November 23, 2007, oleh Chris Carlson - Venezuelanalysis.com
http://www.venezuelanalysis.com/analysis/2890
Terdapat banyak kontroversi seputar proposal baru-baru ini untuk
mereformasi 69 pasal dalam konstitusi nasional Venezuela. Baik media
nasional maupun internasional memfokuskan perhatiannya pada usulan
reformasi dan aksi-aksi protes kaum oposisi terhadapnya. Namun,
seperti biasa, media mainstream gagal menjelaskan konteks dan analisa
yang dibutuhkan untuk memahami sungguh-sungguh makna dan tujuan
reformasi tersebut, dan justru lebih berfokus pada hal-hal yang lebih
kecil dan tidak signifikan seperti penghapusan batas masa jabatan
presiden.
Fokus utama reformasi konstitusional Venezuela dan bagaimana hal
tersebut masuk dalam gambar lebih luas berupa proses politik yang
sedang dijalankan di negeri tersebut telah seluruhnya absen dalam
pemberitaan mainstream. Dengan membuang konteks yang lebih luas ini
dan tak menyinggung tentang bagaimana proses ini memainkan peran
penting dalam program politik pemerintahan Chavez, media-media besar
telah menciptakan kesan bahwa tujuan utama reformasi adalah untuk
menkonsentrasikan kekuasaan di tangan kepresidenan. Lagi-lagi Hugo
Chavez dari Venezuela tampil sebagai otokrat yang haus kekuasaan,
diktator yang memahkotai diri sendiri dan duduk di atas kekayaan
minyak yang massif, yang kini mereformasi konstitusi sebagai jalan
untuk menjadikan dirinya presiden seumur hidup.
Namun apa sesungguhnya isi usulan reformasi konstitusional di
Venezuela? Apakah itu sekedar perebutan kekuasaan secara sembrono oleh
presiden Venezuela yang populer tersebut? Ataukah terdapat sesuatu
yang lebih dalam dan penting dalam perubahan konstitusional
besar-besaran ini? Hanya melalui pemahaman terhadap proyek politik
yang direncanakan Chavez dalam membangun negeri tersebut serta
kekhususan struktur politik, ekonomi, dan sosial yang menyertainya,
maka kita dapat memasukkan reformasi konstitusional ke dalam konteks
yang lebih besar dan memahami perannya yang sebenarnya, yakni
meletakkan fondasi dari rencana-rencana ke depan pemerintahan Chavez.
Membangun Panggung bagi Sosialisme Abad 21
Jauh sebelum dipilih kembali pada bulan Desember 2006, Presiden Chavez
telah mengumumkan niatnya untuk memimpin Venezuela menuju sosialisme.
Berkeyakinan bahwa permasalahan yang menjangkiti Venezuela dan
sebagian besar dunia tidak dapat diselesaikan dalam kapitalisme,
Chavez mengusulkan suatu jenis baru sosialisme: Sosialisme untuk Abad
21. Bentuk sosialisme baru ini, yang menekankan untuk tak mengulangi
kesalahan sama yang dialami negara-negara sosialis yang lalu, tidak
pernah dijelaskan secara detil dan masih merupakan proyek dalam
perancangan. Tapi Chavez menegaskan sebelum pemilu tahun lalu bahwa
mereka yang memilihnya memilih jalan sosialis dan Venezuela dengan
gegap gempita membuka jalan bagi Chavez dan proyek abad 21-nya.
Pada Januari 2007, saat pidato pengangkatannya di depan Majelis
Nasional dan seluruh negeri, Chavez menjelaskan perubahan-perubahan
mendatang yang perlu dilakukan untuk menerapkan sistem sosialis baru.
Perubahan-perubahan ini dipaparkan dalam lima langkah, lima `motor'
revolusi, sebagaimana Chavez mengistilahkannya. `Motor-motor' ini akan
menyiapkan kerangka kerja bagi pengorganisiran baru negeri tersebut
secara social, ekonomi, dan politik.
Dan meskipun pemerintahan Chavez telah mengedepankan berbagai rencana
pembangunan ekonomi, sebelum ini dapat diterapkan haruslah terlebih
dahulu ditegaskan bagaimana ekonomi akan diorganisir dan di bawah
bentuk kekuasaan seperti apa. Inilah jalan utama bagi lima motor
revolusi dalam membangun panggung di mana Sosialisme Abad 21 dapat
dibangun.
"Yang pertama dari lima motor yang saya maksudkan adalah ibu kandung
dari semua Undang-undang: Undang-undang Pemberian Wewenang (Enabling
Law; semacam dekrit presiden, pen.)," seru Chavez dalam pidato
pengangkatannya bulan Januari.
Undang-undang Pemberian Wewenang adalah motor pertama yang akan
diberlakukan, dan merupakan pemberian kekuasaan terhadap presiden
untuk menetapkan undang-undang di daerah tertentu selama periode 18
bulan. Undang-undang ini disahkan pada awal 2007, dan telah digunakan
untuk menasionalisasi beberapa sektor-sektor ekonomi yang strategis
seperti telekomunikasi, listrik, dan operasi perminyakan di Delta
Sungai Orinoco.
Chavez menjelaskan bahwa penyesuaian-penyesuaian tertentu terhadap
undang-undang negeri itu, maupun pasal-pasal konstitusi nasional,
bukan sekedar keharusan, tapi harus dilaksanakan bersama-sama secara
serentak. Berdasarkan alasan ini, motor pertama harus bekerja secara
simultan dengan motor kedua, Reformasi Konstitusional, agar semua
undang-undang dapat diberlakukan.
"Undang-undang Pemberian Wewenang dan Reformasi Konstitusional
bagaikan dua motor bersaudara, dua motor dalam satu mesin," papar
Chavez. "Merupakan suatu keharusan bagi kita untuk segera
mengkoordinasikan kedua-duanya karena ada beberapa undang-undang dalam
rencana kami yang hanya dimungkinkan bila reformasi telah dilakukan,
ketika sebagian konstitusi telah direformasi, karena [konstitusi
tersebut] adalah undang-undang dari segala undang-undang, kita tak
dapat melangkahinya, itu tak mungkin."
Motor-motor revolusi lainnya akan bergantung pada perubahan-perubahan
legal dalam Undang-undang Pemberian Wewenang dan Reformasi
Konstitusional. Motor nomor tiga adalah kampanye pendidikan yang
dikenal dengan "Cahaya dan Moral." Nomor empat adalah "Geometri
Kekuasaan Baru," dan merupakan suatu reorganisasi struktur politik
negeri itu. Dan yang terakhir dari lima motor tadi adalah "Peledakan
Kekuasaan Komunal."
Tiap motor-motor ini memainkan peran spesifik dalam meletakkan negeri
tersebut pada jalan menuju model baru pembangunan ekonomi di bawah
stuktur organisasi sosial dan politik yang baru. Tapi apa tepatnya
model baru ini, dan bagaimana perubahan-perubahan ini memainkan
perannya? Walaupun Sosialisme Abad 21 masih menjadi suatu proyek dalam
pengembangan dan belum secara jelas didefinisikan, untungnya terdapat
beberapa indikator yang dapat memberi kita gambaran tentang seperti
apa wujud-rupa model baru ini nantinya.
Sebuah Model Pembangunan yang Baru
Terdapat beberapa pilihan model pembangunan ekonomi yang memungkinkan
untuk dipilih dan diadopsi oleh suatu negeri dalam membangun kapasitas
produktifitas nasionalnya. Model yang paling umum tentunya adalah
pembangunan industri di bawah kepemilikan modal swasta, yang
menciptakan permasalahan pokok berupa konsentrasi kekayaan dan
kekuasaan yang pada akhirnya mengkompromikan demokrasi, sebagaimana
diketahui dengan baik dalam dunia kapitalis.
Termasuk dalam alternatif lain terhadap model ini adalah pembangunan
ekonomi nasional di bawah kepemilikan dan kekuasaan negara atau dewan
pekerja dan kooperasi, juga dengan permasalahannya tersendiri berupa
inefesiensi dan birokrasi.
Pada bulan Juni lalu Presiden Chavez mengumumkan bagian penting dari
proyek pembangunan nasional "Bolivarian" yang diprakarsainya. Untuk
membangun kapasitas produktif dan mengawali industri nasional, Chavez
mengumumkan pembuatan lebih dari 200 pabrik "sosialis" dalam dua tahun
ke depan. Baru-baru ini Chavez menyatakan bahwa 66 pabrik pertama akan
didirikan dan diresmikan di seluruh negeri pada pertengahan 2008.
Banyak dari pabrik-pabrik ini akan menjadi proyek patungan (joint
projects) dengan berbagai negeri lain untuk menghadirkan teknologi
asing dari negeri-negeri seperti Iran, Cina, Brasil, dan lainnya.
Namun sebelum pabrik-pabrik baru dapat didirikan di berbagai penjuru
negeri, organisasi dan penguasaannya harus ditegaskan menurut definisi
baru kepemilikan (property) dan pengelolaan (management). Di bawah
model Bolivarian, alat-alat produksi tampaknya tidak semata-mata akan
dikuasai oleh negara, sektor swasta, atau pekerja, namun suatu
percampuran dari berbagai jenis kepemilikan dan penguasaan. Teks
usulan reformasi konstitusional menggambarkannya sebagai berikut:
"Negara akan mengambil inisiatif dan mengembangkan berbagai bentuk
unit-unit produksi dan ekonomi dari kepemilikan sosial, dari yang
dikuasai secara langsung atau komunal, hingga yang dikuasai secara
tidak langsung atau dikuasai negara, dan juga unit-unit ekonomi
produktif untuk produksi sosial dan/atau distribusi."
Presiden Chavez menjelaskan ini dalam presentasi proposal reformasinya
di hadapan Majelis Nasional pada Agustus tahun lalu:
"Anda lihat ini adalah segitiga ekonomi dasar: kepemilikan, produksi
dan distribusi. Kita sedang memasuki seluruh tiga element tersebut dan
pentinglah bagi kita untuk melaksanakan dengan sukses gerakan menuju
model sosialis dan pembangunannya... Unit-unit ekonominya dapat berupa
susunan percampuran antara kekuasaan negara, sektor swasta dan
kekuasaan komunal. Anda lihat, para pebinis di sektor swasta, produsen
sektor swasta, Anda tidak disingkirkan. Kami membutuhkan Anda untuk
bekerjasama dengan kami. Bersama-sama kita akan membuat bangsa besar
sebagaimana kini Venezuela mulai menjadi bangsa besar, dalam bangsa
besar Amerika Selatan.
Dengan demikian, di bawah jenis hubungan kepemilikan inilah reformasi
konstitusional mengusulkan alat-alat produksi dalam model Bolivarian.
Reformasi itu mengatur kerangka kerja bagi suatu ekonomi di bawah
kekuasaan komunitas-komunitas yang terorganisir, negara,
kelompok-kelompok swasta, serta berbagai percampuran antara
bentuk-bentuk ini. Dan pada tahun 2008, ketika pemerintah mulai
mendirikan pabrik-pabrik "sosialis" di negeri itu, pabrik-pabrik
tersebut dapat didirikan di bawah kerangka kerja ini.
September lalu, pemerintah memberikan indikasi tentang bagaimana
pabrik-pabrik ini akan diorganisir dengan diresmikannya pabrik baru
untuk pengolahan jagung di negara bagian di Barat negeri tersebut,
Yaracuy, dan melalui pengumuman tentang unit-unit ekonomi ini secara umum.
Komite Perencanaan Sentral mendiskusikan pembentukan struktur ekonomi
jenis baru ini, dimulai dengan peresmian pabrik pertama dari sepuluh
pabrik pengolahan jagung di penjuru negeri. Pabrik pengolahan jagung
ini, sebagaimana direncanakan terhadap jenis-jenis pabrik lainnya,
dioperasikan oleh komunitas local yang terorganisir ke dalam Dewan
Komunal. Chavez baru-baru ini juga telah menyinggung tentang
kemungkinan menyerahkan ribuan stasiun pemompaan bahan bakar (SPBU)
PDVSA di penjuru negeri untuk dikuasai oleh komunitas-komunitas
terorganisir di wilayahnya masing-masing.
Komite Perencanaan Sentral mendiskusikan pembuatan pabrik-pabrik
"sosialis" di bawah penguasaan "komune-komune" sebagai jalan untuk
mengembangkan suatu bentuk baru ekonomi sosialis. Presiden Chavez
menyatakan bahwa pabrik-pabrik baru ini pada akhirnya dapat diletakkan
di bawah kekuasaan komune sebagai suatu bentuk kepemilikan "komunal"
atau kepemilikan "sosial", sebagaimana juga dipaparkan dalam reformasi
konstitusional.
"Inilah alat-alat partisipasi dan peran sentral rakyat dalam
mempraktekkan langsung kedaulatannya dan bagi pembangunan sosialisme,"
kata Chavez ketika mempresentasikan proposal reformasinya. "Dan bagi
pengelolaan demokratik oleh para pekerja di perusahaan manapun yang
berkepemilikan "sosial". Inilah istilah yang dimulai di sini,
kepemilikan sosial. Ini hal yang baru, benar-benar baru dalam
konstitusi kita."
Maka, reformasi konstitusional juga merupakan suatu upaya untuk
mendirikan organisasi sosial dan politik yang baru di negeri itu ke
dalam "komune-komune" sebagai struktur kekuasaan baru.
Komunitas-komunitas yang terorganisir, yang kini dalam proses
pembentukan dan mengoperasikan Dewan Komunal di seluruh negeri, akan
bersatu dengan komunitas di sekelilingnya untuk membentuk
komune-komune, dan kelompok-kelompok komune akan bersatu membentuk
kota-kota. Teks reformasi tersebut mengatakan sebagai berikut:
"Unit politik utama dari organisasi territorial nasional adalah Kota,
dimengerti sebagai populasi yang berbasis dalam suatu kotapraja
(municipality) dan terdiri dari wilayah-wilayah atau
jangkauan-jangkauan geografis yang denominasikan sebagai
Komune-komune. Komune akan menjadi sel-sel geo-manusia dari wilayah
tersebut dan akan terdiri dari komunitas-komunitas, yang mana
masing-masing merupakan inti-inti (nuclei) dasar yang tak terbagi-bagi
dalam Negara Sosialis Venezuela, di mana warganya akan memiliki
kekuasaan untuk membentuk geografi dan sejarahnya sendiri.
Chavez mengatakan bahwa di seluruh negeri terdapat sekitar 60.000
dewan komunal yang terorganisir menjadi 10.000 komune, 3.000 kota, dan
200 distrik federal.
Dengan demikian, sebagaimana dapat terlihat, desakan utama usulan
reformasi konstitusional Venezuela adalah untuk menciptakan kerangka
kerja bagi reorganisasi politik dan sosial negeri tersebut, memberikan
kekuasaan secara langsung kepada komunitas-komunitas yang terorganisir
sebagai prasyarat pembangunan sistem ekonomi baru: sistem sosialis
dengan alat-alat produksi di bawah penguasaan komunal.
Teks reformasi menyatakan bahwa undang-undang nasional akan disahkan
untuk mentransfer penguasaan terhadap pelayanan masyarakat, perusahaan
negara, dan unit-unit produktif ke tangan komune-komune, dengan tujuan
pembangunan suatu ekonomi sosialis.
Perubahan-perubahan dalam konstitusi dan undang-undang di negeri itu,
sangatlah penting bagi motor-motor revolusi lainnya, seperti
reorganisasi geografi politik negeri tersebut (motor 4) dan peran
lebih besar bagi kekuasaan komunal (motor 5). Perubahan-perubahan
dalam konstitusi akan memungkinkan pemerintahan Venezuela untuk
melangkah maju dalam me-reorganisasi negeri ke dalam unit-unit dasar
komune, dan kemudian meningkatkan kekuasaan dan pengaruh
struktur-struktur tersebut.
Reformasi penting lainnya dalam proposal tersebut akan memungkinkan
pemerintahan federal untuk menentukan berbagai wilayah negeri itu
sebagai distrik-distrik federal dan mempercepat perkembangan
socio–ekonomik mereka. Dalam suatu negeri pasca-kolonial yang
perkembangan antar wilayah-wilayah dalam negerinya berlangsung sangat
timpang, alasan bagi penambahan ini sangatlah masuk akal karena
pemerintah hendak mengintensifkan fokusnya ke wilayah-wilayah tertentu
di dalam negeri untuk menjamin perkembangan sosial dan ekonomi mereka
yang cepat dan seimbang.
"Perubahan-perubahan ini akan memungkinkan kita membebaskan diri dari
suatu wilayah yang dirantai oleh struktur politik dan pembagian
wilayah yang telah berlangsung berabad-abad lamanya," kata Chavez.
"Kita akan memutuskan rantai geografi konservatif, imperial, dan
kolonial yang sudah tua."
Walau reformasi ini menyertakan juga beberapa perubahan-perubahan
sekunder, beberapa di antaranya sangat progresif namun juga ada yang
regresif, fokus yang jelas terlihat dari reformasi tersebut adalah
reorganisasi ekonomi dan politik terhadap negeri itu menurut
garis-garis yang dijelaskan di atas.
Mayoritas jelas rakyat Venezuela memahami bahwa isi hati reformasi ini
tak lain adalah kelanjutan proyek Chavez; proses redistribusi
kekayaan, pembangunan nasional, dan perluasan kekuasaan rakyat yang
telah menghasilkan kemenangan-kemenangan penting beberapa tahun
belakangan ini. Proposal Chavez berencana untuk mengambil langkah maju
dalam bidang-bidang tersebut, memperluas inisiatif saat ini untuk
mengembangkan kapasitas produktif nasional dan memperbesar kekuasaan
komunal; ini dilihat oleh mata kepala rakyat Venezuela sendiri dalam
komunitas-komunitas mereka. Berdasarkan alasan-alasan inilah, dan juga
tingginya kepercayaan yang mereka berikan kepada Presiden Hugo Chavez,
mayoritas rakyat Venezuela akan menuju referendum nasional Desember
ini untuk memilih "Si."
(Diterjemahkan oleh Data Brainanta)
Untuk memberantas kemiskinan berikanlah kekuasaan kepada orang miskin: pengetahuan, tanah, kredit, teknologi, dan organisasi. Itulah satu-satunya cara mengakhiri kemiskinan [Hugo Chavez, 2005]
04/12/2007
08/07/2007
The Revolution Will Not [Only] Be Televised
Roysepta Abimanyu (dari www.indoprogress.blogspot.com)
The revolution will not be right back after a message
about a white tornado, white lightning, or white people.
You will not have to worry about a dove in your
bedroom, a tiger in your tank, or the giant in your toilet bowl.
The revolution will not go better with Coke.
The revolution will not fight the germs that may cause bad breath.
The revolution will put you in the driver's seat.
The revolution will not be televised, will not be televised,
will not be televised, will not be televised.
The revolution will be no re-run brothers;
The revolution will be live.
(The Revolution Will Not Be Televised, Gil Scott-Heron)
Penyair, musisi, dan rapper Gil Scott-Heron berada dalam gelombang gerakan Black Power ketika menulis lirik lagu di atas. Saat itu, akses informasi melalui televisi begitu terbatas untuk kelompok-kelompok perlawanan terhadap Pemerintah AS. Scott-Heron seperti menyerukan, "Persetan dengan televisi, Buat Revolusi Jalanan."
Puluhan tahun setelah lagu tersebut pertama kali dinyanyikan, muncul film yang berjudul sama. Ceritanya mengenai bagaimana stasiun-stasiun televisi memanipulasi berita demi mendukung kelompok-kelompok yang sempat menggulingkan pemerintahan Hugo Chavez Frias. Judul tersebut memang terasa pas, apalagi ketika peristiwa aksi massa yang menuntut Chavez dikembalikan ke Istana Presiden Miraflores dan kehadiran kembali Chavez tersebut tidak diberitakan oleh stasiun-stasiun televisi yang mendukung kudeta. Malahan, RCTV (Radio Caracas Television), stasiun televisi swasta terbesar dan tertua di sana, memilih menayangkan film animasi, telenovela dan film-film lama seperti "Pretty Woman". (1)
Scott-Heron mungkin saat itu tidak menduga bahwa Televisi kemudian menjadi sebuah wilayah perebutan politik yang penting. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, jumlah pemirsa televisi melampaui ratusan kali jumlah pembaca berita tercetak (koran, majalah, internet, dan seterusnya). Televisi bahkan jauh lebih terintegrasi dalam kegiatan sehari-hari masyarakat. Di Venezuela, protes para pendukung RCTV yang cukup besar melalui demonstrasi-demonstrasi kelas menengah (diwarnai oleh mahasiswa) menunjukkan, kesulitan mereka melepaskan diri dari siaran-siaran RCTV dibandingkan pertautan ideologis mereka terhadap kebebasan pers. Di titik inilah, nampaknya tepat slogan yang disampaikan oleh Blanca Eekhout, "Don't watch television, make it!". Eekhout adalah direktur stasiun Vive TV milik pemerintah yang berdiri tahun 2004 dan isi siarannya seputar tema-tema kebudayaan.
Berebut Televisi, Pertarungan Kekuasaan
Tak seperti media cetak dan internet, media televisi dan radio memiliki sebuah perbedaan khusus. Keduanya dibatasi oleh pembagian (alokasi) frekuensi. Kemenangan dalam pertarungan memperebutkan kendali media televisi dan radio menjadi mirip dengan perebutan wilayah, dengan pihak yang kalah kehilangan atau berkurang ruang kekuasaannya. Dan hal ini sudah berlangsung cukup lama untuk kelompok-kelompok yang termarjinalkan. Di media cetak dan internet, mereka lebih mudah membangun corong baru. Koran dibredel, bisa dibangun koran bawah tanah atau berpropaganda di internet.
Namun, pada pertarungan memperebutkan frekuensi penayangan televisi dan radio, kelompok-kelompok dari kelas-kelas tertindas harus menggunakan kekuatan fisik mereka, bahkan kadang dengan ekstrem mengandalkan pertunjukkan kekerasan fisik untuk mendapatkan porsi yang cukup agar suara mereka terdengar. Kita tentunya masih ingat, peristiwa demi peristiwa penggunaan kekerasan oleh aksi massa dalam melawan blokade aparatus rejim Soeharto, yang membuat pimpinan-pimpinan media massa tak mampu lagi melakukan self-censorship. Akibatnya, imaji kedigdayaan militer dan Soeharto runtuh dalam efek domino yang berakhir dengan Soeharto dipaksa mundur oleh orang-orang yang dua bulan sebelumnya mengelu-elukannya dan memilihnya kembali pada Sidang Umum MPR Maret 1998. Ada pula aksi-aksi massa yang berujung kepada pemaksaan penyiaran di stasiun-stasiun RRI di berbagai ibukota provinsi.
Semenjak alokasi frekuensi ditentukan oleh sebuah badan negara, tak dapat dilupakan bahwa pertarungan tersebut berada dalam kerangka struktur legal kenegaraan. Dalam sebuah negeri yang orientasi kekuasaannya membela kepemilikkan pribadi atas aset-aset terbatas yang menguasai hajat hidup orang banyak, dapat dipastikan bahwa suara kelas-kelas tertindas tidak akan memiliki kesempatan untuk didengar bahkan oleh kelas-kelas itu sendiri.
Tetapi Venezuela adalah negeri yang berbeda. Meskipun dibatasi oleh penentangan-penentangan kelas-kelas penguasa modal, negara Venezuela memiliki komitmen untuk memperjuangkan kepentingan kelas-kelas yang ditindas oleh rejim sebelum Chavez: kaum tani, kaum buruh dan miskin kota yang sebagian besar adalah berasal dari ras non kulit putih. "Merelakan" satu stasiun televisi swasta yang dikenal dengan sensasionalisme, gaya hidup telenovela, dan menyuarakan rasisme tersembunyi tampaknya lebih cocok dipandang sebagai langkah menyeimbangkan pertarungan politik (antar kelas) on air dibandingkan sebagai upaya membungkam kelompok-kelompok oposisi. Lagipula, RCTV masih bebas bersiaran di jaringan TV kabel, yang juga merupakan media pilihan keluarga-keluarga kelas menengah di berbagai negeri dunia ketiga.
Kebebasan (Meng-)Informasi
Mereka yang memprotes "pembredelan" RCTV, seperti Dr Rainer Adam dan blog www.kedai-kebebasan.org, menutupi sebuah fakta bahwa kebebasan informasi juga berarti kebebasan berekspresi. Artinya setiap orang, selain bebas memperoleh informasi, juga berhak memberikan informasi. Jika semua kanal siaran televisi dikuasai oleh korporasi-korporasi besar dan stasiun-stasiun televisi negara hanya menyuarakan kepentingan rejim yang berkuasa, di manakah kesempatan untuk rakyat biasa, yang kini mulai menyerap sedikit demi sedikit teknologi penyiaran karena produksi massal? Harga sebuah kamera video digital tidaklah semahal sebuah kamera televisi pada dua puluh tahun yang lalu (tentunya dihitung dengan paritas daya beli, PPP).
Dalam konteks negara maju, mungkin persoalan ini tidak terlalu masalah dengan adanya konsep Web 2.0 di mana setiap orang bisa mengekspresikan dirinya di dalam website, blog, youtube, dan seterusnya. Namun dalam konteks negara berkembang, yang sebagian besar rakyatnya belum memiliki jalur internet untuk berekspresi, kanal-kanal publik televisi dan radio adalah jawabannya. Dan kehendak ini begitu besar, dengan derasnya alienasi dalam lingkungan kerja oleh kapitalisme, sehingga menjadi satu pasar tersendiri: menjamurnya reality show, acara yang sangat memanipulasi keinginan orang atas popularitas. Apakah para "pembela kebebasan informasi" tersebut lebih memilih acara-acara reality show tersebut daripada beberapa kanal publik yang membuka kesempatan untuk produser-produser acara independen dan merakyat? Kebebasan meng-informasi untuk pengusaha rasis-seksis yes!, untuk film-film buatan rakyat jelata no!, itukah slogan sesungguhnya para pembela kebebasan informasi?
Merebut Televisi
Pertarungan kelas dalam memperebutkan kanal siaran publik di Venezuela membawa kita ke sebuah pelajaran yang lain. Gerakan Kiri Indonesia seperti selalu bergerak di pinggiran pertarungan. Slogan-slogan revolusioner dicoretkan di tembok-tembok di pinggir-pinggir jalan protokol yang setiap saat bisa ditutupi cat oleh rejim ataupun pemilik rumah yang sebal. Selebaran-selebaran yang berfungsi hanya sehari, dan koran-koran organisasi yang menjangkau hanya 5000 orang saja. Ketika ingin berbicara dengan massa rakyat yang jumlahnya ratusan juta, perlu bersusah payah mengumpulkan puluhan ribu orang untuk mendapatkan liputan sekian menit di televisi nasional, syukur-syukur bisa diundang dalam talkshow televisi atau radio. Efek komunikasinya, raib dalam satu dua hari - kecuali memang suasana politiknya sudah benar-benar matang.
Sebelum 1998, pemutar DVD dan VCD belum menjamur seperti sekarang, kamera handycam masih begitu merepotkan dan mahal untuk menggandakan hasilnya, dan pertukaran informasi tertulis baik elektronik maupun tercetak masih dibatasi oleh sensor rejim. Namun sekarang? Sembilan tahun yang penuh percepatan di media.
"Don't watch television, make it!"
Kalimat ini betul-betul luar biasa. Anda bisa bayangkan kalau kelompok-kelompok tani bercerita mengenai kemauan mereka di televisi menurut versi mereka sendiri? Atau daripada menonton sinetron yang gambarnya cuma mimpi-mimpi menjadi orang kaya, orang menonton cerita-cerita rakyat dan revolusi di belahan dunia lain? Atau film dokumenter tentang sejarah perlawanan rakyat? Atau juga parodi para politisi dari berbagai wilayah Indonesia?2
Namun langkah menuju membuat televisi mungkin masih agak jauh. Gerakan kiri harus mempersiapkan pengambilalihan televisi dengan memikirkan dan membangun media alternatif seperti podcast, film komunitas yang disebarkan dalam bentuk VCD atau DVD, siaran-siaran radio melalui internet, dan seterusnya.
The Revolution, brother Gil, will not only be televised.
Catatan kaki:
1 Bart JONES, "Hugo Chavez versus RCTV", website Los Angeles Times
2 Pemerintah di Eropa pada abad 19 sangat takut dengan pertunjukkan boneka semacam guignol perancis, karena membuat orang mentertawakan kerajaan dan menggulingkannya.
The revolution will not be right back after a message
about a white tornado, white lightning, or white people.
You will not have to worry about a dove in your
bedroom, a tiger in your tank, or the giant in your toilet bowl.
The revolution will not go better with Coke.
The revolution will not fight the germs that may cause bad breath.
The revolution will put you in the driver's seat.
The revolution will not be televised, will not be televised,
will not be televised, will not be televised.
The revolution will be no re-run brothers;
The revolution will be live.
(The Revolution Will Not Be Televised, Gil Scott-Heron)
Penyair, musisi, dan rapper Gil Scott-Heron
Puluhan tahun setelah lagu tersebut pertama kali dinyanyikan, muncul film yang berjudul sama
Scott-Heron mungkin saat itu tidak menduga bahwa Televisi kemudian menjadi sebuah wilayah perebutan politik yang penting. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, jumlah pemirsa televisi melampaui ratusan kali jumlah pembaca berita tercetak (koran, majalah, internet, dan seterusnya). Televisi bahkan jauh lebih terintegrasi dalam kegiatan sehari-hari masyarakat. Di Venezuela, protes para pendukung RCTV yang cukup besar melalui demonstrasi-demonstrasi kelas menengah (diwarnai oleh mahasiswa) menunjukkan, kesulitan mereka melepaskan diri dari siaran-siaran RCTV dibandingkan pertautan ideologis mereka terhadap kebebasan pers. Di titik inilah, nampaknya tepat slogan yang disampaikan oleh Blanca Eekhout, "Don't watch television, make it!". Eekhout adalah direktur stasiun Vive TV milik pemerintah yang berdiri tahun 2004 dan isi siarannya seputar tema-tema kebudayaan.
Berebut Televisi, Pertarungan Kekuasaan
Tak seperti media cetak dan internet, media televisi dan radio memiliki sebuah perbedaan khusus. Keduanya dibatasi oleh pembagian (alokasi) frekuensi. Kemenangan dalam pertarungan memperebutkan kendali media televisi dan radio menjadi mirip dengan perebutan wilayah, dengan pihak yang kalah kehilangan atau berkurang ruang kekuasaannya. Dan hal ini sudah berlangsung cukup lama untuk kelompok-kelompok yang termarjinalkan. Di media cetak dan internet, mereka lebih mudah membangun corong baru. Koran dibredel, bisa dibangun koran bawah tanah atau berpropaganda di internet.
Namun, pada pertarungan memperebutkan frekuensi penayangan televisi dan radio, kelompok-kelompok dari kelas-kelas tertindas harus menggunakan kekuatan fisik mereka, bahkan kadang dengan ekstrem mengandalkan pertunjukkan kekerasan fisik untuk mendapatkan porsi yang cukup agar suara mereka terdengar. Kita tentunya masih ingat, peristiwa demi peristiwa penggunaan kekerasan oleh aksi massa dalam melawan blokade aparatus rejim Soeharto, yang membuat pimpinan-pimpinan media massa tak mampu lagi melakukan self-censorship. Akibatnya, imaji kedigdayaan militer dan Soeharto runtuh dalam efek domino yang berakhir dengan Soeharto dipaksa mundur oleh orang-orang yang dua bulan sebelumnya mengelu-elukannya dan memilihnya kembali pada Sidang Umum MPR Maret 1998. Ada pula aksi-aksi massa yang berujung kepada pemaksaan penyiaran di stasiun-stasiun RRI di berbagai ibukota provinsi.
Semenjak alokasi frekuensi ditentukan oleh sebuah badan negara, tak dapat dilupakan bahwa pertarungan tersebut berada dalam kerangka struktur legal kenegaraan. Dalam sebuah negeri yang orientasi kekuasaannya membela kepemilikkan pribadi atas aset-aset terbatas yang menguasai hajat hidup orang banyak, dapat dipastikan bahwa suara kelas-kelas tertindas tidak akan memiliki kesempatan untuk didengar bahkan oleh kelas-kelas itu sendiri.
Tetapi Venezuela adalah negeri yang berbeda. Meskipun dibatasi oleh penentangan-penentangan kelas-kelas penguasa modal, negara Venezuela memiliki komitmen untuk memperjuangkan kepentingan kelas-kelas yang ditindas oleh rejim sebelum Chavez: kaum tani, kaum buruh dan miskin kota yang sebagian besar adalah berasal dari ras non kulit putih. "Merelakan" satu stasiun televisi swasta yang dikenal dengan sensasionalisme, gaya hidup telenovela, dan menyuarakan rasisme tersembunyi tampaknya lebih cocok dipandang sebagai langkah menyeimbangkan pertarungan politik (antar kelas) on air dibandingkan sebagai upaya membungkam kelompok-kelompok oposisi. Lagipula, RCTV masih bebas bersiaran di jaringan TV kabel, yang juga merupakan media pilihan keluarga-keluarga kelas menengah di berbagai negeri dunia ketiga.
Kebebasan (Meng-)Informasi
Mereka yang memprotes "pembredelan" RCTV, seperti Dr Rainer Adam
Dalam konteks negara maju, mungkin persoalan ini tidak terlalu masalah dengan adanya konsep Web 2.0 di mana setiap orang bisa mengekspresikan dirinya di dalam website, blog, youtube, dan seterusnya. Namun dalam konteks negara berkembang, yang sebagian besar rakyatnya belum memiliki jalur internet untuk berekspresi, kanal-kanal publik televisi dan radio adalah jawabannya. Dan kehendak ini begitu besar, dengan derasnya alienasi dalam lingkungan kerja oleh kapitalisme, sehingga menjadi satu pasar tersendiri: menjamurnya reality show, acara yang sangat memanipulasi keinginan orang atas popularitas. Apakah para "pembela kebebasan informasi" tersebut lebih memilih acara-acara reality show tersebut daripada beberapa kanal publik yang membuka kesempatan untuk produser-produser acara independen dan merakyat? Kebebasan meng-informasi untuk pengusaha rasis-seksis yes!, untuk film-film buatan rakyat jelata no!, itukah slogan sesungguhnya para pembela kebebasan informasi?
Merebut Televisi
Pertarungan kelas dalam memperebutkan kanal siaran publik di Venezuela membawa kita ke sebuah pelajaran yang lain. Gerakan Kiri Indonesia seperti selalu bergerak di pinggiran pertarungan. Slogan-slogan revolusioner dicoretkan di tembok-tembok di pinggir-pinggir jalan protokol yang setiap saat bisa ditutupi cat oleh rejim ataupun pemilik rumah yang sebal. Selebaran-selebaran yang berfungsi hanya sehari, dan koran-koran organisasi yang menjangkau hanya 5000 orang saja. Ketika ingin berbicara dengan massa rakyat yang jumlahnya ratusan juta, perlu bersusah payah mengumpulkan puluhan ribu orang untuk mendapatkan liputan sekian menit di televisi nasional, syukur-syukur bisa diundang dalam talkshow televisi atau radio. Efek komunikasinya, raib dalam satu dua hari - kecuali memang suasana politiknya sudah benar-benar matang.
Sebelum 1998, pemutar DVD dan VCD belum menjamur seperti sekarang, kamera handycam masih begitu merepotkan dan mahal untuk menggandakan hasilnya, dan pertukaran informasi tertulis baik elektronik maupun tercetak masih dibatasi oleh sensor rejim. Namun sekarang? Sembilan tahun yang penuh percepatan di media.
"Don't watch television, make it!"
Kalimat ini betul-betul luar biasa. Anda bisa bayangkan kalau kelompok-kelompok tani bercerita mengenai kemauan mereka di televisi menurut versi mereka sendiri? Atau daripada menonton sinetron yang gambarnya cuma mimpi-mimpi menjadi orang kaya, orang menonton cerita-cerita rakyat dan revolusi di belahan dunia lain? Atau film dokumenter tentang sejarah perlawanan rakyat? Atau juga parodi para politisi dari berbagai wilayah Indonesia?2
Namun langkah menuju membuat televisi mungkin masih agak jauh. Gerakan kiri harus mempersiapkan pengambilalihan televisi dengan memikirkan dan membangun media alternatif seperti podcast, film komunitas yang disebarkan dalam bentuk VCD atau DVD, siaran-siaran radio melalui internet, dan seterusnya.
The Revolution, brother Gil, will not only be televised.
Catatan kaki:
1 Bart JONES, "Hugo Chavez versus RCTV", website Los Angeles Times
2 Pemerintah di Eropa pada abad 19 sangat takut dengan pertunjukkan boneka semacam guignol perancis, karena membuat orang mentertawakan kerajaan dan menggulingkannya.
03/07/2007
Merubah Konstitusi, Belajarlah dari Venezuela!
Oleh:
Nurani Soyomukti,
Penulis buku “Revolusi Bolivarian: Hugo Chavez dan Politik
Radikal”; aktif di IRED (Institute of Research anad
Education for Democracy) Jakarta; Sarjana Ilmu Hubungan
Internasional
Isu amandemen terhadap UUD 1945 di negeri ini nampaknya
akan terus berlanjut. Tetapi sayangnya, belum ada jawaban
pasti apakah amandemen terhadap dasar negara kita akan
membawa pada perubahan yang lebih substansial bagi nasib
rakyat, terutama kesejahteraan dan demokrasi politiknya.
Konstitusi merupakan landasan yang paling penting. Tetapi
yang lebih penting juga adalah tindakan yang berani untuk
melaksanakan konstitusi itu. Istilah konstitusi berasal
dari bahasa Perancis (constituer) yang berarti membentuk.
Pemakaian istilah konstitusi yang dimaksudkan ialah
pembentukan suatu negara atau menyusun dan menyatakan
suatu negara. Sedangkan istilah Undang-Undang Dasar
merupakan terjemahan istilah yang dalam bahasa Belandanya
Gronwet. Perkataan wet diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia undang-undang, dan grond berarti tanah atau
dasar.
Hingga detik ini, konstitusi kita tidak pernah dijalankan
secara murni dan konsekuen oleh elit-elit yang wataknya
oportunis dan pragmatis. Masalahnya, keberadaan konstitusi
tidak dibarengi dengan munculnya kesadaran politik yang
berpilar pada gerakan untuk melaksanakan apa yang
diamanatkan konstitusi. Tak heran jika, karena elit
politik tidak terkontrol oleh kesadaran rakyat dan
keterlibatan aktif mereka dalam politik secara massif,
maka mereka menjadi pengkhianat konstitusi. Kita bisa
menilai dari sebuah contoh khasus pengkhianatan terhadap
amanat pasal 33 konstitusi kita yang mengharuskan segala
kekayaan alam yang ada digunakan untuk kemakmuran ran
kesejahteraan rakyat dengan jalan dikuasai oleh negara,
tentunya negara yang dikontrol secara demokratis. Yang
terjadi, kekayaan alam dan tenaga produktif bangsa yang
menguasai hidup orang banyak justru diserahkan pada
mekanisme pasar. Peran negara terhadap perekonomian
dipreteli.
Artinya, sejarah munculnya konstitusi yang melekat pada
perjuangan melawan penjajahan dan menata sebuah masyarakat
yang adil dan makmurpun juga dikhianati. Kelahiran sebuah
revolusi memang menghasilkan suatu konstitusi sebagai
upaya untuk mengatur bagaimana negara akan dibawa.
Konstitusi Venezuela
Apa yang terjadi di negeri ini bertolak belakang dengan
apa yang terjadi di Venezuela di bawah kepemimpinan Hugo
Chavez. Chavez dan para pendukungnya paham betapa
pentingnya undang-undang (konstitusi) dan bagaimana ia
harus dijaga oleh kekuatan aktif dari bawah. Revolusi di
bawah pimpinan Hugo Chavez telah melahirkan konstitusi
baru yang sebenarnya capaian ini adalah landasan
konstitusional bagi kebijakan-kebijakan yang ditempuhnya
dalam upaya membawa perubahan struktural Venezuela. Pada
awal naiknya Hugo Chaves dan pembentukan konstitusi baru
tersebut, kesadaran rakyat akan perlunya landasan negara
baru memang cukup tinggi.
Waktu itu, tahun 1998-1999, di mana-mana perdebatan
tentang konstitusi selalu berlangsung. Jika orang luar
negeri melancong ke stasiun kereta bawah tanah di Caracas
(ibukota Venezuela) dan menanyakan pada orang yang
berdiri menunggu kereta di sana, apakah ia membawa buku
saku UUD, ia hampir pasti akan menjawab "Ya." Jurnalis
Barry Lynn dari majalah MotherJones melaporkan bahwa di
hampir tiap sudut Venezuela perdebatan tentang konstitusi
mudah sekali dipicu jika ada seorang saja memberi komentar
tentang interpretasi atas ayat-ayat konstitusi itu. Hampir
tiap orang membawa salinan UUD itu di saku mereka, siap
untuk melayani siapa saja dalam perdebatan.
Rakyat Venezuela, terutama rakyat pekerja dan kaum
miskinnya, sangat mencintai UUD mereka yang baru karena
praktis merekalah yang membuat UUD ini. UUD ini dibuat di
bawah pemerintahan Hugo Chavez, bukan di dalam
gedung-gedung parlemen yang ber-AC, tapi melalui
referendum, pemungutan pendapat rakyat secara nasional.
Dengan demikian, konstitusi ini sangatlah berpihak pada
orang miskin dan rakyat pekerja pada umumnya. 50% isi dari
konstitusi ditulis sendiri oleh rakyat-lewat surat-surat
dan jajak pendapat mengenai apa yang dibutuhkan rakyat.
Konstitusi ini memenangkan 70% suara dalam referendum,
mencakup hak-hak dasar demokratik, sosial dan hak-hak
azasi manusia lainnya yang sangat luas diatas batas-batas
demokrasi parlementer yang dangkal.
Konstitusi Republik Bolivarian Venezuela adalah konstitusi
hasil perubahan Venezuela hingga sekarang. Konstitusi ini
disusun pada tahun 1999 oleh majelis konstitusional yang
dipilih melalui referendum rakyat. Konstitusi 1999 ini
diadopsi pada bulan Desember 1999, menggantikan Konstitusi
tahun 1961-yang telah menjadi, dari 26 konstitusi yang
digunakan Venezuela sejak merdeka pada tahun 1811, dokumen
yang dipaksakan dalam waktu yang paling lama.
Konstitusi tersebut lahiar dari demokrasi rakyat, dan
bukan dari diskusi elit atau tokoh. Konstitusi 1999 ini
merupakan konstitusi pertama yang dibuat dan disetujui
melalui referendum rakyat (popular referendum) dalam
sejarah Venezuela, dan secara ringkas menandai apa yang
dinamakan sebagai “Republik Kelima” Venezuela agar
perubahan sosial ekonomi digariskan dan ditekankan dalam
tiap-tiap halamannya, sebagaimana perubahan resmi terjadi
di Venezuela dari Republik Venezuela (Republica de
Venezuela) menjadi Republik Bolivarian Venezuela
(Republica Bolivariana de Venezuela). Perubahan utama
dibuat dalam struktur pemerintahan dan pertanggungjawaban
Venezuela, sedangkan banyak hak-hak asasi manusia
diabadikan dalam dokumen yang dimaksudkan sebagai jaminan
bagi rakyat Venezuela-yang mencakup pendidikan bebas
hingga tingkat ketiga (tertiary level), pelayanan
kesehatan gratis, akses terhadap lingkungan bersih,
hak-hak minoritas (terutama masyarakat pribumi,
indiginous people) untuk menegakkan budaya, agama, dan
bahasa serta tradisi mereka sendiri di antara kebudayaan
lainnya. Konstitusi 1999 yang berjumlah 350 ayat adalah
yang paling panjang, lengkap, dan komprehensif.
Kebijakan yang berawal dari penentangan terhadap
penindasan neoliberalisme tentu saja merupakan anti-tesis
yang tepat darinya. Neoliberalisme bertahan dengan
segelintir elit yang berusaha mengeruk kepentingan pribadi
dengan menjalankan ekonomi yang dikendalikan oleh
keputusan sedikit orang (oligarki) dan mengorbankan rakyat
mayoritas. Sumber-sumber ekonomi dikuasai oleh kaum modal,
rakyat dianggap tidak memiliki dan hanya bekerja untuk
kepentingan pemilik modal yang menjalankan kegiatan
produksinya. Maka, upaya untuk merebut hak-hak segelintir
elit dan mengembalikannya pada mayoritas rakyat membawa
dampak yang luas dalam hal perasaan solidaritas untuk
berproduksi secara bersama dan hasilnya dinikmati
bersama.
Beberapa kebijakan politik yang ditempuh oleh Hugo Chavez
dilandaskan pada upaya untuk mengembalikan hak-hak
ekonomi, politik, dan kebudayaan pada rakyat. Yang utama
adalah bagaimana aset-aset dan sumber daya ekonomi yang
ada dapat direbut dari tangan pihak swasta yang digunakan
untuk menumpuk keuntungannya sendiri, dan kemudian
dikuasai negara dan digunakan untuk membiayai
program-program sosial dan publik terutama masalah
kesehatan, perumahan, pendidikan, dan pelayanan-pelayanan
publik lainnya.
Apakah kondisi tersebut terjadi di Indonesia? Sayangnya
tidak. Saat ini para elit, tokoh, dan intelektual kita
sedang gencar membahas perubahan (amandemen) konstitusi.
Nampaknya apa yang dilakukan tidak akan sampai pada
capaian yang berujung pada tujuan sejati dari pada
pembentukan konstitusi (baru) itu sendiri. Anasir-anasir
bahwa tidak ada mentalitas elit, tindakan, dan
kebijakannya akan berubah dari oportunis menuju kerakyatan
juga tidak kelihatan sama sekali.
Yang kita butuhkan sebenarnya adalah tindakan tegas yang
menjadi alternatif dari apa yang selama ini dilakukan.
Kebijakan ekonomi pasar bebas (neoliberal) harus diubah
menjadi kebijakan yang radikal seperti yang dilakukan oleh
Hugo Chavez. Benar bahwa Indonesia bukan Venezuela, tetapi
keumuman kontradiksi neoliberalisme di manapun sama, yaitu
menyengsarakan rakyat baik di Asis, Afrika, Amerika Latin,
bahkan juga di negara-negara maju sendiri. Gerakan ekonomi
harus dibarengi dengan keberanian politik yang bertumpu
pada kedaulatan nasional. Menuju bangsa yang kuat,
mandiri, dan berkeadilan karena syarat-syarat material
Indonesia yang kaya memungkinkan untuk itu.***
Nurani Soyomukti,
Penulis buku “Revolusi Bolivarian: Hugo Chavez dan Politik
Radikal”; aktif di IRED (Institute of Research anad
Education for Democracy) Jakarta; Sarjana Ilmu Hubungan
Internasional
Isu amandemen terhadap UUD 1945 di negeri ini nampaknya
akan terus berlanjut. Tetapi sayangnya, belum ada jawaban
pasti apakah amandemen terhadap dasar negara kita akan
membawa pada perubahan yang lebih substansial bagi nasib
rakyat, terutama kesejahteraan dan demokrasi politiknya.
Konstitusi merupakan landasan yang paling penting. Tetapi
yang lebih penting juga adalah tindakan yang berani untuk
melaksanakan konstitusi itu. Istilah konstitusi berasal
dari bahasa Perancis (constituer) yang berarti membentuk.
Pemakaian istilah konstitusi yang dimaksudkan ialah
pembentukan suatu negara atau menyusun dan menyatakan
suatu negara. Sedangkan istilah Undang-Undang Dasar
merupakan terjemahan istilah yang dalam bahasa Belandanya
Gronwet. Perkataan wet diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia undang-undang, dan grond berarti tanah atau
dasar.
Hingga detik ini, konstitusi kita tidak pernah dijalankan
secara murni dan konsekuen oleh elit-elit yang wataknya
oportunis dan pragmatis. Masalahnya, keberadaan konstitusi
tidak dibarengi dengan munculnya kesadaran politik yang
berpilar pada gerakan untuk melaksanakan apa yang
diamanatkan konstitusi. Tak heran jika, karena elit
politik tidak terkontrol oleh kesadaran rakyat dan
keterlibatan aktif mereka dalam politik secara massif,
maka mereka menjadi pengkhianat konstitusi. Kita bisa
menilai dari sebuah contoh khasus pengkhianatan terhadap
amanat pasal 33 konstitusi kita yang mengharuskan segala
kekayaan alam yang ada digunakan untuk kemakmuran ran
kesejahteraan rakyat dengan jalan dikuasai oleh negara,
tentunya negara yang dikontrol secara demokratis. Yang
terjadi, kekayaan alam dan tenaga produktif bangsa yang
menguasai hidup orang banyak justru diserahkan pada
mekanisme pasar. Peran negara terhadap perekonomian
dipreteli.
Artinya, sejarah munculnya konstitusi yang melekat pada
perjuangan melawan penjajahan dan menata sebuah masyarakat
yang adil dan makmurpun juga dikhianati. Kelahiran sebuah
revolusi memang menghasilkan suatu konstitusi sebagai
upaya untuk mengatur bagaimana negara akan dibawa.
Konstitusi Venezuela
Apa yang terjadi di negeri ini bertolak belakang dengan
apa yang terjadi di Venezuela di bawah kepemimpinan Hugo
Chavez. Chavez dan para pendukungnya paham betapa
pentingnya undang-undang (konstitusi) dan bagaimana ia
harus dijaga oleh kekuatan aktif dari bawah. Revolusi di
bawah pimpinan Hugo Chavez telah melahirkan konstitusi
baru yang sebenarnya capaian ini adalah landasan
konstitusional bagi kebijakan-kebijakan yang ditempuhnya
dalam upaya membawa perubahan struktural Venezuela. Pada
awal naiknya Hugo Chaves dan pembentukan konstitusi baru
tersebut, kesadaran rakyat akan perlunya landasan negara
baru memang cukup tinggi.
Waktu itu, tahun 1998-1999, di mana-mana perdebatan
tentang konstitusi selalu berlangsung. Jika orang luar
negeri melancong ke stasiun kereta bawah tanah di Caracas
(ibukota Venezuela) dan menanyakan pada orang yang
berdiri menunggu kereta di sana, apakah ia membawa buku
saku UUD, ia hampir pasti akan menjawab "Ya." Jurnalis
Barry Lynn dari majalah MotherJones melaporkan bahwa di
hampir tiap sudut Venezuela perdebatan tentang konstitusi
mudah sekali dipicu jika ada seorang saja memberi komentar
tentang interpretasi atas ayat-ayat konstitusi itu. Hampir
tiap orang membawa salinan UUD itu di saku mereka, siap
untuk melayani siapa saja dalam perdebatan.
Rakyat Venezuela, terutama rakyat pekerja dan kaum
miskinnya, sangat mencintai UUD mereka yang baru karena
praktis merekalah yang membuat UUD ini. UUD ini dibuat di
bawah pemerintahan Hugo Chavez, bukan di dalam
gedung-gedung parlemen yang ber-AC, tapi melalui
referendum, pemungutan pendapat rakyat secara nasional.
Dengan demikian, konstitusi ini sangatlah berpihak pada
orang miskin dan rakyat pekerja pada umumnya. 50% isi dari
konstitusi ditulis sendiri oleh rakyat-lewat surat-surat
dan jajak pendapat mengenai apa yang dibutuhkan rakyat.
Konstitusi ini memenangkan 70% suara dalam referendum,
mencakup hak-hak dasar demokratik, sosial dan hak-hak
azasi manusia lainnya yang sangat luas diatas batas-batas
demokrasi parlementer yang dangkal.
Konstitusi Republik Bolivarian Venezuela adalah konstitusi
hasil perubahan Venezuela hingga sekarang. Konstitusi ini
disusun pada tahun 1999 oleh majelis konstitusional yang
dipilih melalui referendum rakyat. Konstitusi 1999 ini
diadopsi pada bulan Desember 1999, menggantikan Konstitusi
tahun 1961-yang telah menjadi, dari 26 konstitusi yang
digunakan Venezuela sejak merdeka pada tahun 1811, dokumen
yang dipaksakan dalam waktu yang paling lama.
Konstitusi tersebut lahiar dari demokrasi rakyat, dan
bukan dari diskusi elit atau tokoh. Konstitusi 1999 ini
merupakan konstitusi pertama yang dibuat dan disetujui
melalui referendum rakyat (popular referendum) dalam
sejarah Venezuela, dan secara ringkas menandai apa yang
dinamakan sebagai “Republik Kelima” Venezuela agar
perubahan sosial ekonomi digariskan dan ditekankan dalam
tiap-tiap halamannya, sebagaimana perubahan resmi terjadi
di Venezuela dari Republik Venezuela (Republica de
Venezuela) menjadi Republik Bolivarian Venezuela
(Republica Bolivariana de Venezuela). Perubahan utama
dibuat dalam struktur pemerintahan dan pertanggungjawaban
Venezuela, sedangkan banyak hak-hak asasi manusia
diabadikan dalam dokumen yang dimaksudkan sebagai jaminan
bagi rakyat Venezuela-yang mencakup pendidikan bebas
hingga tingkat ketiga (tertiary level), pelayanan
kesehatan gratis, akses terhadap lingkungan bersih,
hak-hak minoritas (terutama masyarakat pribumi,
indiginous people) untuk menegakkan budaya, agama, dan
bahasa serta tradisi mereka sendiri di antara kebudayaan
lainnya. Konstitusi 1999 yang berjumlah 350 ayat adalah
yang paling panjang, lengkap, dan komprehensif.
Kebijakan yang berawal dari penentangan terhadap
penindasan neoliberalisme tentu saja merupakan anti-tesis
yang tepat darinya. Neoliberalisme bertahan dengan
segelintir elit yang berusaha mengeruk kepentingan pribadi
dengan menjalankan ekonomi yang dikendalikan oleh
keputusan sedikit orang (oligarki) dan mengorbankan rakyat
mayoritas. Sumber-sumber ekonomi dikuasai oleh kaum modal,
rakyat dianggap tidak memiliki dan hanya bekerja untuk
kepentingan pemilik modal yang menjalankan kegiatan
produksinya. Maka, upaya untuk merebut hak-hak segelintir
elit dan mengembalikannya pada mayoritas rakyat membawa
dampak yang luas dalam hal perasaan solidaritas untuk
berproduksi secara bersama dan hasilnya dinikmati
bersama.
Beberapa kebijakan politik yang ditempuh oleh Hugo Chavez
dilandaskan pada upaya untuk mengembalikan hak-hak
ekonomi, politik, dan kebudayaan pada rakyat. Yang utama
adalah bagaimana aset-aset dan sumber daya ekonomi yang
ada dapat direbut dari tangan pihak swasta yang digunakan
untuk menumpuk keuntungannya sendiri, dan kemudian
dikuasai negara dan digunakan untuk membiayai
program-program sosial dan publik terutama masalah
kesehatan, perumahan, pendidikan, dan pelayanan-pelayanan
publik lainnya.
Apakah kondisi tersebut terjadi di Indonesia? Sayangnya
tidak. Saat ini para elit, tokoh, dan intelektual kita
sedang gencar membahas perubahan (amandemen) konstitusi.
Nampaknya apa yang dilakukan tidak akan sampai pada
capaian yang berujung pada tujuan sejati dari pada
pembentukan konstitusi (baru) itu sendiri. Anasir-anasir
bahwa tidak ada mentalitas elit, tindakan, dan
kebijakannya akan berubah dari oportunis menuju kerakyatan
juga tidak kelihatan sama sekali.
Yang kita butuhkan sebenarnya adalah tindakan tegas yang
menjadi alternatif dari apa yang selama ini dilakukan.
Kebijakan ekonomi pasar bebas (neoliberal) harus diubah
menjadi kebijakan yang radikal seperti yang dilakukan oleh
Hugo Chavez. Benar bahwa Indonesia bukan Venezuela, tetapi
keumuman kontradiksi neoliberalisme di manapun sama, yaitu
menyengsarakan rakyat baik di Asis, Afrika, Amerika Latin,
bahkan juga di negara-negara maju sendiri. Gerakan ekonomi
harus dibarengi dengan keberanian politik yang bertumpu
pada kedaulatan nasional. Menuju bangsa yang kuat,
mandiri, dan berkeadilan karena syarat-syarat material
Indonesia yang kaya memungkinkan untuk itu.***
29/06/2007
Nasionalisasi di Venezuela – Apa Artinya Bagi Kaum Sosialis?
Oleh Alan Woods di Mexico
Jumat, 18 Mei 2007
Berita tentang langkah besar nasionalisasi akan disambut dengan antusias oleh buruh di seluruh penjuru negara. Ini merepresentasikan suatu langkah besar bagi revolusi Venezuela dan pukulan yang serius terhadap kapitalisme dan imperialisme.
Pada hari Selasa tanggal 15 Mei, James Ingham koresponden BBC News di Caracas, mempublikasikan sebuah artikel yang berjudul Nationalisation sweep Venezuela, yang dimulai dengan:
"Para investor swasta dan kelompok oposisi menentangnya, dan para pendukung Presiden Hugo Chavez menginginkannya. Angin puyung nasionalisasi dan ancaman-ancaman untuk perusahaan-perusaha an swasta sedang mengubah iklim ekonomi Venezuela dan mengancam untuk melebarkan ketegangan sosial.
"Mr Chavez meningkatkan kampanyenya untuk mengubah Venezuela menjadi negara sosialis.
"Dia mengambil lebih banyak kendali terhadap aset-aset negara dan memperingatkan perusahaan-perusaha an yang tidak setuju dengan visinya bahwa ia akan mengambil alih perusahaan-perusaha an itu."
Dengan segera setelah memegang kekuasaan, Presiden mengumumkan program nasionalisasi secara luas: "Segala sesuatu yang dulu diprivatisasi akan dinasionalisasi, " katanya. Hingga saat ini, Chavez tetap memegang ucapannya itu.
Nasionalisasi minyak
Pada tanggal 1 Mei, Hari Buruh, perusahaan-perusaha an minyak swasta yang masih tersisa di negara itu diambil alih. Di sebuah upacara di pabrik pengolahan minyak Jose Oil, Presiden Chavez mengatakan kepada buruh yang bersorak-sorai: "Ini adalah nasionalisasi yang sesungguhnya dari sumber-sumber alam kita… Hari ini kita sedang mengakhiri suatu lingkaran setan."
Orinoco Belt Project, yang bertujuan untuk membangun salah satu cadangan minyak terbesar dunia, sebelumnya dikontrol oleh enam perusahaan asing: ConocoPhilips, Chevron dan Exxon Mobil dari Amerika, bekerjasama dengan BP dari Inggris, Statoil dari Norwegia dan Total dari Prancis. Monopoli besar asing ini sedang mempersiapkan keuntungan yang sangat besar dari proyek tersebut. Sekarang perusahaan minyak negara, PDVSA yang akan mengendalikan sekurang-kurangnya 60% dari proyek-proyek tersebut, dan keuntungan dari proyek-proyek itu akan dikembalikan ke Venezuela . Negosiasi masih berlangsung mengenai kelanjutan pemegang saham dan kemungkinan adanya kompensasi atas kilang-kilang minyak tersebut.
Dari sudut pandang sosialis, apakah hal ini diperbolehkan, yakni masuk ke dalam persetujuan dengan para kapitalis asing, atau dengan membayar kompensasi kepada perusahaan-perusaha an yang dinasionalisasi? Itu tergantung pada beberapa faktor. Di awal tahun 1920-an, Lenin siap memberikan kelonggaran bagi para kapitalis asing untuk membangun Siberia , yang pada saat itu Republik Soviet muda belum mampu menggarapnya. Bahkan ada beberapa negosiasi dengan kapitalis-kapitalis Amerika, yang sebagian besar diorganisir oleh pengusaha kaya Amerika, Arnold Hammer. Tetapi negosiasi-negosiasi tersebut sama sekali tidak menghasilkan apa-apa karena para imperialis hanya ingin menghancurkan negara Soviet, bukan berdagang dengannya.
Masalah kompensasi bukan juga merupakan masalah prinsip. Marx mengemukakan adanya kemungkinan untuk membeli seluruh saham kapitalis di Inggris. Trotsky juga pernah mengatakan bahwa di Amerika hal ini dimungkinkan untuk membayar kompensasi kepada para kapitalis dengan jaminan bahwa pabrik-pabrik tersebut diserahkan secara damai dan memperkecil kemungkinan adanya kerusuhan. Tetapi, apa yang tidak dibenarkan adalah ide para reformis untuk membeli perusahaan-perusaha an dengan harga pasar, yang akan menyebabkan seluruh ide mengenai nasionalisasi menjadi tidak mungkin. Satu slogan yang mungkin bisa dikemukan adalah: nasionalisasi dengan kompensasi minimum berdasarkan kebutuhan yang terbukti. Ini akan membayar dalam jumlah tertentu bagi para pemegang saham kecil tetapi sama sekali tidak bagi "kucing-kucing yang gemuk".
Venezuela hanya mempertimbangkan kesepakatan- kesepakatan berdasar pada nilai buku proyek-proyek tersebut, ketimbang berdasarkan nilai bersih mereka yang sangat besar saat ini. Secara prinsipal, ini akan lebih bisa diterima, karena Venezuela memiliki kekayaan yang cukup besar dan mampu membayar kompensasi – dengan syarat bahwa industri-industri tersebut diserahkan tanpa penundaan dan tidak dengan sabotase. Tetapi sangatlah diragukan apakah syarat-syarat ini akan diterima oleh imperialis dan perusahaan-perusaha an besar asing. Paling tidak, sumber-sumber pemerintah sudah mengatakan bahwa dalam beberapa kasus, kompensasi tidak akan diberikan sama sekali.
Koresponden BBC berkomentar sinis: "Ketika Chavez menyatakan pada acara penyerahan bahwa dia telah mengembalikan minyak kepada rakyat dan membebaskan Venezuela dari Imperialis Amerika Utara, para skeptis menyimaknya dengan kekhawatiran. Para analis memprediksikan bahwa PDVSA akan mengalami kesulitan untuk mengelola lading-ladang minyak yang sulit dikelola ini. Mereka mengatakan, tanpa pengalaman dan keahlian dari perusahaan-perusaha an swasta, produksi akan merosot."
Ini adalah lagu lama yang sering kita dengar! Kaum borjuis tidak akan pernah menerima kenyataan bahwa adalah mungkin untuk menjalankan roda ekonomi tanpa bantuan dari bankir swasta dan kapitalis. Tetapi sejarah berkata lain. Pengalaman Rencana Lima Tahun pertama di Uni Soviet tidak hanya membuktikan bahwa bahwa hal ini mungkin untuk menjalankan sebuah negara yang sangat besar tanpa campur tangan kapitalis, tetapi juga bahwa ekonomi yang terencana secara nasional, meskipun dijalankan secara birokratis, bisa memberikan hasil yang cemerlang.
Selama bertahun-tahun para propagandis modal dengan tekun menyebarkan mitos bahwa kapitalisme bekerja lebih baik daripada suatu sistem ekonomi yang terencana dan sebuah dongeng bahwa dalam jangka panjang kesuksesan pasar akan menyelesaikan semua masalah, yang dijawab oleh Keynes: pada akhirnya kita semua akan mati.'
Suatu contoh sejarah yang sederhana dengan segera akan menyangkal tesis utama dari kaum pro-market tersebut. Dalam Perang Dunia II, ketika tentara Hitler sedang menyapu Eropa, dan Inggris menemukan dirinya sendirian dan dengan punggung ke arah tembok, apa yang dilakukan kaum borjuis Inggris? Apakah mereka berkata: Kita harus meninggalkan segalanya kepada perusahaan swasta dan "tangan gaib pasar"? Tidak! Mereka memusatkan ekonomi, memperkenalkan elemen-elemen perencanaan, pendistribusian, pengendalian buruh, dan bahkan menasionalisasi industri-industri yang dibutuhkan untuk memproduksi kebutuhan perang. Kenapa mereka melakukan ini? Karena ini memberikan hasil yang lebih baik
Aplikasi ekonomi pasar di Amerika Latin merupakan petaka besar bagi massa , yang tidak memperoleh keuntungan dari pertumbuhan ekonomi satu dekade yang lalu, yang hanya memberi keuntungan besar bagi para bankir, kapitalis, dan terutama, monopoli raksasa asing seperti Exxon. Kekhawatiran dari para gentleman ini bukanlah bahwa rakyat Venezuela kurang ahli dalam mengolah ladang minyak, tetapi bahwa para pemilik Exxon akan dihilangkan keuntungan besarnya.
Bahkan koresponden BBC ini terpaksa mengakui bahwa langkah ini akan menolong bagian termiskin dari populasi di Venezuela, rakyat yang memilih Chavez dan yang menginginkan perubahan fundamental di dalam masyarakat.
"Rakyat miskin akan tertolong sepanjang semua keuntungan digunakan untuk kepentingan proyek-proyek sosial." Tetapi kemudian dia menambahkan catatan yang berbisa: "Tetapi ada kekawatiran bahwa langkah ini akan mengorbankan investasi jangka panjang dalam bisnis. Perusahaan-perusaha an multinasional tentu dapat tinggal sebagai partner minoritas, tetapi jika mereka tidak mendapat kesepakatan kompensasi yang menguntungkan, mereka akan pergi."
Ini sungguh memalukan! Monopoli-monopoli asing ini telah merampas kekayaan minyak Venezuela selama bergenerasi- generasi. Mereka telah menjarah sumber daya alam dalam jumlah yang besar dengan mengorbankan rakyat Venezuela . Hampir dari seluruh waktunya, mereka bahkan tidak membayar pajak. Sekarang, saat rakyat Venezuela sedang mengambil kembali sesuatu yang adalah miliknya, burung-buruh nasar yang gemuk dan yang manja ini meminta kompensasi. Seharusnya rakyat Venezuelalah yang harus meminta kompensasi dari perusahaan-perusaha an transnasional itu untuk seluruh kekayaan yang telah mereka rampok selama berpuluh-puluh tahun.
Perusahaan-perusaha an besar asing ini sedang menggunakan isu kompensasi untuk memeras Venezuela . Intinya mereka berkata: "Kamu tidak boleh menghentikan kami merampokmu. Ini hak kami dan kami bersikeras untuk meneruskannya. Jika kamu menolak, kami akan menggunakan seluruh otot kami untuk melakukan sabotase terhadapmu. Kami akan keluar dari Venezuela , membatalkan seluruh kontrak dan memutus seluruh investasi eksternal. Kami akan mengorganisir secara internasional untuk memboikot Venezuela . Kami akan meruntuhkanmu. Kami akan membiarkanmu kelaparan supaya kamu tunduk!"
Perusahaan selanjutnya yang ada di daftar nasionalisasi adalah perusahaan telekomunisasi utama Venezuela , CANTV, yang diprivatisasi pada tahun 1991. Semenjak privitasasi itu, perusahaan itu telah menghasilkan keuntungan yang besar bagi pemiliknya, tetapi pelayanannya tidak pernah sampai ke masyarakat paling miskin di negara itu. Kebanyakan rakyat miskin Venezuela menggunakan jaringan telpon dari kedai-kedai telepon yang dikendalikan oleh perusahaan telpon yang dipenuhi dengan stan-stan telpon, atau mereka menelpon dari kios-kios telpon yang ada di jalanan, dimana telpon-telpon genggam ditaruh pada sebuah meja dan para pengguna telpon membayar sewa telpon.
Dari bulan Juni, negara akan mengontrol perusahaan tersebut, merubahnya, dalam kata-kata Presiden Chavez, dari "perusahaan swasta kapitalis ke perusahaan sosialis yang dijalankan oleh negara". Antrian-antrian panjang rakyat yang sedang menunggu untuk menelpon rumahnya akan menjadi masa lalu. Chavez merencanakan untuk menginstal lebih dari sejuta saluran baru dan memotong biaya telepon. "Sebelum tahun 2011, setiap wilayah dengan lebih dari 500 penduduk akan memilki akses ke jaringan telepon," kata Chavez.
Perusahaan-perusaha an lainnya yang akan dinasionalisasi termasuk pemasok listrik utama negara, Electridad de Caracas. Pabrik-pabrik semen dan baja yang mengekspor mayoritas barang-barangnya telah diberitahu bahwa mereka akan diambil alih jika mereka tidak mulai menjual barang-barangnya ke rakyat Venezuela . Yang paling penting dari semua itu, adalah bank, yang berpikir dirinya bebas hingga sekarang, dihadapkan dengan nasionalisasi:
"Perbankan swasta harus memprioritaskan pembiayaan pada sektor-sektor industri Venezuela dengan biaya rendah," kata Chavez belum lama ini. "Jika bank-bank tersebut tidak setuju dengan hal ini, lebih baik mereka pergi, mereka harus menyerahkan bank-bank tersebut kepada saya, kami menasionalisasi dan mengambil bank-bank itu untuk bekerja demi membangun negara, dan bukan untuk spekulasi dan memperoleh keuntungan besar."
Bank-bank di Venezuela telah memperoleh keuntungan besar dalam periode terakhir ini. Majalah The Economist (8 Mei) berkomentar: "Mungkin sulit bagi bank-bank untuk protes atau melawan, terutama karena mereka sudah melaporkan pertumbuhan laba yang meningkat – hingga 33% di tahun 2006 – berkat meledaknya permintaan kredit domestik di tengah-tengah ekspansi ekonomi yang cepat (rata-rata lebih dari 12% dalam tiga tahun terakhir ini). Bahkan selain nasionalisasi, kabarnya pemerintah sedang berpikir untuk mengimplementasikan perbaikan-perbaikan di dalam sektor tersebut, yang mungkin termasuk suatu batasan pada keuntungan bank (kelebihannya untuk proyek-proyek sosial), dan kontrol langsung atas suku bunga dan alokasi kredit."
Bahkan jika Chavez menunda nasionalisasi atas bank-bank dan memperkenalkan kontrol seperti itu, ini akan membuat jalannya bank-bank tersebut di atas dasar kapitalis menjadi tidak mungkin dan maka dari itu akan berakhir dengan nasionalisasi. Nasionalisasi bank merupakan syarat mutlak jika Venezuela ingin putus dengan kapitalisme. Bank-bank merupakan instrumen esensial dari kebijakan ekonomi dan penggerak yang sangat kuat. Kontrol terhadap kredit merupakan elemen esensial di dalam sebuah ekonomi terencana sosialis, dan harus berada di tangan negara. Ini akan memungkinkan negara untuk mengalokasikan sumber-sumber dan investasi menurut kebutuhan masyarakat secara umum, bukan menurut keuntungan bagi segelintir para parasit yang kaya.
Masalah kelas
Mr. Ingham menyimpulkan reaksi terhadap pengumuman nasionalisasi tersebut: "Ini adalah saat yang menggelisahkan bagi para investor dan perusahaan-perusaha an swasta. Tetapi bagi berjuta-juta rakyat yang menyandarkan hidupnya pada presiden dan pertolongan finansialnya, mereka akan gembira karena uang tampak bergerak dari orang-orang kaya ke orang-orang miskin." Perkataan ini dari seorang musuh revolusi Bolivarian dan sosialisme cukup mengekspresikan realitas konflik kelas yang telah berkembang di Venezuela lebih dari satu dasawarsa dan sekarang telah sampai pada titik perubahan yang kritis. Masalah nasionalisi ada di pusat tahapan yang kritis ini, dan masa depan revolusi Bolivarian tergantung dari penyelesaian masalah ini.
Berita nasionalisasi ini diterima dengan sorak-sorai oleh para pekerja, petani, dan rakyat miskin Venezuela , yang berharap Chavez akan memenuhi janjinya untuk membuat revolusi Venezuela menjadi sebuah revolusi yang tidak dapat dibalikkan arahnya. Ini hanya dapat dilakukan dengan menantang secara langsung apa yang dinamakan dengan hak suci kepemilikan pribadi. Tanpa mengambil alih kekuatan ekonomi dari tangan kelas oligarki yang kontra revolusioner, revolusi Bolivarian tak akan pernah bisa memperoleh kemenangan dan segala sesuatu yang diperoleh dari revolusi tidak akan pernah langgeng.
Satu hal yang juga tidak mengejutkan adalah respon imperialis di setiap negara. Di sana sedang ada gonggongan protes dari semua pihak. Media massa penuh dengan cerita mengerikan tentang ancaman "diktator komunis" di Venezuela. Mereka mengabaikan detil kecil bahwa Presiden Hugo Chavez dalam 10 tahun terakhir ini menang dalam pemilihan, referendum, dan pemilihan-pemilihan umum lainnya lebih dari pemimpin politik manapun di dunia. Dalam pemilihan presiden Desember yang lalu Chavez menang dengan perolehan suara terbesar dalam sejarah Venezuela .
Para "demokrat" seperti George W. Bush dan Tony Blair hanya setuju dengan demokrasi selama demokrasi tidak mengancam kepentingan para bankir, tuan tanah, dan kapitalis. Tetapi ketika rakyat memilih sebuah pemerintah yang mencoba mengubah masyarakat dan mengancam kekayaan serta hak istemewa, dengan cepat sikap mereka berubah. Pada bulan April 2002, CIA merencanakan sebuah kudeta di Venezuela yang akan melantik seorang diktator berlumuran darah seperti Pinochet di Chile. Esok harinya, Washington mengakui pemerintah baru tersebut, yang dipimpin oleh seorang pengusaha, Carmona, yang sama sekali tidak pernah dipilih oleh siapapun. Inilah kredensial-kredensi al "demokratis" dari imperialisme Amerika.
Apa yang sebenarnya ditakuti oleh mereka adalah, bahwa untuk membawa revolusi Bolivarian maju ke depan, Hugo Chavez mulai mengambil tindakan tegas melawan kepemilikan pribadi, dengan menasionalisasi perusahaan-perusaha an dan tanah yang dimiliki oleh kaum oligarki Venezuela dan perusahaan-perusaha an transnasional asing yang besar. Mereka takut contoh ini akan diikuti di negara lain (ini sudah terjadi) dan bahwa buruh Eropa dan Amerika akan mulai menuntut langkah yang sama melawan perusahaan-perusaha an besar yang mengeksploitasi buruh-buruhnya guna merauk keuntungan yang besar, merusak lingkungan dengan tumpahan minyak dan pencemaran dalam bentuk lain dan menutup pabrik-pabrik seolah-seolah mereka hanyalah sebuah kotak korek api guna mengeruk keuntungan besar dengan merampok negara-negara miskin.
Hingar Bingar "kemerdekaan pers"
Yang benar-benar menjijikkan, khususnya, adalah reaksi Media Barat. Sementara saya sedang menulis artikel ini di Mexico City, televisi pada semua saluran sedang menyiarkan, setiap setengah jam, riuh protes mengenai tidak diperpanjangnya ijin siar RCTV, yang diberitakan sebagai serangan terhadap "kebebasan berekspresi" . Perusahaan yang sedang dibicarakan ini, selama bertahun-tahun, telah memuntahkan propaganda yang paling menjijikkan dan penuh dusta melawan pemerintah terpilih, termasuk serangan-serangan personal melawan presiden, yang difitnah berulang kali sebagai orang gila dan fitnah-fitnah lainnya yang lebih parah. RCTV telah berulangkali menyiarkan panggilan-panggilan untuk menggulingkan pemerintahan Venezuela dan membunuh presiden Chavez.
Ini bukanlah hanya beberapa kelompok jurnalis televisi yang tidak bersalah yang sedang berdiri untuk mempertahankan kebebasan. Sebaliknya, perusahaan ini telah lama menjadi pusat kontra revolusioner yang bersekongkol untuk mengganggu kestabilan dan mengguling pemerintah yang dipilih secara bebas oleh rakyat. Pada bulan April 2002, ia merupakan pusat riil dari usaha kudeta, meminta kepada rakyat Venezuela untuk mendukung kudeta tersebut, mengeluarkan berita palsu tentang pembantaian oleh pemerintah. Perusahaan ini menolak mentah-mentah untuk mengijinkan para menteri yang terpilih untuk menjelaskan diri mereka sendiri di televisi.
Dengan kata lain, RCTV merupakan salah satu instrumen penting untuk persiapan sebuah kup yang bermaksud melantik kediktaturan di Venezuela yang akan meminta korban jiwa yang tak terhitung jumlahnya. Ia merupakan salah satu instrumen oligarki dan CIA. Di negara lain manapun, stasiun tersebut sudah pasti akan ditutup sejak dulu dan para direkturnya sudah dibawa ke pengadilan. Di Venezuela tak seorang pun ditangkap – yang mana mereka seharusnya sudah ditangkap – dan stasiun TV tersebut sudah diijinkan untuk beroperasi sampai ijin siarnya kadaluwarsa. Pemerintah sungguh pantas menolak untuk memperpanjang ijinnya, yang mana secara sah mereka berhak melakukannya. Inilah kenyataannya. Oleh karena itu, seluruh kebisingan dan kemarahan yang dibangkitkan oleh pers yang menjijikkan ini mengenai apa yang dinamakan serangan atas kebebasan pers di Venezuela harus ditolak dengan jijik untuk kemunafikannya yang penuh dusta.
Apa yang dinamakan pers bebas dunia barat dalam kenyataannya merupakan milik pribadi segelintir orang-orang media super kaya seperti Rupert Murdoch. Jauh dari pejuang kebebasan berpendapat, kaum reaksioner yang keras ini merupakan juru bicara imperialis, bank dan monopoli besar. Mereka dengan tekun membela status quo, yaitu, suatu perbudakan rakyat seluruh dunia oleh segelintir parasit-parasit kaya. Mereka adalah musuh-musuh yang paling keras dari kemerdekan dan kemajuan dimana-mana.
Buruh di seluruh dunia tidak akan bisa dikelabui oleh kampanye yang bersuara nyaring di media ini. Mereka akan mengerti bahwa apa yang dipertaruhkan adalah perjuangan hidup-dan-mati antara kelas-kelas yang bertentangan, yang sedang terjadi pada skala dunia. Mereka dengan segera akan memahami fakta bahwa pers pengecut ini, yang secara sistematis berdusta dan memfitnah para buruh setiap kali mereka mogok untuk membela kepentingannya melawan bos-bos, mempunyai alasan tersendiri untuk menyerang Chavez dan Venezuela, dan bahwa alasan-alasan ini tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang tertulis di koran-koran mereka.
Revolusi Amerika Latin
Di seluruh Amerika Latin, massa sedang berkobar. Di Ekuador, kita mempunyai pemilihan Rafael Correa, yang disebut-sebut memodelkan dirinya seperti Chavez. Dia terkunci dalam sebuah konflik dengan Kongres dan memilki dukungan lebih dari 80% rakyat. Di Bolivia, Evo Morales, yang terinspirasi oleh nasionalisasi di Venezuela , sedang mengangkat masalah nasionalisasi sumber-sumber alam milik Negara:
"Pemerintah- pemerintah neo-liberal sudah menyerahkan secara gratis konsesi-konsesi atas bukit-bukit, sungai-sungai, dan tambang-tambang. Kita harus mulai mengambil kembali konsesi-konsesi tersebut," kata Morales sebelum memulai proses nasionalisasi industri gas. Sebagaimana di Venezuela, pemerintah Bolivia dihadapkan dengan perlawanan sengit dari oligarki, dengan Washington dan perusahaan-perusaha an transnasional di belakangnya. Koresponden BBC di Caracas mengekspresikan ketakutan imperialis ini:
"Perubahan-perubaha n di Venezuela sedang direfleksikan di tempat lain di Amereika Latin. Sekutu-sekutu Chavez di Bolivia dan Equador sedang membuat gerakan-gerakan yang sama."
Di Bolivia, perusahaan energi negara YPFB mengatakan bahwa mereka akan mengontrol produksi dan pemasaran minyak dan gas alam di negara tersebut. Dalam sambutannya di peringatan May Day tahun ini, Morales berjanji untuk mengambil kontrol yang lebih besar terhadap ekonomi dari perusahaan-perusaha an asing:
"Kawan-kawanku, jika kita benar-benar ingin hidup di Bolivia yang bermartabat maka kita harus mengambil jalan anti-imperialisme, anti-liberalisme dan anti-kolonialisme, " kata Morales.
Pemerintahan Bolivia berharap untuk menyelesaikan nasionalisasi perusahaan telkom sebelum May Day, tetapi pembicaraan dengan Telecom Italia – yang memiliki separuh perusahaan telkom terbesar itu – terhenti untuk saat ini. Telcom Italia mengatakan minggu lalu bahwa ia berpikir untuk mencari arbitrasi internasional atas penjualan Entel setelah Bolivia mengeluarkan dua keputusan yang bertujuan menasionalisasi kembali perusahaan tersebut. Demikian, para imperialis menggunakan berbagai macam trik dan manuver guna menggagalkan keinginan rakyat dan menyabotase usaha mereka untuk memperoleh kembali kontrol atas sumber-sumber daya alam mereka. Tetapi gerakan untuk nasionalisasi tetap berkembang, mendapatkan dorongan dari rakyat Venezuela . Ini dilihat oleh Washington sebagai suatu usaha oleh Chavez untuk mengekspor revolusi.
Peluncuran Telesur, saluran televisi seluruh Amerika Latin yang disiarkan dari Caracas untuk jutaan rakyat di seluruh penjuru benua dan di luar itu, merupakan respon langsung terhadap kontrol atas siaran televisi yang digunakan imperialis Amerika melalui CNN. Chavez juga sudah mengatakan bahwa dia ingin mengeluarkan Venezuela dari IMF dan Bank Dunia.
Presiden Chavez mengatakan bahwa dia sudah memerintahkan Menteri Keuangan, Rodrigo Cabezas, untuk memulai kerja formal guna menarik diri dari dua lembaga internasional tersebut. Presiden Chavez telah mengutarakan keinginannya untuk mendirikan apa dia yang dinamakan Bank of the South, yang disokong oleh penghasilan minyak Venezuela , yang akan membiayai proyek-proyek di Amerika Selatan. Langkah ini juga akan dipandang sebagai ancaman terhadap cengkraman yang dimiliki oleh imperialisme terhadap benua Amerika Latin melalui institusi-institusi finansial ini (baca IMF dan Bank Dunia). Contoh diatas mudah menjalar. Di Nikaragua, Ortega telah berkata dia sedang melakukan negosiasi dengan IMF "untuk meninggalkan IMF" dan bahwa dia berharap untuk "keluar dari penjara" hutang IMF.
Para ahli strategi imperialis mencapai kesimpulan yang sama sebagaimana seorang Marxis: Kondisi-kondisi sudahlah matang untuk sebuah gerakan revolusioner secara umum di Amerika Latin yang akan memilki konsekuensi yang sangat besar di Amerika dan pada skala dunia. Pusat gerakan revolusioner tersebut ada di Venezuela, dimana, setelah satu dasawarsa perjuangan, revolusi sedang mencapai titik yang tak dapat dibalik.
Di sini di Mexico , kebijakan-kebijakan yang diumumkan oleh Chavez sudah melemahkan kelas penguasa, yang telah dihadapkan dengan sebuah pemberontakan massa yang tak ada henti-hentinya sejak kecurangannya dalam pemilihan tahun lalu. Seorang kawan dari Mexico berkata kepadaku: "Ini benar-benar mengejutkan. Mereka sedang menyerang pemerintahan Chavez setiap setengah jam pada seluruh saluran dan membela hak-hak jurnalis Venezuela , seolah-olah mereka sedang berbicara mengenai kejadian di Mexico ." Kata-kata ini masuk ke inti persoalan. Dari pihak imperialis dan antek-anteknya di Amerika Latin, ada alasan yang sangat kuat bagi kegarangan serangan-serangan melawan Venezuela itu. Mereka mempunyai alasan yang tepat untuk takut bahwa revolusi Venezuela tidak akan berhenti di perbatasan Venezeula, tetapi akan menyebar ke negara lain. Nasionalisasi- nasionalisasi baru-baru ini memberikan suatu contoh yang ingin diikuti oleh negara-negara lain. Ini mengakibatkan alarm di koridor kekuasaan dari Washington ke Mexico city dan sekitarnya berdering.
Di sini di Mexico , Calderon menduduki jabatannya sebagai presiden melalui kecurangan dalam pemilihan tahun lalu, setelah protes rakyat secara besar-besaran yang melibatkan jutaan buruh dan petani. Pada tanggal 31 Juli, tiga juta rakyat turun ke jalan menuntut pengakuan kandidat PRD Lopez Obrador sebagai presiden terpilih. Di Oaxaca, ada pemberontakan yang bertahan selama berbulan-bulan, termasuk pendirian soviet-soviet (APPO), milisi rakyat, dan pengambilalihan televisi.
Pemberontakan Oaxaca dihancurkan dengan kekerasan yang brutal dan tak diketahui jumlah yang dibunuh oleh pasukan keamanan. Tentu saja tidak ada satu kata pun tentang ini di "pers bebas" kita, yang hanya berteriak tentang "kediktatoran" ketika kepentingan kaum kaya terancam. Setiap orang di Mexico tahu bahwa Lopez telah memenangkan pemilihan dan Calderon secara demokratis tidak terpilih. Tetapi Washington dan London mengakui Calderon dan sedang mencoba dengan segala cara untuk tetap menjaga kekuasaannya, meskipun mereka tidak akan berhasil.
Gerakan di Mexico belumlah berhenti. Ia baru saja mulai. Pada tanggal 2 Mei terjadi pemogokan umum yang memperoleh dimensi yang sangat besar. Sebuah komite pemogokan nasional sudah dipersiapkan untuk mengorganisir pemogokan umum yang lain. Ada suatu gelora di serikat-serikat buruh, dimana pemimpin-pemimpin sayap kanan "charro" dikalahkan oleh anggota-anggotanya secara konsisten. Seluruh situasi disini siap meledak. Adakah sesuatu yang mengherankan bila kelas penguasa Mexico , dan majikan-majikannya di Washington, takut dengan apa yang sedang terjadi di Venezuela ?
Akan tetapi, opsi-opsi dari imperialisme di Venezuela saat ini adalah sangatlah terbatas. Imperialisme Amerika, dengan seluruh kekayaan dan kekuatan militernya, menemukan dirinya dalam keadaan lumpuh. Di masa lalu mereka sudah akan mengintervensi langsung, dengan mengirim pasukan Marinir. Tetapi ini tidak mungkin untuk saat sekarang ini. Mereka terlibat dalam perang di Irak yang tidak popular dan yang tidak dapat dimenangkannya. Saat ini Bush adalah presiden yang paling tidak disukai di dalam sejarah Amerika. Oposisi terhadap perang Irak sedang berkembang pada semua level. Adalah tidak terpikirkan bila bahkan orang yang tolol seperti Bush akan melancarkan serangan militer ke Amerika Latin pada saat ini.
Tersisa opsi pembunuhan, yang pasti telah dipersiapkan oleh CIA cukup lama. Tetapi bahkan opsi ini mengandung resiko serius bagi imperialisme Amerika. Ini akan menyebabkan gelombang kemarahan di Amerika Latin dan di seluruh dunia, di mulai dari Venezuela , yang mana akibat pertamanya adalah pemutusan suplai minyak ke Amerika. Ini akan menyebabkan gelombang kemarahan dan reaksi di seluruh benua tersebut. Kemungkinan, tidak akan ada satupun kedutaan Amerika yang tersisa di kawasan tersebut. Kebencian terhadap Amerika akan bertahan selama bergenerasi- generasi dan mengakibatkan pemberontakan- pemberontakan dan ledakan-ledakan sosial selanjutnya.
"Appetite comes with eating"
Ada peribahasa kuno: "appetite comes with eating" (nafsu makan datang dari makanan). Jumlah buruh di Venezuela yang sedang menuntut kontrol buruh dan nasionalisasi semakin bertambah. Hal ini terjadi di Inveval, dimana buruh telah mengambil alih pabrik dan menjalankannya dengan sukses di bawah kontrol buruh. Hal yang sama terjadi di Sanitarios Maracay , seperti yang telah kita laporkan dalam artikel sebelumnya. Pabrik-pabrik ini dan yang lainnya telah mengorganisir Freteco, front pendudukan pabrik, yang sedang meluaskan pengaruhnya dan meningkatkan kampanye untuk nasionalisasi. Pernyataan-pernyata an Presiden Chavez akan memberikan dorongan baru bagi gerakan ini.
SIDOR adalah pabrik baja terbesar di kawasan Andean dengan kapasitas 4.2 juta ton per tahun. SIDOR memproduksi kawat dan pipa, termasuk berbagai jenis pipa yang dibutuhkan industri nasional Venezuela, dan menurut laporan perusahaan tersebut, 63% dari produksi ditujukan untuk pasar Venezuela dan 37% untuk ekspor.
Perusahaan ini merupakan perusahaan milik negara sejak berdirinya di tahun 1962 hingga 1998 ketika perusahaan itu diprivatisasi. 60 persen sahamnya diperoleh oleh suatu konsorsium yang bernama Amazonia, yang terdiri dari perusahaan Argentina Techint sebagai partner mayoritas, juga Hylsamex dari Mexico, Uniminas dari Brazil, dan perusahaan Venezuela, Sivensa sebagai partner minoritas. Pemerintah Venezuela menguasai 20 persen saham dan sisa 20 persen diberikan kepada buruh pabrik.
Chris Carlson melaporkan dalam Venezuelanalysis. com bahwa pada tanggal 9 Mei para pekerja di Mérida mengadakan protes di luar pabrik baja SIDOR di Puerto Ordaz, menuntut pemerintah menasionalisasi perusahaan itu. Pekerja-pekerja dari serikat buruh SIDOR berkumpul di luar pabrik kemarin, memblokir jalan, menghalangi pintu masuk pabrik sejak pagi hari.
Chávez telah memperingatkan bahwa ia akan menasionalisasi perusahaan tersebut jika mereka tidak memenuhi kebutuhan industri domestik dan tetap mengekspor ke pelanggan asing, walaupun untuk saat ini perusahaan tersebut tampaknya masih akan berada di tangan swasta.
"Sebagai buruh kita meminta suatu jawaban yang pasti mengenai situasi ini," kata Ulmaro Ramos, sekretaris serikat buruh SIDOR, pada stasiun radio lokal. Seorang jurubicara serikat buruh menyatakan bahwa buruh mendukung niat presiden untuk menasionalisasi perusahaan tersebut.
"Kita mendukung maklumat presiden tentang kemungkinan untuk membebaskan perusahaan ini yang telah diperbudak kapitalisme neo-liberal selama 8 tahun terakhir," kata José Meléndez, anggota serikat buruh Alianza Sindical de Sidor. Meléndez berkata bahwa ketika pabrik tersebut diprivatisasi, ada 11,600 karyawan dan sekarang hanya ada 5,700 buruh yang "dieksploitasi tanpa sedikitpun memperoleh keuntungan."
"Kita tidak terpecahkan dan kita dengan sepenuhnya setuju bahwa presiden perlu mengendalikan perusahaan ini agar secepatnya dapat dialihkan ke kontrol oleh buruh," kata Meléndez
Sekarang apa?
Chávez telah menunjukkan bahwa adalah mungkin bagi para pejuang revolusioner untuk menggunakan institusi demokrasi formal borjuis guna mengerahkan massa untuk perubahan. Dia telah menjalankan suatu kebijakan cerdas yang sudah memungkinkan dia untuk memenangkan banyak pemilihan, mendasarkan dirinya pada suatu program tuntutan-tuntutan yang demokratis revolusioner dan perubahan-perubahan yang tidak melewati batasan kapitalisme tetapi menyatukan dan mengorganisir berjuta-juta buruh dan petani untuk mengubah masyarakat.
Kemenangan-kemenang an ini sudah melemahkan semangat dan mendemobilisasi kekuatan-kekuatan kontra-revolusioner . Kelompok oposisi, yang berusaha keras mengerahkan kekuatannya untuk mengusir Chávez pada bulan Desember, kini terpecah-pecah secara menyedihkan dan mengalami disorientasi. Mood sayap kanan saat ini sedang tertekan dan merasa kalah. Sekarang, kelompok oposisi tidak memiliki wakil di Majelis Nasional sebagai hasil dari keputusan mereka untuk memboikot pemilihan tahun 2005. Kemenangan telak Chávez's (yang bahkan pengamat borjuis internasional tidak berani mempertanyakan) memberinya suatu tangan yang sangat kuat untuk terus maju dengan sebuah program sosialis. Dia hanya melakukan itu, dan dia harus diberi pujian atas hal ini.
Akan tetapi, Revolusi ini masih belum melewati titik kritis dimana kuantitas menjadi kualitas. Kekuatan-kekuatan yang besar sedang berusaha untuk menghentikan Revolusi ini dan melemahkannya dan menyabotasenya dari dalam. Kekuatan kontrarevolusioner borjuis terlalu lemah untuk melakukan tugas ini. Ini sedang dilaksanakan oleh kaum birokrasi Bolivarian – sayap kanan yang merepresentasikan Fifth Column dari kontrarevolusi dari dalam Gerakan Bolivarian ini, dan secara konsisten bekerja untuk mengisolasi Presiden dan menyabotase keputusan-keputusan nya.
Venezuela masih belum memutuskan hubungan dengan kapitalisme tetapi berdiri di posisi separuh jalan yang mengkhawatirkan. Ada bahaya yang sangat besar di sini. Adalah mustahil untuk membuat sebuah revolusi yang setengah-setengah. Bahaya ini adalah bahwa, dengan memperkenalkan beberapa langkah nasionalisasi dan perubahan progresif lain, Chávez akan membuat operasi kapitalisme menjadi mustahil, tanpa meletakkan mekanisme-mekanisme perencanaan dan pengendalian yang merupakan kondisi awal bagi suatu sistem ekonomi sosialis.
Sedang ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan yang menunjukkan bahwa tidak semuanya sehat di dalam ekonomi. Inflasi sedang meningkat, yang mana akan memukul kaum yang termiskin dengan sangat keras, dan kekurangan-kekurang an produk sedang bermunculan pada tingkat yang berbeda-beda. Kapitalis sedang merespon dengan menghentikan modal dan ada perluasan sabotase, korupsi dan halangan birokratis. Majalah The Economist berkomentar:
"Dengan pendapatan yang besar dari ekspor minyak dalam tahun-tahun terakhir ini – hasil minyak menghasilkan hampir 59 milliar US$ di tahun 2006 – dan membengkaknya cadangan valuta asing, administrasi Chávez mempunyai dana untuk dibelanjakan. Akan tetapi, manakala dikombinasikan dengan pengeluaran belanja lainnya, khususnya program-program dan subsisi-subsidi sosial yang mahal, ini akan menambah tekanan lebih lanjut terhadap defisit anggaran yang telah melebar. Defisit ini setara dengan 1.8% GDP di tahun 2006, dan Economist Intelligence Unit memproyeksikan defisit ini akan berkembang menjadi 4.9% GDP tahun ini. (Keadaan fiskal yang sebenarnya lebih buruk, karena beberapa pengeluaran disalurkan off-budget via perusahaan minyak milik negara dan dana pembangunan nasional). Pertumbuhan GDP sendiri sedang melambat – mencapai 5.8% tahun ini dan 3.2% di tahun 2008, menurut ramalan kami.
"Radikalisasi kebijakan di bawah pemerintahan Chávez, yang dikombinasikan dengan tanda-tanda pertumbuhan ekonomi yang tertekan – yang terbukti tidak hanya oleh pemburukan keuangan publik dan pertumbuhan yang lambat tetapi juga inflasi double-digit, yang paling tinggi di Amerika Latin – sedang membangitkan semakin banyak rasa takut diantara para investor. Indeks pasar bursa Caracas tengah merosot beberapa hari terakhir ini. Penanaman modal-langsung swasta juga telah mengalami kemunduran dalam beberapa tahun, dan tren ini mungkin akan memburuk sejak Januari. Penanaman modal-langsung asing adalah negatif tahun lalu. Pengurangan investasi akan semakin menurunkan pertumbuhan GDP melebihi term medium
"Dan lagi, premi yang dibayar untuk transaksi dolar pada pasar gelap tengah meningkat, dengan melemahnya mata uang bolívar sampai sekitar Bs3,950:US$1 (dibandingkan dengan kurs ofisial yang telah dipatok Bs2,150:US$1) , mendekati poin yang rendah pada bulan Januari sekitar Bs4,000:US$1. Ini akan meningkatkan tekanan pada pemerintah untuk mendevaluasi kurs ofisial, meskipun pemerintah akan ragu untuk melakukan hal itu, mengingat inflasi tahunan yang mendekati angka 20%."
Kita menyambut dengan antusias langkah-langkah nasionalisasi. Pada saat yang sama, kita harus meminta dengan tegas bahwa nasionalisasi itu harus berjalan bergandengan dengan kontrol dan manajemen buruh yang benar-benar demokratis. Roda ekonomi harus dijalankan oleh buruh untuk buruh dan langkah-langkah harus diambil untuk menghentikan kaum birokrat mengambil kontrol.
.
Kita juga harus menunjukkan bahwa pada tahap ini, proses revolusi masih belumlah selesai. Samasekali tidak benar pandangan, yang seperti para birokrat dan reformis katakan, bahwa kita harus maju pelan-pelan dan secara berangsur-angsur agar tidak menggusarkan kaum borjuis dan memprovokasi imperialisme. Kaum borjuis telah cukup terganggu dan imperialis lebih dari itu.
Dengan menunda konflik yang tak terelakkan antara kelas-kelas, kita hanya akan memberikan waktu bagi kekuatan kontrarevolusioner untuk menyusun kembali dan mengorganisir rencana-rencana baru melawan revolusi. Lebih serius lagi, membiarkan kapitalis untuk melanjutkan sabotasenya, menciptakan kelangkaan barang secara artifisial dan mengacaukan produksi, ada bahaya bahwa massa akan menjadi lelah oleh kekurangan-kekurang an barang dan jatuh ke sikap apatis dan acuh tak acuh. Inilah yang benar-benar diingini oleh kelompok reaksioner. Segera setelah keseimbangan dari kekuatan-kekuatan itu mulai bergerak melawan revolusi, kelompok kontrarevolusioner akan menyerang lagi. Dan mereka memilliki banyak sekutu-sekutu terselubung di dalam kepemimpinan Gerakan Bolivarian yang ingin menghentikan revolusi dan sedang menunggu kesempatan untuk berbalik melawan Presiden. Bahaya ini masih ada. Oleh karena itu, kita harus bertindak dengan cepat untuk menyelesaikan masalah-masalah ini sampai pada akar-akarnya.
Perjuangan melawan birokrasi
Nasib akhir dari Revolusi Bolivarian akan ditentukan oleh suatu perjuangan internal untuk membersihkan gerakan dari elemen-elemen kelas yang asing dan mengubahnya ke dalam suatu instrumen yang siap untuk merubah masyarakat. Peluncuran Partai Persatuan Sosialis (PSUV) memberikan para buruh revolusioner, para petani, dan pemuda satu kemungkinan untuk melakukan hal ini. Mereka harus memperkuat partai tersebut dan merekrut lapisan-lapisan revolusioner baru dari massa dan mengabdi sepenuhnya kepada sosialisme. Mereka harus menyingkapkan dan mengusir elemen-elemen korup, pengejar karir, dan para birokrat yang ikut pergerakan hanya untuk kepentingan mereka sendiri dan akan berkhianat segera setelah ada kesempatan.
Partai baru ini bisa menjadi partai buruh revolusioner sejati hanya jika ia sangat demokratis. Anggota-anggota partai tersebut haruslah memutuskan semua permasalahan dan kepemimpinan harus dipilih, dapat diberhentikan dan terdiri dari elemen-elemen yang terbukti kejujurannya dan dedikasinya terhadap sosialisme dan kelas buruh.
Serikat-serikat buruh adalah unsur kunci yang lain dalam perumusan ini. Kaum Marxis berjuang untuk kesatuan serikat buruh, dan pada saat yang sama berjuang untuk gerakan serikat buruh yang demokratis militan. Serikat-serikat buruh harus memberi dukungan kepada pada langkah-langkah progresif pemerintah, terutama nasionalisasi, dan berjuang untuk memperluas semua langkah-langkah yang meningkatkan standar hidup rakyat dan memukul kaum oligarki. Tetapi serikat-serikat buruh harus mempertahankan independensi total dari negara. Hanya serikat yang merdeka dan independen yang bisa membela kepentingan buruh, dan pada saat yang sama secara serentak membela pemerintah revolusioner melawan musuh-musuhnya.
Dua musuh kembar tersebut adalah oportunisme dan sektarianisme. Perang melawan oportunisme pada satu pihak adalah perang melawan korupsi, karirisme dan birokratisme, di pihak yang lain, perang melawan ide-ide asing yang merasuk ke dalam gerakan, dan terutama menyangkut bagian-bagian kepemimpinan, yang sudah bertekuk lutut kepada pengaruh reformisme dan meninggalkan garis revolusioner.
Apa artinya ini?
Dari sudut pandang kelas buruh dunia, pentingnya perkembangan- perkembangan di Venezuela adalah nyata. Sejak kejatuhan Uni Soviet, borjuis sudah mengorganisir suatu kampanye yang sangat hebat melawan ide-ide sosialisme dan Marxisme. Mereka dengan khidmat mendeklarasikan akhir komunisme dan sosialisme. Mereka sangatlah percaya diri sampai-sampai mereka mendeklarasikan akhir sejarah. Tetapi sejarah belumlah berakhir. Ia baru saja mulai.
Setelah satu setengah dasawarsa, buruh sedunia bisa melihat realitas kasar dari dominasi kapitalis. Mereka menjanjikan kedamaian dunia, demokrasi dan kemakmuran. Sekarang semua ilusi dari borjuis ini sedang berada dalam reruntuhan. Semakin banyak masyarakat menjadi sadar bahwa kapitalisme tidak memberikan masa depan bagi kemanusiaan.
Ada permulaan kebangkitan di mana-mana: buruh, petani, pemuda, sedang bergerak. Ide bahwa sosialisme dan revolusi adalah jauh dari agenda telah terbukti salah di dalam praktek. Revolusi sudah dimulai di Venezuela, dan sedang meluas ke seluruh Amerika Latin, seperti ketika sebongkah batu besar dilempar ke kolam. Gelombang dari revolusi di Venezuela sedang mulai dirasa di Eropa dan Amerika. Di Pakistan dan India, di Rusia dan Ukraina, rakyat sedang bertanya: apakah yang sedang terjadi di Venezuela dan apa artinya ini?
Tidaklah perlu untuk seratus persen setuju dengan Hugo Chávez, atau mengidealisasi Revolusi Bolivarian guna memahami signifikansi kolosal dari peristiwa-peristiwa ini. Di sini untuk pertama kalinya dalam beberapa dasawarsa, seorang pemimpin dunia yang penting telah memproklamasikan kebutuhan akan sosialisme dunia dan mengutuk kapitalisme sebagai perbudakan. Dia telah berbicara secara publik di depan jutaan rakyat tentang perlunya membaca Marx, Lenin, Rosa Luxemburg dan Trotsky.
Yang terpenting dari semua itu, Chávez telah memobilisasi jutaan buruh, petani, dan pemuda di bawah panji revolusi sosialis. Dan dia sedang mencoba untuk mengantarkan suatu program nasionalisasi yang, jika diselesaikan hingga akhir, akan menandai kemenangan revolusi sosialis di suatu negara kunci di Amerika Latin dan akan menyebarkan api revolusi ke seluruh benua dan di luarnya.
Pentingnya revolusi ini dimengerti oleh kaum imperialis, yang sedang mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghancurkan revolusi yang baru saja lahir. Mereka sedang mengerahkan kekuatan besar untuk menghancurkan revolusi Venezuela. Buruh di seluruh dunia harus mengerahkan kekuatan dari gerakan buruh internasional untuk menghentikan mereka.
Pertahankan Revolusi Venezuela!
Hidup Sosialisme!
Hands Off Venezuela!
Mexico City, Jumat 18 Mei 2007
*Diterjemahkan oleh Shane, diedit oleh Ted Sprague, 26 Juni 2007
Jumat, 18 Mei 2007
Berita tentang langkah besar nasionalisasi akan disambut dengan antusias oleh buruh di seluruh penjuru negara. Ini merepresentasikan suatu langkah besar bagi revolusi Venezuela dan pukulan yang serius terhadap kapitalisme dan imperialisme.
Pada hari Selasa tanggal 15 Mei, James Ingham koresponden BBC News di Caracas, mempublikasikan sebuah artikel yang berjudul Nationalisation sweep Venezuela, yang dimulai dengan:
"Para investor swasta dan kelompok oposisi menentangnya, dan para pendukung Presiden Hugo Chavez menginginkannya. Angin puyung nasionalisasi dan ancaman-ancaman untuk perusahaan-perusaha an swasta sedang mengubah iklim ekonomi Venezuela dan mengancam untuk melebarkan ketegangan sosial.
"Mr Chavez meningkatkan kampanyenya untuk mengubah Venezuela menjadi negara sosialis.
"Dia mengambil lebih banyak kendali terhadap aset-aset negara dan memperingatkan perusahaan-perusaha an yang tidak setuju dengan visinya bahwa ia akan mengambil alih perusahaan-perusaha an itu."
Dengan segera setelah memegang kekuasaan, Presiden mengumumkan program nasionalisasi secara luas: "Segala sesuatu yang dulu diprivatisasi akan dinasionalisasi, " katanya. Hingga saat ini, Chavez tetap memegang ucapannya itu.
Nasionalisasi minyak
Pada tanggal 1 Mei, Hari Buruh, perusahaan-perusaha an minyak swasta yang masih tersisa di negara itu diambil alih. Di sebuah upacara di pabrik pengolahan minyak Jose Oil, Presiden Chavez mengatakan kepada buruh yang bersorak-sorai: "Ini adalah nasionalisasi yang sesungguhnya dari sumber-sumber alam kita… Hari ini kita sedang mengakhiri suatu lingkaran setan."
Orinoco Belt Project, yang bertujuan untuk membangun salah satu cadangan minyak terbesar dunia, sebelumnya dikontrol oleh enam perusahaan asing: ConocoPhilips, Chevron dan Exxon Mobil dari Amerika, bekerjasama dengan BP dari Inggris, Statoil dari Norwegia dan Total dari Prancis. Monopoli besar asing ini sedang mempersiapkan keuntungan yang sangat besar dari proyek tersebut. Sekarang perusahaan minyak negara, PDVSA yang akan mengendalikan sekurang-kurangnya 60% dari proyek-proyek tersebut, dan keuntungan dari proyek-proyek itu akan dikembalikan ke Venezuela . Negosiasi masih berlangsung mengenai kelanjutan pemegang saham dan kemungkinan adanya kompensasi atas kilang-kilang minyak tersebut.
Dari sudut pandang sosialis, apakah hal ini diperbolehkan, yakni masuk ke dalam persetujuan dengan para kapitalis asing, atau dengan membayar kompensasi kepada perusahaan-perusaha an yang dinasionalisasi? Itu tergantung pada beberapa faktor. Di awal tahun 1920-an, Lenin siap memberikan kelonggaran bagi para kapitalis asing untuk membangun Siberia , yang pada saat itu Republik Soviet muda belum mampu menggarapnya. Bahkan ada beberapa negosiasi dengan kapitalis-kapitalis Amerika, yang sebagian besar diorganisir oleh pengusaha kaya Amerika, Arnold Hammer. Tetapi negosiasi-negosiasi tersebut sama sekali tidak menghasilkan apa-apa karena para imperialis hanya ingin menghancurkan negara Soviet, bukan berdagang dengannya.
Masalah kompensasi bukan juga merupakan masalah prinsip. Marx mengemukakan adanya kemungkinan untuk membeli seluruh saham kapitalis di Inggris. Trotsky juga pernah mengatakan bahwa di Amerika hal ini dimungkinkan untuk membayar kompensasi kepada para kapitalis dengan jaminan bahwa pabrik-pabrik tersebut diserahkan secara damai dan memperkecil kemungkinan adanya kerusuhan. Tetapi, apa yang tidak dibenarkan adalah ide para reformis untuk membeli perusahaan-perusaha an dengan harga pasar, yang akan menyebabkan seluruh ide mengenai nasionalisasi menjadi tidak mungkin. Satu slogan yang mungkin bisa dikemukan adalah: nasionalisasi dengan kompensasi minimum berdasarkan kebutuhan yang terbukti. Ini akan membayar dalam jumlah tertentu bagi para pemegang saham kecil tetapi sama sekali tidak bagi "kucing-kucing yang gemuk".
Venezuela hanya mempertimbangkan kesepakatan- kesepakatan berdasar pada nilai buku proyek-proyek tersebut, ketimbang berdasarkan nilai bersih mereka yang sangat besar saat ini. Secara prinsipal, ini akan lebih bisa diterima, karena Venezuela memiliki kekayaan yang cukup besar dan mampu membayar kompensasi – dengan syarat bahwa industri-industri tersebut diserahkan tanpa penundaan dan tidak dengan sabotase. Tetapi sangatlah diragukan apakah syarat-syarat ini akan diterima oleh imperialis dan perusahaan-perusaha an besar asing. Paling tidak, sumber-sumber pemerintah sudah mengatakan bahwa dalam beberapa kasus, kompensasi tidak akan diberikan sama sekali.
Koresponden BBC berkomentar sinis: "Ketika Chavez menyatakan pada acara penyerahan bahwa dia telah mengembalikan minyak kepada rakyat dan membebaskan Venezuela dari Imperialis Amerika Utara, para skeptis menyimaknya dengan kekhawatiran. Para analis memprediksikan bahwa PDVSA akan mengalami kesulitan untuk mengelola lading-ladang minyak yang sulit dikelola ini. Mereka mengatakan, tanpa pengalaman dan keahlian dari perusahaan-perusaha an swasta, produksi akan merosot."
Ini adalah lagu lama yang sering kita dengar! Kaum borjuis tidak akan pernah menerima kenyataan bahwa adalah mungkin untuk menjalankan roda ekonomi tanpa bantuan dari bankir swasta dan kapitalis. Tetapi sejarah berkata lain. Pengalaman Rencana Lima Tahun pertama di Uni Soviet tidak hanya membuktikan bahwa bahwa hal ini mungkin untuk menjalankan sebuah negara yang sangat besar tanpa campur tangan kapitalis, tetapi juga bahwa ekonomi yang terencana secara nasional, meskipun dijalankan secara birokratis, bisa memberikan hasil yang cemerlang.
Selama bertahun-tahun para propagandis modal dengan tekun menyebarkan mitos bahwa kapitalisme bekerja lebih baik daripada suatu sistem ekonomi yang terencana dan sebuah dongeng bahwa dalam jangka panjang kesuksesan pasar akan menyelesaikan semua masalah, yang dijawab oleh Keynes: pada akhirnya kita semua akan mati.'
Suatu contoh sejarah yang sederhana dengan segera akan menyangkal tesis utama dari kaum pro-market tersebut. Dalam Perang Dunia II, ketika tentara Hitler sedang menyapu Eropa, dan Inggris menemukan dirinya sendirian dan dengan punggung ke arah tembok, apa yang dilakukan kaum borjuis Inggris? Apakah mereka berkata: Kita harus meninggalkan segalanya kepada perusahaan swasta dan "tangan gaib pasar"? Tidak! Mereka memusatkan ekonomi, memperkenalkan elemen-elemen perencanaan, pendistribusian, pengendalian buruh, dan bahkan menasionalisasi industri-industri yang dibutuhkan untuk memproduksi kebutuhan perang. Kenapa mereka melakukan ini? Karena ini memberikan hasil yang lebih baik
Aplikasi ekonomi pasar di Amerika Latin merupakan petaka besar bagi massa , yang tidak memperoleh keuntungan dari pertumbuhan ekonomi satu dekade yang lalu, yang hanya memberi keuntungan besar bagi para bankir, kapitalis, dan terutama, monopoli raksasa asing seperti Exxon. Kekhawatiran dari para gentleman ini bukanlah bahwa rakyat Venezuela kurang ahli dalam mengolah ladang minyak, tetapi bahwa para pemilik Exxon akan dihilangkan keuntungan besarnya.
Bahkan koresponden BBC ini terpaksa mengakui bahwa langkah ini akan menolong bagian termiskin dari populasi di Venezuela, rakyat yang memilih Chavez dan yang menginginkan perubahan fundamental di dalam masyarakat.
"Rakyat miskin akan tertolong sepanjang semua keuntungan digunakan untuk kepentingan proyek-proyek sosial." Tetapi kemudian dia menambahkan catatan yang berbisa: "Tetapi ada kekawatiran bahwa langkah ini akan mengorbankan investasi jangka panjang dalam bisnis. Perusahaan-perusaha an multinasional tentu dapat tinggal sebagai partner minoritas, tetapi jika mereka tidak mendapat kesepakatan kompensasi yang menguntungkan, mereka akan pergi."
Ini sungguh memalukan! Monopoli-monopoli asing ini telah merampas kekayaan minyak Venezuela selama bergenerasi- generasi. Mereka telah menjarah sumber daya alam dalam jumlah yang besar dengan mengorbankan rakyat Venezuela . Hampir dari seluruh waktunya, mereka bahkan tidak membayar pajak. Sekarang, saat rakyat Venezuela sedang mengambil kembali sesuatu yang adalah miliknya, burung-buruh nasar yang gemuk dan yang manja ini meminta kompensasi. Seharusnya rakyat Venezuelalah yang harus meminta kompensasi dari perusahaan-perusaha an transnasional itu untuk seluruh kekayaan yang telah mereka rampok selama berpuluh-puluh tahun.
Perusahaan-perusaha an besar asing ini sedang menggunakan isu kompensasi untuk memeras Venezuela . Intinya mereka berkata: "Kamu tidak boleh menghentikan kami merampokmu. Ini hak kami dan kami bersikeras untuk meneruskannya. Jika kamu menolak, kami akan menggunakan seluruh otot kami untuk melakukan sabotase terhadapmu. Kami akan keluar dari Venezuela , membatalkan seluruh kontrak dan memutus seluruh investasi eksternal. Kami akan mengorganisir secara internasional untuk memboikot Venezuela . Kami akan meruntuhkanmu. Kami akan membiarkanmu kelaparan supaya kamu tunduk!"
Perusahaan selanjutnya yang ada di daftar nasionalisasi adalah perusahaan telekomunisasi utama Venezuela , CANTV, yang diprivatisasi pada tahun 1991. Semenjak privitasasi itu, perusahaan itu telah menghasilkan keuntungan yang besar bagi pemiliknya, tetapi pelayanannya tidak pernah sampai ke masyarakat paling miskin di negara itu. Kebanyakan rakyat miskin Venezuela menggunakan jaringan telpon dari kedai-kedai telepon yang dikendalikan oleh perusahaan telpon yang dipenuhi dengan stan-stan telpon, atau mereka menelpon dari kios-kios telpon yang ada di jalanan, dimana telpon-telpon genggam ditaruh pada sebuah meja dan para pengguna telpon membayar sewa telpon.
Dari bulan Juni, negara akan mengontrol perusahaan tersebut, merubahnya, dalam kata-kata Presiden Chavez, dari "perusahaan swasta kapitalis ke perusahaan sosialis yang dijalankan oleh negara". Antrian-antrian panjang rakyat yang sedang menunggu untuk menelpon rumahnya akan menjadi masa lalu. Chavez merencanakan untuk menginstal lebih dari sejuta saluran baru dan memotong biaya telepon. "Sebelum tahun 2011, setiap wilayah dengan lebih dari 500 penduduk akan memilki akses ke jaringan telepon," kata Chavez.
Perusahaan-perusaha an lainnya yang akan dinasionalisasi termasuk pemasok listrik utama negara, Electridad de Caracas. Pabrik-pabrik semen dan baja yang mengekspor mayoritas barang-barangnya telah diberitahu bahwa mereka akan diambil alih jika mereka tidak mulai menjual barang-barangnya ke rakyat Venezuela . Yang paling penting dari semua itu, adalah bank, yang berpikir dirinya bebas hingga sekarang, dihadapkan dengan nasionalisasi:
"Perbankan swasta harus memprioritaskan pembiayaan pada sektor-sektor industri Venezuela dengan biaya rendah," kata Chavez belum lama ini. "Jika bank-bank tersebut tidak setuju dengan hal ini, lebih baik mereka pergi, mereka harus menyerahkan bank-bank tersebut kepada saya, kami menasionalisasi dan mengambil bank-bank itu untuk bekerja demi membangun negara, dan bukan untuk spekulasi dan memperoleh keuntungan besar."
Bank-bank di Venezuela telah memperoleh keuntungan besar dalam periode terakhir ini. Majalah The Economist (8 Mei) berkomentar: "Mungkin sulit bagi bank-bank untuk protes atau melawan, terutama karena mereka sudah melaporkan pertumbuhan laba yang meningkat – hingga 33% di tahun 2006 – berkat meledaknya permintaan kredit domestik di tengah-tengah ekspansi ekonomi yang cepat (rata-rata lebih dari 12% dalam tiga tahun terakhir ini). Bahkan selain nasionalisasi, kabarnya pemerintah sedang berpikir untuk mengimplementasikan perbaikan-perbaikan di dalam sektor tersebut, yang mungkin termasuk suatu batasan pada keuntungan bank (kelebihannya untuk proyek-proyek sosial), dan kontrol langsung atas suku bunga dan alokasi kredit."
Bahkan jika Chavez menunda nasionalisasi atas bank-bank dan memperkenalkan kontrol seperti itu, ini akan membuat jalannya bank-bank tersebut di atas dasar kapitalis menjadi tidak mungkin dan maka dari itu akan berakhir dengan nasionalisasi. Nasionalisasi bank merupakan syarat mutlak jika Venezuela ingin putus dengan kapitalisme. Bank-bank merupakan instrumen esensial dari kebijakan ekonomi dan penggerak yang sangat kuat. Kontrol terhadap kredit merupakan elemen esensial di dalam sebuah ekonomi terencana sosialis, dan harus berada di tangan negara. Ini akan memungkinkan negara untuk mengalokasikan sumber-sumber dan investasi menurut kebutuhan masyarakat secara umum, bukan menurut keuntungan bagi segelintir para parasit yang kaya.
Masalah kelas
Mr. Ingham menyimpulkan reaksi terhadap pengumuman nasionalisasi tersebut: "Ini adalah saat yang menggelisahkan bagi para investor dan perusahaan-perusaha an swasta. Tetapi bagi berjuta-juta rakyat yang menyandarkan hidupnya pada presiden dan pertolongan finansialnya, mereka akan gembira karena uang tampak bergerak dari orang-orang kaya ke orang-orang miskin." Perkataan ini dari seorang musuh revolusi Bolivarian dan sosialisme cukup mengekspresikan realitas konflik kelas yang telah berkembang di Venezuela lebih dari satu dasawarsa dan sekarang telah sampai pada titik perubahan yang kritis. Masalah nasionalisi ada di pusat tahapan yang kritis ini, dan masa depan revolusi Bolivarian tergantung dari penyelesaian masalah ini.
Berita nasionalisasi ini diterima dengan sorak-sorai oleh para pekerja, petani, dan rakyat miskin Venezuela , yang berharap Chavez akan memenuhi janjinya untuk membuat revolusi Venezuela menjadi sebuah revolusi yang tidak dapat dibalikkan arahnya. Ini hanya dapat dilakukan dengan menantang secara langsung apa yang dinamakan dengan hak suci kepemilikan pribadi. Tanpa mengambil alih kekuatan ekonomi dari tangan kelas oligarki yang kontra revolusioner, revolusi Bolivarian tak akan pernah bisa memperoleh kemenangan dan segala sesuatu yang diperoleh dari revolusi tidak akan pernah langgeng.
Satu hal yang juga tidak mengejutkan adalah respon imperialis di setiap negara. Di sana sedang ada gonggongan protes dari semua pihak. Media massa penuh dengan cerita mengerikan tentang ancaman "diktator komunis" di Venezuela. Mereka mengabaikan detil kecil bahwa Presiden Hugo Chavez dalam 10 tahun terakhir ini menang dalam pemilihan, referendum, dan pemilihan-pemilihan umum lainnya lebih dari pemimpin politik manapun di dunia. Dalam pemilihan presiden Desember yang lalu Chavez menang dengan perolehan suara terbesar dalam sejarah Venezuela .
Para "demokrat" seperti George W. Bush dan Tony Blair hanya setuju dengan demokrasi selama demokrasi tidak mengancam kepentingan para bankir, tuan tanah, dan kapitalis. Tetapi ketika rakyat memilih sebuah pemerintah yang mencoba mengubah masyarakat dan mengancam kekayaan serta hak istemewa, dengan cepat sikap mereka berubah. Pada bulan April 2002, CIA merencanakan sebuah kudeta di Venezuela yang akan melantik seorang diktator berlumuran darah seperti Pinochet di Chile. Esok harinya, Washington mengakui pemerintah baru tersebut, yang dipimpin oleh seorang pengusaha, Carmona, yang sama sekali tidak pernah dipilih oleh siapapun. Inilah kredensial-kredensi al "demokratis" dari imperialisme Amerika.
Apa yang sebenarnya ditakuti oleh mereka adalah, bahwa untuk membawa revolusi Bolivarian maju ke depan, Hugo Chavez mulai mengambil tindakan tegas melawan kepemilikan pribadi, dengan menasionalisasi perusahaan-perusaha an dan tanah yang dimiliki oleh kaum oligarki Venezuela dan perusahaan-perusaha an transnasional asing yang besar. Mereka takut contoh ini akan diikuti di negara lain (ini sudah terjadi) dan bahwa buruh Eropa dan Amerika akan mulai menuntut langkah yang sama melawan perusahaan-perusaha an besar yang mengeksploitasi buruh-buruhnya guna merauk keuntungan yang besar, merusak lingkungan dengan tumpahan minyak dan pencemaran dalam bentuk lain dan menutup pabrik-pabrik seolah-seolah mereka hanyalah sebuah kotak korek api guna mengeruk keuntungan besar dengan merampok negara-negara miskin.
Hingar Bingar "kemerdekaan pers"
Yang benar-benar menjijikkan, khususnya, adalah reaksi Media Barat. Sementara saya sedang menulis artikel ini di Mexico City, televisi pada semua saluran sedang menyiarkan, setiap setengah jam, riuh protes mengenai tidak diperpanjangnya ijin siar RCTV, yang diberitakan sebagai serangan terhadap "kebebasan berekspresi" . Perusahaan yang sedang dibicarakan ini, selama bertahun-tahun, telah memuntahkan propaganda yang paling menjijikkan dan penuh dusta melawan pemerintah terpilih, termasuk serangan-serangan personal melawan presiden, yang difitnah berulang kali sebagai orang gila dan fitnah-fitnah lainnya yang lebih parah. RCTV telah berulangkali menyiarkan panggilan-panggilan untuk menggulingkan pemerintahan Venezuela dan membunuh presiden Chavez.
Ini bukanlah hanya beberapa kelompok jurnalis televisi yang tidak bersalah yang sedang berdiri untuk mempertahankan kebebasan. Sebaliknya, perusahaan ini telah lama menjadi pusat kontra revolusioner yang bersekongkol untuk mengganggu kestabilan dan mengguling pemerintah yang dipilih secara bebas oleh rakyat. Pada bulan April 2002, ia merupakan pusat riil dari usaha kudeta, meminta kepada rakyat Venezuela untuk mendukung kudeta tersebut, mengeluarkan berita palsu tentang pembantaian oleh pemerintah. Perusahaan ini menolak mentah-mentah untuk mengijinkan para menteri yang terpilih untuk menjelaskan diri mereka sendiri di televisi.
Dengan kata lain, RCTV merupakan salah satu instrumen penting untuk persiapan sebuah kup yang bermaksud melantik kediktaturan di Venezuela yang akan meminta korban jiwa yang tak terhitung jumlahnya. Ia merupakan salah satu instrumen oligarki dan CIA. Di negara lain manapun, stasiun tersebut sudah pasti akan ditutup sejak dulu dan para direkturnya sudah dibawa ke pengadilan. Di Venezuela tak seorang pun ditangkap – yang mana mereka seharusnya sudah ditangkap – dan stasiun TV tersebut sudah diijinkan untuk beroperasi sampai ijin siarnya kadaluwarsa. Pemerintah sungguh pantas menolak untuk memperpanjang ijinnya, yang mana secara sah mereka berhak melakukannya. Inilah kenyataannya. Oleh karena itu, seluruh kebisingan dan kemarahan yang dibangkitkan oleh pers yang menjijikkan ini mengenai apa yang dinamakan serangan atas kebebasan pers di Venezuela harus ditolak dengan jijik untuk kemunafikannya yang penuh dusta.
Apa yang dinamakan pers bebas dunia barat dalam kenyataannya merupakan milik pribadi segelintir orang-orang media super kaya seperti Rupert Murdoch. Jauh dari pejuang kebebasan berpendapat, kaum reaksioner yang keras ini merupakan juru bicara imperialis, bank dan monopoli besar. Mereka dengan tekun membela status quo, yaitu, suatu perbudakan rakyat seluruh dunia oleh segelintir parasit-parasit kaya. Mereka adalah musuh-musuh yang paling keras dari kemerdekan dan kemajuan dimana-mana.
Buruh di seluruh dunia tidak akan bisa dikelabui oleh kampanye yang bersuara nyaring di media ini. Mereka akan mengerti bahwa apa yang dipertaruhkan adalah perjuangan hidup-dan-mati antara kelas-kelas yang bertentangan, yang sedang terjadi pada skala dunia. Mereka dengan segera akan memahami fakta bahwa pers pengecut ini, yang secara sistematis berdusta dan memfitnah para buruh setiap kali mereka mogok untuk membela kepentingannya melawan bos-bos, mempunyai alasan tersendiri untuk menyerang Chavez dan Venezuela, dan bahwa alasan-alasan ini tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang tertulis di koran-koran mereka.
Revolusi Amerika Latin
Di seluruh Amerika Latin, massa sedang berkobar. Di Ekuador, kita mempunyai pemilihan Rafael Correa, yang disebut-sebut memodelkan dirinya seperti Chavez. Dia terkunci dalam sebuah konflik dengan Kongres dan memilki dukungan lebih dari 80% rakyat. Di Bolivia, Evo Morales, yang terinspirasi oleh nasionalisasi di Venezuela , sedang mengangkat masalah nasionalisasi sumber-sumber alam milik Negara:
"Pemerintah- pemerintah neo-liberal sudah menyerahkan secara gratis konsesi-konsesi atas bukit-bukit, sungai-sungai, dan tambang-tambang. Kita harus mulai mengambil kembali konsesi-konsesi tersebut," kata Morales sebelum memulai proses nasionalisasi industri gas. Sebagaimana di Venezuela, pemerintah Bolivia dihadapkan dengan perlawanan sengit dari oligarki, dengan Washington dan perusahaan-perusaha an transnasional di belakangnya. Koresponden BBC di Caracas mengekspresikan ketakutan imperialis ini:
"Perubahan-perubaha n di Venezuela sedang direfleksikan di tempat lain di Amereika Latin. Sekutu-sekutu Chavez di Bolivia dan Equador sedang membuat gerakan-gerakan yang sama."
Di Bolivia, perusahaan energi negara YPFB mengatakan bahwa mereka akan mengontrol produksi dan pemasaran minyak dan gas alam di negara tersebut. Dalam sambutannya di peringatan May Day tahun ini, Morales berjanji untuk mengambil kontrol yang lebih besar terhadap ekonomi dari perusahaan-perusaha an asing:
"Kawan-kawanku, jika kita benar-benar ingin hidup di Bolivia yang bermartabat maka kita harus mengambil jalan anti-imperialisme, anti-liberalisme dan anti-kolonialisme, " kata Morales.
Pemerintahan Bolivia berharap untuk menyelesaikan nasionalisasi perusahaan telkom sebelum May Day, tetapi pembicaraan dengan Telecom Italia – yang memiliki separuh perusahaan telkom terbesar itu – terhenti untuk saat ini. Telcom Italia mengatakan minggu lalu bahwa ia berpikir untuk mencari arbitrasi internasional atas penjualan Entel setelah Bolivia mengeluarkan dua keputusan yang bertujuan menasionalisasi kembali perusahaan tersebut. Demikian, para imperialis menggunakan berbagai macam trik dan manuver guna menggagalkan keinginan rakyat dan menyabotase usaha mereka untuk memperoleh kembali kontrol atas sumber-sumber daya alam mereka. Tetapi gerakan untuk nasionalisasi tetap berkembang, mendapatkan dorongan dari rakyat Venezuela . Ini dilihat oleh Washington sebagai suatu usaha oleh Chavez untuk mengekspor revolusi.
Peluncuran Telesur, saluran televisi seluruh Amerika Latin yang disiarkan dari Caracas untuk jutaan rakyat di seluruh penjuru benua dan di luar itu, merupakan respon langsung terhadap kontrol atas siaran televisi yang digunakan imperialis Amerika melalui CNN. Chavez juga sudah mengatakan bahwa dia ingin mengeluarkan Venezuela dari IMF dan Bank Dunia.
Presiden Chavez mengatakan bahwa dia sudah memerintahkan Menteri Keuangan, Rodrigo Cabezas, untuk memulai kerja formal guna menarik diri dari dua lembaga internasional tersebut. Presiden Chavez telah mengutarakan keinginannya untuk mendirikan apa dia yang dinamakan Bank of the South, yang disokong oleh penghasilan minyak Venezuela , yang akan membiayai proyek-proyek di Amerika Selatan. Langkah ini juga akan dipandang sebagai ancaman terhadap cengkraman yang dimiliki oleh imperialisme terhadap benua Amerika Latin melalui institusi-institusi finansial ini (baca IMF dan Bank Dunia). Contoh diatas mudah menjalar. Di Nikaragua, Ortega telah berkata dia sedang melakukan negosiasi dengan IMF "untuk meninggalkan IMF" dan bahwa dia berharap untuk "keluar dari penjara" hutang IMF.
Para ahli strategi imperialis mencapai kesimpulan yang sama sebagaimana seorang Marxis: Kondisi-kondisi sudahlah matang untuk sebuah gerakan revolusioner secara umum di Amerika Latin yang akan memilki konsekuensi yang sangat besar di Amerika dan pada skala dunia. Pusat gerakan revolusioner tersebut ada di Venezuela, dimana, setelah satu dasawarsa perjuangan, revolusi sedang mencapai titik yang tak dapat dibalik.
Di sini di Mexico , kebijakan-kebijakan yang diumumkan oleh Chavez sudah melemahkan kelas penguasa, yang telah dihadapkan dengan sebuah pemberontakan massa yang tak ada henti-hentinya sejak kecurangannya dalam pemilihan tahun lalu. Seorang kawan dari Mexico berkata kepadaku: "Ini benar-benar mengejutkan. Mereka sedang menyerang pemerintahan Chavez setiap setengah jam pada seluruh saluran dan membela hak-hak jurnalis Venezuela , seolah-olah mereka sedang berbicara mengenai kejadian di Mexico ." Kata-kata ini masuk ke inti persoalan. Dari pihak imperialis dan antek-anteknya di Amerika Latin, ada alasan yang sangat kuat bagi kegarangan serangan-serangan melawan Venezuela itu. Mereka mempunyai alasan yang tepat untuk takut bahwa revolusi Venezuela tidak akan berhenti di perbatasan Venezeula, tetapi akan menyebar ke negara lain. Nasionalisasi- nasionalisasi baru-baru ini memberikan suatu contoh yang ingin diikuti oleh negara-negara lain. Ini mengakibatkan alarm di koridor kekuasaan dari Washington ke Mexico city dan sekitarnya berdering.
Di sini di Mexico , Calderon menduduki jabatannya sebagai presiden melalui kecurangan dalam pemilihan tahun lalu, setelah protes rakyat secara besar-besaran yang melibatkan jutaan buruh dan petani. Pada tanggal 31 Juli, tiga juta rakyat turun ke jalan menuntut pengakuan kandidat PRD Lopez Obrador sebagai presiden terpilih. Di Oaxaca, ada pemberontakan yang bertahan selama berbulan-bulan, termasuk pendirian soviet-soviet (APPO), milisi rakyat, dan pengambilalihan televisi.
Pemberontakan Oaxaca dihancurkan dengan kekerasan yang brutal dan tak diketahui jumlah yang dibunuh oleh pasukan keamanan. Tentu saja tidak ada satu kata pun tentang ini di "pers bebas" kita, yang hanya berteriak tentang "kediktatoran" ketika kepentingan kaum kaya terancam. Setiap orang di Mexico tahu bahwa Lopez telah memenangkan pemilihan dan Calderon secara demokratis tidak terpilih. Tetapi Washington dan London mengakui Calderon dan sedang mencoba dengan segala cara untuk tetap menjaga kekuasaannya, meskipun mereka tidak akan berhasil.
Gerakan di Mexico belumlah berhenti. Ia baru saja mulai. Pada tanggal 2 Mei terjadi pemogokan umum yang memperoleh dimensi yang sangat besar. Sebuah komite pemogokan nasional sudah dipersiapkan untuk mengorganisir pemogokan umum yang lain. Ada suatu gelora di serikat-serikat buruh, dimana pemimpin-pemimpin sayap kanan "charro" dikalahkan oleh anggota-anggotanya secara konsisten. Seluruh situasi disini siap meledak. Adakah sesuatu yang mengherankan bila kelas penguasa Mexico , dan majikan-majikannya di Washington, takut dengan apa yang sedang terjadi di Venezuela ?
Akan tetapi, opsi-opsi dari imperialisme di Venezuela saat ini adalah sangatlah terbatas. Imperialisme Amerika, dengan seluruh kekayaan dan kekuatan militernya, menemukan dirinya dalam keadaan lumpuh. Di masa lalu mereka sudah akan mengintervensi langsung, dengan mengirim pasukan Marinir. Tetapi ini tidak mungkin untuk saat sekarang ini. Mereka terlibat dalam perang di Irak yang tidak popular dan yang tidak dapat dimenangkannya. Saat ini Bush adalah presiden yang paling tidak disukai di dalam sejarah Amerika. Oposisi terhadap perang Irak sedang berkembang pada semua level. Adalah tidak terpikirkan bila bahkan orang yang tolol seperti Bush akan melancarkan serangan militer ke Amerika Latin pada saat ini.
Tersisa opsi pembunuhan, yang pasti telah dipersiapkan oleh CIA cukup lama. Tetapi bahkan opsi ini mengandung resiko serius bagi imperialisme Amerika. Ini akan menyebabkan gelombang kemarahan di Amerika Latin dan di seluruh dunia, di mulai dari Venezuela , yang mana akibat pertamanya adalah pemutusan suplai minyak ke Amerika. Ini akan menyebabkan gelombang kemarahan dan reaksi di seluruh benua tersebut. Kemungkinan, tidak akan ada satupun kedutaan Amerika yang tersisa di kawasan tersebut. Kebencian terhadap Amerika akan bertahan selama bergenerasi- generasi dan mengakibatkan pemberontakan- pemberontakan dan ledakan-ledakan sosial selanjutnya.
"Appetite comes with eating"
Ada peribahasa kuno: "appetite comes with eating" (nafsu makan datang dari makanan). Jumlah buruh di Venezuela yang sedang menuntut kontrol buruh dan nasionalisasi semakin bertambah. Hal ini terjadi di Inveval, dimana buruh telah mengambil alih pabrik dan menjalankannya dengan sukses di bawah kontrol buruh. Hal yang sama terjadi di Sanitarios Maracay , seperti yang telah kita laporkan dalam artikel sebelumnya. Pabrik-pabrik ini dan yang lainnya telah mengorganisir Freteco, front pendudukan pabrik, yang sedang meluaskan pengaruhnya dan meningkatkan kampanye untuk nasionalisasi. Pernyataan-pernyata an Presiden Chavez akan memberikan dorongan baru bagi gerakan ini.
SIDOR adalah pabrik baja terbesar di kawasan Andean dengan kapasitas 4.2 juta ton per tahun. SIDOR memproduksi kawat dan pipa, termasuk berbagai jenis pipa yang dibutuhkan industri nasional Venezuela, dan menurut laporan perusahaan tersebut, 63% dari produksi ditujukan untuk pasar Venezuela dan 37% untuk ekspor.
Perusahaan ini merupakan perusahaan milik negara sejak berdirinya di tahun 1962 hingga 1998 ketika perusahaan itu diprivatisasi. 60 persen sahamnya diperoleh oleh suatu konsorsium yang bernama Amazonia, yang terdiri dari perusahaan Argentina Techint sebagai partner mayoritas, juga Hylsamex dari Mexico, Uniminas dari Brazil, dan perusahaan Venezuela, Sivensa sebagai partner minoritas. Pemerintah Venezuela menguasai 20 persen saham dan sisa 20 persen diberikan kepada buruh pabrik.
Chris Carlson melaporkan dalam Venezuelanalysis. com bahwa pada tanggal 9 Mei para pekerja di Mérida mengadakan protes di luar pabrik baja SIDOR di Puerto Ordaz, menuntut pemerintah menasionalisasi perusahaan itu. Pekerja-pekerja dari serikat buruh SIDOR berkumpul di luar pabrik kemarin, memblokir jalan, menghalangi pintu masuk pabrik sejak pagi hari.
Chávez telah memperingatkan bahwa ia akan menasionalisasi perusahaan tersebut jika mereka tidak memenuhi kebutuhan industri domestik dan tetap mengekspor ke pelanggan asing, walaupun untuk saat ini perusahaan tersebut tampaknya masih akan berada di tangan swasta.
"Sebagai buruh kita meminta suatu jawaban yang pasti mengenai situasi ini," kata Ulmaro Ramos, sekretaris serikat buruh SIDOR, pada stasiun radio lokal. Seorang jurubicara serikat buruh menyatakan bahwa buruh mendukung niat presiden untuk menasionalisasi perusahaan tersebut.
"Kita mendukung maklumat presiden tentang kemungkinan untuk membebaskan perusahaan ini yang telah diperbudak kapitalisme neo-liberal selama 8 tahun terakhir," kata José Meléndez, anggota serikat buruh Alianza Sindical de Sidor. Meléndez berkata bahwa ketika pabrik tersebut diprivatisasi, ada 11,600 karyawan dan sekarang hanya ada 5,700 buruh yang "dieksploitasi tanpa sedikitpun memperoleh keuntungan."
"Kita tidak terpecahkan dan kita dengan sepenuhnya setuju bahwa presiden perlu mengendalikan perusahaan ini agar secepatnya dapat dialihkan ke kontrol oleh buruh," kata Meléndez
Sekarang apa?
Chávez telah menunjukkan bahwa adalah mungkin bagi para pejuang revolusioner untuk menggunakan institusi demokrasi formal borjuis guna mengerahkan massa untuk perubahan. Dia telah menjalankan suatu kebijakan cerdas yang sudah memungkinkan dia untuk memenangkan banyak pemilihan, mendasarkan dirinya pada suatu program tuntutan-tuntutan yang demokratis revolusioner dan perubahan-perubahan yang tidak melewati batasan kapitalisme tetapi menyatukan dan mengorganisir berjuta-juta buruh dan petani untuk mengubah masyarakat.
Kemenangan-kemenang an ini sudah melemahkan semangat dan mendemobilisasi kekuatan-kekuatan kontra-revolusioner . Kelompok oposisi, yang berusaha keras mengerahkan kekuatannya untuk mengusir Chávez pada bulan Desember, kini terpecah-pecah secara menyedihkan dan mengalami disorientasi. Mood sayap kanan saat ini sedang tertekan dan merasa kalah. Sekarang, kelompok oposisi tidak memiliki wakil di Majelis Nasional sebagai hasil dari keputusan mereka untuk memboikot pemilihan tahun 2005. Kemenangan telak Chávez's (yang bahkan pengamat borjuis internasional tidak berani mempertanyakan) memberinya suatu tangan yang sangat kuat untuk terus maju dengan sebuah program sosialis. Dia hanya melakukan itu, dan dia harus diberi pujian atas hal ini.
Akan tetapi, Revolusi ini masih belum melewati titik kritis dimana kuantitas menjadi kualitas. Kekuatan-kekuatan yang besar sedang berusaha untuk menghentikan Revolusi ini dan melemahkannya dan menyabotasenya dari dalam. Kekuatan kontrarevolusioner borjuis terlalu lemah untuk melakukan tugas ini. Ini sedang dilaksanakan oleh kaum birokrasi Bolivarian – sayap kanan yang merepresentasikan Fifth Column dari kontrarevolusi dari dalam Gerakan Bolivarian ini, dan secara konsisten bekerja untuk mengisolasi Presiden dan menyabotase keputusan-keputusan nya.
Venezuela masih belum memutuskan hubungan dengan kapitalisme tetapi berdiri di posisi separuh jalan yang mengkhawatirkan. Ada bahaya yang sangat besar di sini. Adalah mustahil untuk membuat sebuah revolusi yang setengah-setengah. Bahaya ini adalah bahwa, dengan memperkenalkan beberapa langkah nasionalisasi dan perubahan progresif lain, Chávez akan membuat operasi kapitalisme menjadi mustahil, tanpa meletakkan mekanisme-mekanisme perencanaan dan pengendalian yang merupakan kondisi awal bagi suatu sistem ekonomi sosialis.
Sedang ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan yang menunjukkan bahwa tidak semuanya sehat di dalam ekonomi. Inflasi sedang meningkat, yang mana akan memukul kaum yang termiskin dengan sangat keras, dan kekurangan-kekurang an produk sedang bermunculan pada tingkat yang berbeda-beda. Kapitalis sedang merespon dengan menghentikan modal dan ada perluasan sabotase, korupsi dan halangan birokratis. Majalah The Economist berkomentar:
"Dengan pendapatan yang besar dari ekspor minyak dalam tahun-tahun terakhir ini – hasil minyak menghasilkan hampir 59 milliar US$ di tahun 2006 – dan membengkaknya cadangan valuta asing, administrasi Chávez mempunyai dana untuk dibelanjakan. Akan tetapi, manakala dikombinasikan dengan pengeluaran belanja lainnya, khususnya program-program dan subsisi-subsidi sosial yang mahal, ini akan menambah tekanan lebih lanjut terhadap defisit anggaran yang telah melebar. Defisit ini setara dengan 1.8% GDP di tahun 2006, dan Economist Intelligence Unit memproyeksikan defisit ini akan berkembang menjadi 4.9% GDP tahun ini. (Keadaan fiskal yang sebenarnya lebih buruk, karena beberapa pengeluaran disalurkan off-budget via perusahaan minyak milik negara dan dana pembangunan nasional). Pertumbuhan GDP sendiri sedang melambat – mencapai 5.8% tahun ini dan 3.2% di tahun 2008, menurut ramalan kami.
"Radikalisasi kebijakan di bawah pemerintahan Chávez, yang dikombinasikan dengan tanda-tanda pertumbuhan ekonomi yang tertekan – yang terbukti tidak hanya oleh pemburukan keuangan publik dan pertumbuhan yang lambat tetapi juga inflasi double-digit, yang paling tinggi di Amerika Latin – sedang membangitkan semakin banyak rasa takut diantara para investor. Indeks pasar bursa Caracas tengah merosot beberapa hari terakhir ini. Penanaman modal-langsung swasta juga telah mengalami kemunduran dalam beberapa tahun, dan tren ini mungkin akan memburuk sejak Januari. Penanaman modal-langsung asing adalah negatif tahun lalu. Pengurangan investasi akan semakin menurunkan pertumbuhan GDP melebihi term medium
"Dan lagi, premi yang dibayar untuk transaksi dolar pada pasar gelap tengah meningkat, dengan melemahnya mata uang bolívar sampai sekitar Bs3,950:US$1 (dibandingkan dengan kurs ofisial yang telah dipatok Bs2,150:US$1) , mendekati poin yang rendah pada bulan Januari sekitar Bs4,000:US$1. Ini akan meningkatkan tekanan pada pemerintah untuk mendevaluasi kurs ofisial, meskipun pemerintah akan ragu untuk melakukan hal itu, mengingat inflasi tahunan yang mendekati angka 20%."
Kita menyambut dengan antusias langkah-langkah nasionalisasi. Pada saat yang sama, kita harus meminta dengan tegas bahwa nasionalisasi itu harus berjalan bergandengan dengan kontrol dan manajemen buruh yang benar-benar demokratis. Roda ekonomi harus dijalankan oleh buruh untuk buruh dan langkah-langkah harus diambil untuk menghentikan kaum birokrat mengambil kontrol.
.
Kita juga harus menunjukkan bahwa pada tahap ini, proses revolusi masih belumlah selesai. Samasekali tidak benar pandangan, yang seperti para birokrat dan reformis katakan, bahwa kita harus maju pelan-pelan dan secara berangsur-angsur agar tidak menggusarkan kaum borjuis dan memprovokasi imperialisme. Kaum borjuis telah cukup terganggu dan imperialis lebih dari itu.
Dengan menunda konflik yang tak terelakkan antara kelas-kelas, kita hanya akan memberikan waktu bagi kekuatan kontrarevolusioner untuk menyusun kembali dan mengorganisir rencana-rencana baru melawan revolusi. Lebih serius lagi, membiarkan kapitalis untuk melanjutkan sabotasenya, menciptakan kelangkaan barang secara artifisial dan mengacaukan produksi, ada bahaya bahwa massa akan menjadi lelah oleh kekurangan-kekurang an barang dan jatuh ke sikap apatis dan acuh tak acuh. Inilah yang benar-benar diingini oleh kelompok reaksioner. Segera setelah keseimbangan dari kekuatan-kekuatan itu mulai bergerak melawan revolusi, kelompok kontrarevolusioner akan menyerang lagi. Dan mereka memilliki banyak sekutu-sekutu terselubung di dalam kepemimpinan Gerakan Bolivarian yang ingin menghentikan revolusi dan sedang menunggu kesempatan untuk berbalik melawan Presiden. Bahaya ini masih ada. Oleh karena itu, kita harus bertindak dengan cepat untuk menyelesaikan masalah-masalah ini sampai pada akar-akarnya.
Perjuangan melawan birokrasi
Nasib akhir dari Revolusi Bolivarian akan ditentukan oleh suatu perjuangan internal untuk membersihkan gerakan dari elemen-elemen kelas yang asing dan mengubahnya ke dalam suatu instrumen yang siap untuk merubah masyarakat. Peluncuran Partai Persatuan Sosialis (PSUV) memberikan para buruh revolusioner, para petani, dan pemuda satu kemungkinan untuk melakukan hal ini. Mereka harus memperkuat partai tersebut dan merekrut lapisan-lapisan revolusioner baru dari massa dan mengabdi sepenuhnya kepada sosialisme. Mereka harus menyingkapkan dan mengusir elemen-elemen korup, pengejar karir, dan para birokrat yang ikut pergerakan hanya untuk kepentingan mereka sendiri dan akan berkhianat segera setelah ada kesempatan.
Partai baru ini bisa menjadi partai buruh revolusioner sejati hanya jika ia sangat demokratis. Anggota-anggota partai tersebut haruslah memutuskan semua permasalahan dan kepemimpinan harus dipilih, dapat diberhentikan dan terdiri dari elemen-elemen yang terbukti kejujurannya dan dedikasinya terhadap sosialisme dan kelas buruh.
Serikat-serikat buruh adalah unsur kunci yang lain dalam perumusan ini. Kaum Marxis berjuang untuk kesatuan serikat buruh, dan pada saat yang sama berjuang untuk gerakan serikat buruh yang demokratis militan. Serikat-serikat buruh harus memberi dukungan kepada pada langkah-langkah progresif pemerintah, terutama nasionalisasi, dan berjuang untuk memperluas semua langkah-langkah yang meningkatkan standar hidup rakyat dan memukul kaum oligarki. Tetapi serikat-serikat buruh harus mempertahankan independensi total dari negara. Hanya serikat yang merdeka dan independen yang bisa membela kepentingan buruh, dan pada saat yang sama secara serentak membela pemerintah revolusioner melawan musuh-musuhnya.
Dua musuh kembar tersebut adalah oportunisme dan sektarianisme. Perang melawan oportunisme pada satu pihak adalah perang melawan korupsi, karirisme dan birokratisme, di pihak yang lain, perang melawan ide-ide asing yang merasuk ke dalam gerakan, dan terutama menyangkut bagian-bagian kepemimpinan, yang sudah bertekuk lutut kepada pengaruh reformisme dan meninggalkan garis revolusioner.
Apa artinya ini?
Dari sudut pandang kelas buruh dunia, pentingnya perkembangan- perkembangan di Venezuela adalah nyata. Sejak kejatuhan Uni Soviet, borjuis sudah mengorganisir suatu kampanye yang sangat hebat melawan ide-ide sosialisme dan Marxisme. Mereka dengan khidmat mendeklarasikan akhir komunisme dan sosialisme. Mereka sangatlah percaya diri sampai-sampai mereka mendeklarasikan akhir sejarah. Tetapi sejarah belumlah berakhir. Ia baru saja mulai.
Setelah satu setengah dasawarsa, buruh sedunia bisa melihat realitas kasar dari dominasi kapitalis. Mereka menjanjikan kedamaian dunia, demokrasi dan kemakmuran. Sekarang semua ilusi dari borjuis ini sedang berada dalam reruntuhan. Semakin banyak masyarakat menjadi sadar bahwa kapitalisme tidak memberikan masa depan bagi kemanusiaan.
Ada permulaan kebangkitan di mana-mana: buruh, petani, pemuda, sedang bergerak. Ide bahwa sosialisme dan revolusi adalah jauh dari agenda telah terbukti salah di dalam praktek. Revolusi sudah dimulai di Venezuela, dan sedang meluas ke seluruh Amerika Latin, seperti ketika sebongkah batu besar dilempar ke kolam. Gelombang dari revolusi di Venezuela sedang mulai dirasa di Eropa dan Amerika. Di Pakistan dan India, di Rusia dan Ukraina, rakyat sedang bertanya: apakah yang sedang terjadi di Venezuela dan apa artinya ini?
Tidaklah perlu untuk seratus persen setuju dengan Hugo Chávez, atau mengidealisasi Revolusi Bolivarian guna memahami signifikansi kolosal dari peristiwa-peristiwa ini. Di sini untuk pertama kalinya dalam beberapa dasawarsa, seorang pemimpin dunia yang penting telah memproklamasikan kebutuhan akan sosialisme dunia dan mengutuk kapitalisme sebagai perbudakan. Dia telah berbicara secara publik di depan jutaan rakyat tentang perlunya membaca Marx, Lenin, Rosa Luxemburg dan Trotsky.
Yang terpenting dari semua itu, Chávez telah memobilisasi jutaan buruh, petani, dan pemuda di bawah panji revolusi sosialis. Dan dia sedang mencoba untuk mengantarkan suatu program nasionalisasi yang, jika diselesaikan hingga akhir, akan menandai kemenangan revolusi sosialis di suatu negara kunci di Amerika Latin dan akan menyebarkan api revolusi ke seluruh benua dan di luarnya.
Pentingnya revolusi ini dimengerti oleh kaum imperialis, yang sedang mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghancurkan revolusi yang baru saja lahir. Mereka sedang mengerahkan kekuatan besar untuk menghancurkan revolusi Venezuela. Buruh di seluruh dunia harus mengerahkan kekuatan dari gerakan buruh internasional untuk menghentikan mereka.
Pertahankan Revolusi Venezuela!
Hidup Sosialisme!
Hands Off Venezuela!
Mexico City, Jumat 18 Mei 2007
*Diterjemahkan oleh Shane, diedit oleh Ted Sprague, 26 Juni 2007
28/05/2007
Venezuela: Revolusi Kini Bermakna Partisipasi

Zely Ariane
Judul Buku: Memahami Revolusi Venezuela, Perbincangan Hugo Chávez dengan Martha Harnecker
Penerbit: Aliansi Muda Progressif (AMP) dan Institut for Global Justice (IGJ)
Februari 2007
dari "Teropong, Pikiran Rakyat, 21 Mei 2007" http://www.pikiran-rakyat.co.id/cetak/2007/052007/21/teropong/lainnya05.htm
Chávez memahami bahwa rakyat memujanya, namun ia ingin mengubah cinta itu menjadi organisasi … Menurutnya, hanya revolusi lah yang dapat membawa Venezuela keluar dari krisis… (Hal. 18)
Sejak tahun 1998, teori revolusi mendapatkan arena pengujian baru di Venezuela. Sebuah arena dimana jalan damai dan demokrasi dipilih menjadi aturan main utamanya. Sebuah revolusi damai tak berarti kompromi terhadap pengambilalihan (baca: kontrol) sumber-sumber kekayaan negeri dari dominasi asing demi distribusi pendapatan yang lebih adil dan peningkatan produktivitas rakyat. Demokrasi tak berhenti pada putaran-putaran elektoral semu tanpa partisipasi riil rakyat, melalui organisasi-organisasinya; kelompok-kelompoknya; pikiran-pikiran dan kehendaknya. Setidaknya dua gagasan pokok itulah yang dapat saya simpulkan setelah menyelesaikan buku ini.
Revolusi yang semakin terdistorsi maknanya pasca kejatuhan Uni Sovyet dan keruntuhan tembok Berlin 18 tahun lalu, bagi banyak orang sudah dianggap usang. Namun oleh Hugo Chávez Fríaz, Presiden Republik Bolivarian Venezuela, ditegaskan kembali dengan pilihan metode yang sangat mengesankan: demokrasi. Tidak ada satupun negeri demokratis di dunia ini (pun Amerika Serikat) yang pemerintah berkuasa dan berbagai kebijakannya dilegitimasi hingga delapan (8) kali melalui referendum—tak berhenti pada mekanisme perwakilan.
‘Memahami Revolusi Venezuela’ mencoba mengajak kita lebih kritis terhadap tata kehidupan dunia saat ini, bahwa sebuah dunia baru tak mustahil jika kita aktif membangunnya. Buku ini juga menelanjangi berbagai kelemahan dan kesulitan yang dihadapi oleh aparatus pemerintah pro revolusi di tengah ancaman dan sabotase bertubi-tubi dari kelompok oposisi (Bab III dan IV); media-media massa raksasa (Bab VI); dan tentu saja, Amerika Serikat, penopang kepentingan modal terbesar di dunia (Bab V). Padahal jalan kekerasan bisa saja menjadi opsi untuk mengatasinya, namun tokh, kebangkitan partisipasi rakyat melalui berbagai organisasinya, adalah jalan yang sudah terbukti lebih ampuh di tahun 2002 (mengembalikan Chávez dari kudeta oposisi—hal 211) dan 2004 (mengalahkan referendum pemecatan).
Banyak pemberitaan menuduh pemerintah Chávez sebagai diktator militer (karena Chávez dan penopang utama revolusinya adalah tentara), namun tak banyak bukti yang bisa mendukungnya. Tak ada media yang dibredel (kecuali peghentian izin siaran stasiun RCTV yang memang terbukti terlibat kudeta 11 April 2002); organisasi rakyat malah dipromosikan; referendum berulang-ulang; Trias Politica, sebagai pilar demokrasi modern bahkan ditambah dua (Pemilihan Umum dan Warga Negara) menjadi Penta Politica.
Buku ini, oleh Martha Harnecker, tampaknya bukan ditujukan untuk kalangan awam. Seperti yang telah saya sebutkan, bahwa ia bermanfaat bagi para pekerja dan pemikir sosial politik (intelektual, mahasiswa, aktivis, pengajar, politisi, anggota partai, sejarawan, dan seterusnya) yang jujur dan resah terhadap realitas kehidupan mayoritas rakyat yang sengsara akibat kemiskinan struktural yang berkepanjangan. Secara tak langsung Martha juga hendak mengungkapkan bahwa Chávez adalah kunci dalam memahami Revolusi Venezuela.
Revolusi ini memberikan sebuah pilihan jalan keluar melawan dikte kebijakan pro neoliberal. Melalui jalan damai dan demokratis, Venezuela membuat mungkin apa yang tidak mungkin bagi banyak orang: mengambil alih industri migas; membangun industri pokok di bawah kontrol buruh; mendistribusi kekayaan negeri; mengorganisasikan kekuatan rakyat miskin; melakukan referendum; melunasi utang luar negeri; memutus hubungan dengan IMF; dan seterusnya, dan seterusnya.
Tentu saja revolusi jenis ini akan memanen kontroversi di berbagai kalangan yang turut mengimani teori revolusi. Tapi, tak ada pakem dalam revolusi, kecuali bahwa ia merupakan transformasi yang tidak setengah-setengah (menyeluruh) serta berakar pada realitas (hal 70), tidak hanya di dalam ruang-ruang ide yang bisu di hadapan realitas. Revolusi oleh rakyat Venezuela kini dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk dapat merubah nasib, sehingga mereka berbondong-bondong mempertahankannya. Revolusi kini bermakna partisipasi; kebangkitan rakyat yang menolak menjadi kuli dan semata-mata dinilai lewat kertas suara. Kini mereka berhendak mengatur negerinya dengan tangan-tangannya sendiri, melalui konstitusi yang mereka tentukan sendiri. “Kami tidak boleh melakukan kesalahan dengan mengambil kekuasaan dari rakyat, sumber dimana kami memperoleh kekuasaan” (hal. 71), pernyataan Chávez ini saya pikir adalah kunci dalam memahami revolusi untuk merubah dunia saat ini. ***
Subscribe to:
Posts (Atom)