza utama Mexico City.

Namun tahun ini mantan Presiden Vicente Fox dipaksa untuk melakukan “el grito” di negera bagiannya di Guanajato-membuktikan kemenagan selanjutnya dari kampanye untuk membangun sebuah Mexico yang berbeda (zy). ***

Kaum Buruh Menerima Kesepakatan Dengan BHP

Selasa, 05 September 2006

Chile--Kaum buruh di perusahaan tambang Batubara BHP Escondida di sebelah selatan Chile memilih untuk menghentikan pemogokan dan menerima kesepakatan kenaikan upah sebesar 5% dan bonus sebesar $17.000 AS. Lebih dari 2000 pekerja melakukan pemogokan sejak 7 Agustus 2006.

Chili menghasilkan 36% dari produksi batubara dunia, termasuk 8,5% dari tambang Escondida. Tambang tersebut menyumbang 2,5% terhadap GDP Chili. Raksasa tambang Australia BHP memiliki 57,5% Escondida, sementara Rio Tinto sebesar 30%.

Pemogokan yang terjadi sebelumnya, yang mewakili 97% para pekerja tambang, merupakan respon terhadap melonjaknya laba Escondida terkait dengan tingginya harga batubara. Menurut Bloomberg, laba Escondida melonjak lebih dari tiga kali lipat di enam bulan pertama tahun ini yakni sebesar $2,92 milyar dari $936,9 juta di tahun lalu. Harga batubara melonjak empat kali lipat dalam tiga tahun sejak serikat buruh terakhir kali melakukan negosiasi upah.

Seperti pada tanggal 19 Agustus, para buruh menuntut kenaikan upah 10% dan sebuah bonus sebesar AS$30.000. Sebagai respon, Escondida menawarkan kenaikan upah 3% dan bonus AS$16.000. hasil dari tambang tersebut berkurang lebih dari setengah selama pemogokan berlangsung, dan tiga hari sebelumnya, manajemen BHP menyatakan bahwa pemogokan tersebut setara dengan laba rata-rata $16 juta perhari. Pada 19 Agustus, BHP mengumumkan bahwa mereka menutup operasinya tanpa batas waktu dan mengakhiri negosiasinya dengan para pekerja yang melakukan pemogokan. Dibawah tekanan ongkos pemogokan yang terus membesar, BHP dipaksa untuk menambah penawaran kenaikan upahnya menjadi 4% diluar inflasi dan bonus $17.000 kepada tiap buruh. Setelah tahun keempat, kaum buruh berhak akan 1,3% kenaikan dan bonus tambahan.

Selama pemogokan, BHP menyewa 50 tenaga bantuan untuk menjamin produksi di lokasi tambang, yang dilegalkan di Chili jika sebuah pemogokan lebih dari 15 hari. Serikat buruh di Escondida saat ini menuntut agar pemerintah membatalkan undang-undang ini.
Menurut ketua serikat buruh Escondida, Luis Troncoso, serikat juga mempertimbangkan membuat protes legal menuntut manajemen Escondida atas "praktek-praktek anti serikat buruh". Serikat menyatakan bahwa perusahaan terlah mengirimkan pemberitahuan terhadap para pekerja yang melakukan pemogokan secara individual menawarkan mereka sebuah kontrak sebagai upaya untuk menghentikan pemogokan.

Pada 31 Agustus pertemuan para buruh tambang diadakan di kompleks olah raga sebelah kantor pusat manejemen yang sudah diambil alih oleh para buruh selama pemogokan. Beberapa poster yang digantung oleh para buruh tambang yang menginap di dalam tenda-tenda di lapangan bola dekat jalan raya bertuliskan "penghisap darah, keluarkan dolar $ kalian", dan "uang yang dihasilkan Escondida terbang keluar negeri" (Zy)

Green Left Weekly, 6 September, 2006.