25/03/2006

Misi Baru di Venezuela: Misi bagi Kaum Ibu Miskin

Venezuela Mengumumkan Misi Baru: Misi bagi Ibu Miskin
Sabtu, 25 Maret 2006

oleh: Simone Baribeau
sumber Venezuelanalysis.com


Caracas, Venezuela, 24 Maret 2006

Disebuah negara dimana aborsi illegal dan tingkat kemiskinan serta kehamilan remaja putri amat tinggi, pemerintah Venezuela mengumumkan dimulainya sebuah program sosial baru, Misión Madres del Barrio (Misi kaum Ibu perkampungan kumuh).

“Ini adalah misi yang amat penting…dan semakin cepat mereka memulainya maka akan semakin baik” ujar Delvalle Rodriguez, seorang ibu rumah tangga dan ibu dari tujuh orang anak yang tinggal di La Bandera, perkampungan kumuh di selatan Caracas.

Misi ini akan memiliki 3 (tiga) fokus: menurunkan penggunaan narkoba diantara kaum muda, mengurangi kehamilan remaja putri [yang tidak diinginkan], dan menawarkan bantuan bagi para Ibu yang hidup dalam kondisi yang amat miskin.

Kesemuanya adalah isu kritis dikawasan perkampungan, menurut Delvalle Rodriguez dan pengurus cucu-nya Ludiz Leiva -seorang ibu rumah tangga dan ibu dari dua orang anak. “Banyak anak gadis yang hamil....banyak sekali...dan narkoba, well, narkoba itu dijual dimana-mana. Anda dapat melihatnya dimana-mana. Kemanapun anda pergi, kemana anda berjalan, kemana anda melintas, mereka menjual narkoba. Mereka [anak-anak] tersesat ujar Rodriguez dan Leiva, menyelesaikan kalimat masing-masing.

Elemen lain dari misi, tertuju langsung secara spesifik kepada kaum Ibu. “Dengan misi ini, kami ingin memberikan bantuan kepada Ibu yang membutuhkan yaitu ibu rumah tangga tanpa penghasilan” kata Presiden Venezuela Hugo Chavez saat ia mengumumkan program ini kemarin di sebuah perkampungan kumuh di kota Vargas

Berdasarkan pernyataan Chavez, pemerintah akan membayar 80 persen upah minimum atau sekitar 180 dollar sebulan kepada para Ibu yang tinggal dalam kondisi yang teramat miskin

Chavez membuat pengumuman bahwa 200.000 ibu rumah tangga berpenghasilan rendah akan menerima gaji pada akhir bulan ini, ia menyatakan bahwa kontribusi ekonomi perempuan ini harus diakui. “Perempuan-perempuan ini melakukan banyak pekerjaan seperti menyetrika, mencuci, memasak, memandikan dan membesarkan anak-anak” kata Chavez.

Menurut Delvalle Rodriguez “Memberikan upah adalah ide yang bagus karena kadang ibu rumah tangga tidak memiliki suami dan yang memiliki suami pun kadang [suaminya] tidak bekerja. Ini menyedihkan. Tinggal disini sangat menyedihkan. Saya memiliki suami namun suami saya tidak bekerja... jadi program ini terlihat menarik bagi saya,” sembari memangku cucunya yang berusia 2 tahun

Namun pengumuman program ini bukannya tidak menuai skeptisisme. Leiva berujar “Seringkali program diawali dengan baik tapi kemudian berakhir dengan buruk. Dan lebih buruk [bila program tidak ada sama sekali]”

Karena beberapa juta perempuan di Venezuela hidup dalam kemiskinan, hanya sejumlah kecil prosentase ibu rumah tangga berpenghasilan rendah saja yang akan mendapatkan upah, sebuah harapan yang tertinggal dan amat menjadi perhatian perempuan adalah mengenai apakah mereka akan mendapatkan akses terhadap program tersebut

“Hal ini mesti menjadi sebuah program bagi rakyat yang sangat membutuhkan, karena ini [bisa jadi akan seperti] saat pemerintah membagikan bahan pangan disini” ujar Rodriguez. Dia mengatakan bahwa ia telah menerima bahan pangan bagian penghabisan yang amat sedikit tatkala pemerintah membagikan bahan makanan diwilayah ini, ia hanya menerima makanan gratis satu kali sementara yang lainnya menerima hingga puluhan kali. Rodriguez menyalahkan orang yang mengatur program untuk [mengatasi] permasalahan. “Presiden menginginkan agar program dijalankan dengan benar diwilayah ini, yang terjadi adalah orang-orang menjalankannya tanpa tahu bagaimana bertindak benar...tidak ada kontrol.”

Semenjak akhir 2003 Venezuela telah berupaya mengimplementasikan lusinan misi sosial yang bertujuan untuk menurunkan kemiskinan melalui memperluas akses pada pendidikan, perawatan kesehatan, bahan pangan berharga murah, dan aktivitas kebudayaan. Misi-misi ini secara umum dilakukan dan menjadi faktor yang berkontribusi terhadap popularitas presiden, yang melampaui 70 persen pada polling terakhir.

30/01/2006

Catatan A. Umar Said

(tulisan ini juga disajikan dalam website

http://perso.club-internet.fr/kontak)

PRESIDEN VENEZUELA HUGO CHAVEZ
MENGANJURKAN PEREBUTAN KEKUASAAN
UNTUK SOSIALISME ABAD KE-21


Barangkali, bagi banyak orang di Indonesia, terutama bagi para pendukung rejim militer Orde Baru, perkembangan situasi di banyak negeri-negeri Amerika Latin yang menunjukkan perubahan-perubahan ke kiri dan anti-AS, merupakan suatu hal baru yang mengherankan atau bahkan mengejutkan. Ini dapat dimengerti. Sebab, rejim militer Suharto telah memaksa rakyat Indonesia, sejak puluhan tahun, untuk bersikap memusuhi politik kiri yang anti-imperialisme dan anti-kapitalisme yang digariskan oleh presiden Sukarno, dan anti-sosialisme atau anti-komunisme.

Perkembangan situasi di Amerika Latin akhir-akhir ini makin menarik perhatian banyak orang di berbagai negeri di dunia, bukan saja karena terpilihnya mantan tapol perempuan (Michelle Bachelet) menjadi presiden terpilih di Cili, atau terpilihnya pemimpin gerakan petani suku Indian (Evo Morales) di Bolivia sebagai presiden yang anti-Amerika, tetapi juga karena aksi-aksi politik yang revolusioner presiden Venezuela, Hugo Chavez.

Sejak perlawanan yang sudah dilakukan Fidel Castro selama puluhan tahun menghadapi Amerika Serikat, maka dewasa ini nampak dengan jelas bahwa sebagian dari benua Amerika Latin sudah - dan sedang - bergerak ke arah kiri. Kalau proses pergeseran ke kiri ini berjalan terus, dan mencakup makin banyak negeri lainnya maka akan mempunyai dampak yang cukup besar di dunia internasional. Sayang sekali, bahwa perkembangan yang penting ini kurang sekali (atau sedikit sekali) diketahui oleh banyak orang di Indonesia. Sebab, media pers Indonesia juga jarang sekali atau sedikit sekali menyiarkan berita-berita tentang perkembangan di benua Amerika Latin ini. Karena itu, bisalah dikatakan bahwa banyak orang di Indonesia yang “ketinggalan” dalam mengikuti perkembangan di Amerika Latin.

PERKEMBANGAN PENTING SESUDAH PERANG DINGIN
Padahal, apa yang terjadi di Amerika Latin dewasa ini, merupakan perkembangan yang amat penting sekali, bahkan terpenting, sesudah terjadinya Perang Dunia ke-II dan selesainya Perang Dingin (dalam bentuknya yang lama). Dalam kaitan ini, perlulah kiranya dicermati bahwa berbagai pemilihan presiden akan diadakan tidak lama lagi di Kostarika (dalam bulan Februari 2006), di Peru (dalam bulan April), Kolombia (bulan Mei), di Mexiko (Juli) dan Nikaragua (November). Dan sejak sekarang banyak orang sudah melihat bahwa sejumlah tokoh-tokoh kiri di sejumlah negara-negara Amerika Latin sedang menjadi makin populer dimana-mana, dan mungkin sekali banyak di antara mereka yang akan terpilih sebagai presiden.

Ditambah dengan posisi tengah-kiri yang selama ini dipegang oleh Argentina, Brasilia, Ekuador, maka boleh dikatakan bahwa tahun 2006 ini akan membawa benua Amerika Latin ke arah yang makin tidak menguntungkan kepentingan imperialisme AS. Sampai akhir tahun 2006 ini akan diselenggarakan pemilihan presiden di banyak negara-negara Amerika Latin (mendekati 10 negara),

Memang, tokoh-tokoh politik kiri atau tengah-kiri di berbagai negeri Amerika Latin itu mempunyai kadar yang berbeda-beda dalam sikap mereka terhadap imperialisme AS atau kapitalisme neo-liberal. Dan, juga, tidak semuanya mempunyai sikap yang sama terhadap sosialisme atau komunisme. Tetapi boleh dikatakan bahwa pada umumnya mereka bukanlah orang-orang kanan yang reaksioner atau tokoh-tokoh yang memihak kepentingan Washington, seperti halnya kebanyakan presiden atau diktator-diktator Amerika Latin di masa yang lalu.

Ini kelihatan dalam sikap Hugo Chavez di Venezuela, Michelle Bachelet di Cili, Lula di Brasilia, Nestor Kirchner di Argantina, Tabaré Vazquez di Uruguay,
Lucio Guttierez di Ecuador, Evo Morales di Bolivia, Ollanda Humala di Peru, Andrés Manuel Lopez di Meksiko, dan Daniel Ortega di Nicaragua

PERAN TOKOH MILITER KIRI
Kiranya, bagi banyak orang di Indonesia, salah satu di antara banyak hal yang menarik dari perkembangan di Amerika Latin adalah adanya tokoh-tokoh militer kiri, seperti mantan Kolonel pasukan para, Hugo Chavez, yang terpilih langsung (dalam tahun 1998) oleh rakyat menjadi presiden Venezuela. Hugo Chavez, yang sangat populer di kalangan bawah rakyat Venezuela dewasa ini merupakan presiden kiri yang terang-terangan mengibarkan bendera anti-imperialisme (terutama AS), dan menentang kapitalisme-internasional dan neo-liberalisme. Ia juga presiden yang dengan jelas dan terang-terangan menjalankan politik yang kiri dan berdasarkan sosialisme.

Ada lagi yang barangkali juga menarik untuk diperhatikan, ialah munculnya seorang pimpinan militer kiri di Peru, Kolonel Ollanda Humala, yang menjadi calon presiden dalam pemilihan umum yang akan diadakan dalam bulan April 2006 ini. Seperti halnya Hugo Chavez di Venezuela, ia juga seorang tokoh di Peru yang sangat populer di kalangan rakyat ( terutama di kalangan suku Indian) dan juga terkenal sebagai pemimpin gerakan yang anti-imperialisme AS. Ollanda Humala disoroti oleh banyak pers Amerika Latin sebagai sahabat dekat Hugo Chavez.

Dengan terpilihnya baru-baru ini Evo Morales sebagai presiden kiri di Bolivia, dewasa ini sudah banyak komentar tentang kemungkinan terjadinya poros anti-imperialis yang terdiri dari Kuba-Venezuela-Bolivia-Peru. Inilah yang sudah ditakutkan oleh pemerintah AS dan sekutu-sekutunya di Amerika Latin. Sebab, dapat dimengerti bahwa terbangunnya poros anti-AS yang terdiri dari 4 negara itu betul-betul akan merupakan tantangan besar atau bahaya nyata bagi pengaruh hegemonis AS di benua Amerika Latin.

Imperialisme AS yang sudah 45 tahun tidak bisa menghacurkan pemerintahan Kuba di bawah pimpinan Fidel Castro, sejak tahun 1998 juga terpaksa harus menghadapi munculnya “pembangkang” keras lainnya, yaitu presiden Venezuela Hugo Chavez. Bagi AS, tampilnya Hugo Chavez sebagai presiden Venezuela betul-betul membikin “sakit kepala” banyak pembesar-pembesar di Washington. Karena,sejak ia terpilih menjadi presiden, ia telah menunjukkan sikap kirinya, yang membela kepentingan rakyat miskin di negerinya, dan melawan kapitalisme internasional.

Oleh karena itu, dalam tahun 2002 CIA berusaha campur tangan dalam kudeta terhadap kekuasaan yang sah presiden Hugo Chavez, dengan menyokong gerakan yang dilancarkan sejumlah opsir-opsir tentara Venezuela dan kapitalis-kapitalis dalamnegeri. Kudeta ini didahului oleh demonstrasi ratusan ribu orang di ibukota Venezuela (Caracas), yang mengepung gedung maskapai minyak negara Petroleos de Venezuela dan istana kepresidenan Miraflores. Berkat dukungan yang besar sekali dari rakyat kepada presiden Hugo Chavez, kudeta yang didalangi oleh imperialisme AS ini hanya berumur dua hari saja. Sebagian besar tentara yang setia kepada presiden Hugo Chavez bersatu dengan rakyat untuk merebut kembali kekuasaan yang sah, dan membebaskan presiden Hugo Chavez yang ditahan di suatu pangkalan militer. (Tentang Hugo Chavez ini banyak hal yang bisa dicermati bersama lebih lanjut pada kesempatan lainnya)

SOSIALISME ABAD KE-21
Salah satu dari berbagai pertanda tentang pentingnya perkembangan di Amerika Latin dapat dilihat dari diselenggarakannya Forum Sosial Sedunia yang diadakan di Caracas antara tanggal 24 Januari sampai 29 Januari 2006, yang dihadiri oleh lebih dari 70. 000 orang dari berbagai negeri di dunia dan sekitar 5000 pekerja pers internasional dan media massa lainnya. Ribuan wakil atau delegasi LSM dari banyak negeri di dunia telah hadir dalam pertemuan besar ini.

Forum Sosial Sedunia di Caracas ini, yang merupakan Forum Sedunia yang ke-6, sebagai kelanjutan yang diadakan di Porto Allegre (Brasilia) dalam tahun 2001 dan yang terakhir di Bamako (Mali) telah menunjukkan corak politik anti-neo liberalisme dan anti-AS yang lebih menonjol dari pada yang sudah-sudah. Forum Sosial Sedunia di Caracas diliputi oleh suasana “kemenangan kiri” di benua Amerika Latin. Selama dilangsungkan Forum banyak dibicarakan orang tentang Kuba, Venezuela, Bolivia, Cili, Argentina, dan perkembangan di Peru atau Meksiko.

Menurut siaran kantor berita Reuters (30 Januari 2006) dalam Forum ini jugalah Hugo Chavez menganjurkan kepada aktivis-aktivis gerakan altermondialis untuk memikirkan pentingnya perebutan kekuasaan. “Hanya dengan merebut kekuasaan kita dapat memulai mengubah dunia”, ujar mantan perwira parasutis ini, yang sejak dipilih menjadi presiden dalam 1998 berusaha menciptakan di Venezuela “sosialisme abad ke-21”.

Ketika menerima para wakil organisasi-organisasi sosial dalam Forum, presiden Hugo Chavez mengatakan bahwa walaupun Forum Sosial merupakan bagian dari gerakan untuk menentang neo-liberalisme kita perlu mendampinginya dengan strategi untuk merebut kekuasaan politik. Dalam kaitan ini ia menyebutkan sebagai contoh pemilihan bulan yang lalu Evo Morales, seorang pemimpin gerakan tani dan pembela hak-hak masyarakat Indian, sebagai presiden Bolivia.

Dengan mengutip Ernesto “Che” Guevara yang dibunuh di Bolivia tahun 1967 ketika ia berusaha membentuk basis-basis gerilya, Hugo Chavez menyatakan harapannya akan munculnya satu, dua atau tiga Bolivia di Amerika Latin, untuk menentang politik neo-liberal dan juga “buas” dari Washington.

BUSH TERORIS PALING BESAR
Sikap anti-AS yang dimiliki Hugo Chavez sejak lama sebelum jadi presiden, kelihatan sekali selama Forum Sosial Sedunia d Caracas. Berkali-kali ia mengutuk imperialisme AS, dan mengatakan bahwa Bush adalah “teroris yang terbesar di dunia”.

Di depan para wakil organisasi-organisasi sosial yang datang dari berbagai negeri di dunia ini, Hugo Chavez menempatkan dirinya sebarisan dengan pahlawan nasional Simon Bolivar, yang menjadi sumber inspirasi bagi revolusi yang sedang berjalan di Venezuela dan negeri-negeri lainnya. Hugo Chavez mengatakan bahwa “orang-orang gila” seperti dirinya dan Fidel Castro akan menciptakan “integrasi Amerila Latin” dan mengajak Forum Sosial untuk menempuh jalan “sosialisme abad ke –21”.

Mengingat sikapnya yang terang-terangan makin keterlaluan anti-AS ini, banyak orang menduga bahwa Washington tidak akan membiarkan terus Hugo Chavez menjalankan politiknya untuk membentuk poros Kuba-Venezuela-Bolivia, atau untuk membantu munculnya satu, dua atau tiga Bolivia lainnya di Amerika Latin. Hal-hal yang tidak terduga masih bisa saja terjadi atas diri Hugo Chavez dan kekuasaannya, baik yang berupa aksi-aksi subversi, sabotase ekonomi atau diplomatik, atau bantuan gelap lainnya untuk terjadinya lagi kudeta dll dll.

Sebagai negara yang cukup kaya dengan sumber minyak setengah dari pendapatan negara Venezuela adalah dari minyak. Produksi minyak mentah tiap harinya sekitar 3 juta barrel dan 75% -nya diekspor. Pendapatan devisa dari hasil ekspor minyak berkisar antara 3 miliar dan 4 miliar dollar US setahunnya. Venezuela adalah eksportir minyak nomor 5 di dunia, dan 13% kebutuhan minyak AS tiap harinya.disupply oleh negaranya Hugo Chavez ini.

Jadi, jelaslah bahwa minyak merupakan urat nadi untuk negara dan rakyat Venezuela. Hal ini jugalah yang menyebabkan negara ini menjadi sorotan dan perebutan kepentingan berbagai fihak. Tetapi, presiden Hugo Chavez sudah menunjukkan selama ini bahwa Venezuela di samping menggunakan hasil kekayaan buminya untuk pembangunan “sosialisme Bolivar” bagi kesejahteraan dan kemajuan rakyatnya, juga untuk membantu negara-negara lain, seperti Kuba, Bolivia dan Argentina.

Dengan semangat ini pulalah maka Hugo Chavez memberikan dana yang besar untuk terselenggaranya Forum Sosial Sedunia di Caracas itu, yang merupakan forum ideal baginya untuk menyebarkan gagasannya tentang “sosialisme abad ke-21”, tentang perlunya gerakan-gerakan sosial di berbagai negeri ditingkatkan mengarah kepada perebutan kekuasaan seperti yang dilakukan oleh Evo Morales di Bolivia, tentang “Bush adalah teroris terbesar di dunia”.

Yang tersebut di atas adalah sekadar sekelumit hal-hal tentang Forum Sosial Sedunia, tentang Hugo Chavez, tentang “revolusi Bolivar”, tentang “sosialisme abad ke-21” , tentang Amerika Latin yang bergeser ke-kiri. Kiranya, bagi banyak orang di Indonesia (dan juga di luarnegeri!) ada baiknya untuk selanjutnya mengikuti - kadang-kadang atau sewaktu-waktu – perkembangan situasi di negeri-negeri Amerika Latin. Sekadar untuk bahan pengetahuan, atau untuk bahan renungan.

Memang, situasi dan persoalan-persoalan yang terdapat di Indonesia banyak yang berbeda dengan yang ada di Venezuela atau di negeri-negeri Amerika Latin lainnya. Di Indonesia, rejim militer Suharto sudah menjadikan imperialisme (AS, terutama) sebagai sekutunya dalam menghancurkan kekuataan politik Presiden Sukarno beserta pendukungnya yang utama ,yaitu Partai Komunis Indonesia. Berlainan dengan militer di bawah Hugo Chavez (dan nantinya mungkin militer di Peru di bawah Kolonel Ollanda Humala), militer Indonesia -terutama TNI-AD - dipaksa untuk mengambil posisi reaksioner yang anti-Sukarno dan anti-komunis.

Dalam hal-hal tertentu, tokoh besar dan “bapak revolusi” Amerika Latin, Simon Bolivar, ada persamaannya dengan Bung Karno, tokoh nasionalis kiri, yang pernah menjadi “bapak revolusi” bangsa Indonesia. Sayang sekali, bahwa tokoh besar bangsa Indonesia ini dikhianati oleh para pendiri dan pendukung Orde Baru.

Barangkali dari sudut inilah kita bisa melihat bahwa revolusi di Amerika Latin bisa akan memberikan dorongan yang penting untuk terjadinyua perubahan-perubahan penting di dunia nantinya. Slogan yang sudah mulai berkumandang di banyak negeri “L’autre monde est possible” (Another world is possible – Dunia yang lain adalah mungkin ) mulai makin terdengar lebih lantang dan lebih luas lagi !!!

Paris, 30 Januari 2006

(tulisan ini diambil dari milis indomarxist)

21/01/2006

Pegawai Negeri Venezuela Menerima Kenaikan Gaji

Pegawai Negeri Venezuela Menerima Kenaikan Gaji

Ditulis Oleh: Simone Baribeau Sabtu, 21 Januari 2006

Bagaimana Indonesia? [i]



Pengantar Penterjemah [ii]


Demonstrasi kaum buruh menuntut kenaikan upah—setelah beberapakali sebelumnya pun diawali dengan demonstrasi para guru (pegawai negeri) menuntut kenaikan gaji—merupakan refleksi politis terhadap tata perekonomian dan politik pemerintah SBY-Kalla yang sedang mengalami krisis. Konsep pengupahan dan ekonomi mikro perusahaan—adanya kenyataan bahwa para pengusaha khususnya menengah-kecil juga terkena dampak krisis ekonomi saat ini—harus segera dibongkar, hingga secara objektif—seharusnya—mengakibatkan pembongkaran kebijakan ekonomi makro secara keseluruhan.

Artikel berikut dimaksud untuk memancing diskursus jalan keluar atas persoalan upah. Yang bila lebih lanjut diperdalam—melalui bacaan-bacaan terkait—membimbing pembaca untuk menjawab pertanyaan sederhana berikut: "Model ekonomi seperti apa hingga bisa menjamin kenaikan upah, bahkan, dikala inflasi tinggi?" (zy)

Silahkan kunjungi
http://www.prd-online.or.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=115&Itemid=0

09/01/2006

Viva la revolucion!

Viva La Revolucion!

09 January 2006 (Al-Jazeera) via handsoffvenezuela mailinglist


George W Bush adalah teroris terbesar dunia dan jutaan penduduk Amerika menyokong prinsip-prinsip Presiden Venezuela Hugo Chavez, hal ini dikemukakan oleh Harry Belafonte, seorang penyanyi dan aktivis HAM

Belafonte memimpin delegasi Amerika yang bertemu dengan Presiden Chavez selama lebih dari enam jam pada hari Sabtu lalu (7 Januari 2006). Beberapa orang yang ada dalam rombongan adalah termasuk Dany Glover – aktor, dan Cornel West – Akademisi dari Universitas Princeton, menghadiri siaran televisi dan radio Presiden pada hari minggu.

“Tak peduli apa yang dikatakan oleh George Bush, seorang tiran sekaligus teroris terbesar didunia, kami disini untuk mengatakan kepada anda: Bukan ratusan, bukan ribuan, tapi jutaan rakyat Amerika...mendukung revolusi Venezuela,” Belafonte mengatakan hal tersebut pada saat siaran.

“Kami menghargai anda, menghormati anda dan kami menyatakan solidaritas penuh terhadap rakyat Venezuela and Revolusinya”

Anti Imperialisme

Chavez menuduh Bush mencoba menggulingkannya, menunjuk pada sebuah dokumen intelejen yang dikeluarkan oleh US yang mengindikasikan bahwa CIA mengetahui sebelumnya mengenai rencana kudeta (yang berlangsung singkat) tahun 2002. US menolak tuduhan tersebut, namun Chavez menyatakan bahwa venezuela mesti dijaga

“Kita mesti mengalahkan imperialisme untuk menyelamtkan diri kita – dan tidak hanya diri kita sendiri, namun juga menyelamatkan dunia” tandas Chavez. Dia menyebut Bush sebagai “Tuan Berbahaya”

Belafonte, sekarang berusia 78 dan terkenal untuk calypso-musik inspiratif, termasuk lagu the “Day-O”-nya yang amat populer (lagu kerja tradisional dari Jamaika untuk para pekerja pelabuhan yang mengangkut pisang ke kapal untuk diekspor:pentj) , dulu berkalobarasi dekat dengan Martin Luther King dan saat ini ia adalah Duta Besar Keliling UNICEF. Dia juga mengkritisi embargo Amerika terhadap Kuba

Revolusi Bolivarian

Menghadiri program “Halo presiden” yang disiarkan langsung dari pertanian kemitraan, sebelah barat daya Caracas, Belafonte mengatakan dia baru saja mengerti mengenai “Revolusi Bolivarian” Chavez, yang termasuk cakupan luas dari program sosial bagi rakyat miskin dan dinamai Simon Bolivar, pahlawan kemerdekaan Amerika Selatan.

Dia mengatakan bahwa Media Amerika telah menggambarkan Chavez seperti seorang ‘diktator”, padahal Venezuela adalah Demokrasi dan rakyat Venezuela “optimis dengan masa depan mereka”

Selama kunjungan para delegasi, mereka mengunjungi penjara dan bicara pada orang-orang di jalan – mendengarkan kritikan sekaligus pujian bagi pemerintahan. Untuk bisa mengkritik, kata Belafonte, “adalah kejujuran sesungguh-sungguhnya dari sebuah demokrasi”

Chavez memanggil Belafonte dengan sebutan “saudaraku” dan berkata bahwa dia amat percaya pada perjuangan untuk keadilan kaum kulit hitam di Amerika –utara dan selatan.

“meski kita mungkin tidak mempercayainya, diskriminasi terhadap kulit hitam disini masih terus berlangsung,” kata Chavez, mendesak pemerintah untuk bekerja dua kali lipat lebih keras untuk menghapuskannya
Belafonte menyarankan untuk membuat sebuah pertukaran pemuda antara rakyat Venezuela
dan rakyat Amerika untuk saling belajar satu sama lain. Dia mengakhri dengan berteriak: “Hidup REVOLUSI!”

Diterjemahkan oleh Ayala Zikhra

Sumber:
Handsoffvenezuela Milist
Mon, 9 Jan 2006 08:18:43 -0500 (EST)

12/12/2005

Kedaulatan Venezuela Mesti Dihormati

Kedaulatan Venezuela Mesti Dihormati

Venezuelan Analysis

Senin, 12 Desember 2005

By: Nadine Gordimer, Salim Lamrani, Noam Chomsky, Adolfo Pérez Esquivel and José Saramag


Semenjak Hugo Chavez menduduki jabatannya, serangan terhadap demokrasi Venezuela meningkat dengan bukti-bukti mencolok yang menunjukkan campur tangan Amerika.

Pada 11 April 2002, Presiden Chavez menjadi korban kudeta yang didukung oleh Amerika berkolaborasi dengan sektor anti demokrasi kelompok masyarakat Venezuela. Kurang dari 48 jam kemudian, junta pro kudeta ditolak dengan mobilisasi rakyat yang tiada lelah sehingga berhasil meminta kembalinya pemerintahan negara yang syah.

Para oposisi tentu saja tidak senang dengan kegagalan ini dan kemudian mencoba untuk memboikot industri minyak pada bulan Desember 2002 –yang fungsinya teramat vital bagi negara- sehingga menyebabkan kerusakan besar terhadap ekonomi Venezuela.

Pada bulan Agustus 2005, pada program yang rating-nya tinggi di US, Pendeta Ultra Konservatif Pat Robertson –yang amat dekat dengan para ideolog di White House- membuat seruan untuk membunuh pemimpin Venezuela Hugo Chavez tanpa kemudian mendapat masalah dengan hukum Amerika. Membunuh Hugo Chavez “akan menjadi lebih murah ketimbang memulai sebuah perang” Pat Robertson menyatakan.

Pada bulan September 2005, Presiden Hugo Chavez mengumumkan kepada pihak luas mengenai keberadaan beberapa rencana kekuatan militer Amerika untuk menginvasi Venezuela. Washington nampaknya tidak akan berhenti untuk menstigmatisasi pemimpin Venezuela seakan-akan ia adalah “sebuah kekuatan negatif” untuk keamanan benua Amerika

Pada bulan November 2005, Jose Luis Rodríguez Zapatero (presiden Spanyol) mendapatkan tekanan yang besar karena US tidak ingin Spanyol untuk menjual senjata kepada Venezuela. Dari hal tersebut Washington telah memperlihatkan penghinaan secara terang-terangan terhadap aturan-aturan diplomatik dan hubungan intenasional

Sepanjang enam tahun terakhir, oposisi Venezuela telah menderita tujuh kali kekalahan pemilu secara berurutan, belum lagi kampanye media yang diorganisir untuk melawan pemerintahan Chavez.

Menghadapi hal-hal demikian, para oposisi –yang telah kehilangan basis rakyat- memutuskan untuk memboikot pemilu parlemen dengan tujuan untuk melemahkan proses demokrasi. Kecurigaan jatuh terhadap US, yang dinilai menjadi penghasut upaya-upaya baru penciptaan ketidakstabilan ini

Oposisi Venezuela, – yang menerima dana dari Washington – menyangkal aturan pemilihan dan membuat demokrasi tersandera. Hal ini tak dapat diterima!

Kedaulatan rakyat Venezuela mesti dihormati karena masa depan bangsa tidak diputuskan di White House (Washington DC) namun di kotak-kotak suara Bolivarian!

(diterjemahkan oleh Ayala Zikhra 13 dec 05 10.05 am)